Sukin - Araaita.com

Breaking News

Friday, 30 October 2015

Sukin

Temaram lampu jalan masih bertahan untuk menyala di tengah lalu lalang kendaraan yang hampir tak terlihat itu. Ramai dan sesak padahal hanya melihatnya saja. Bahkan diantara mereka juga ramai terdengar jeritan kendaraan yang tak sabar untuk segera mendapat jalan. Meski begitu tetap saja tak ada yang dapat membelah dan memberi celah pikiranku untuk sekedar lewat dan merasa sunyi. Mungkin hanya aku, pekerja yang tidak sesibuk mereka yang sedang duduk di kursi empuk di belakang setir bulatnya. Aku bersantai jongkok di pinggir jalan bahkan tak jarang aku tersenyum melihat ulah mereka yang saling menyalip tak akur. Mereka tidak tahu saja jalanan ini seperti apa saat pagi dan siang hari. Aku Sukin yang sangat mengerti betapa jalanan ini sama susahnya setiap hari, sama keras dan pahitnya yang selalu ku telan hinga turun ke uluh hati.
Sabar dulu toh mas ini juga masih disiapkan.
Itu pasti suara Susi yang sedang melayani suaminya sang Sudi yang tak berguna, tentu saja tanpa cinta. Suaranya terdengar dari dalam rumah, lebih tepatnya bangunan yang tertutup kayu dan kardus-kardus tebal, setidaknya masih di atas tanah.
Tidur malamku berkawan dengan gigitan nyamuk dan suara bising rengekan anak mereka, aku bergulung di kasurku. Yang ku sebut kasur adalah tumpukan Koran dan kardus hasil aku menemukannya. Apa yang membuatnya terus menangis adalah karena dia melihat ibunya menangis. Menangis pedih di dalam rongga dadanya sendiri. Memejamkan kedua mata dan sesak hingga fajar, sedang yang lain akan tetap larut di istana mimpi-mimpi mereka yang tak ingin kunjung kembali sekadar untuk menenangkan bayi mereka.
Aku masih terjaga bahkan mata ini kering dan perih, aku memikirkan kira-kira apa yang harus aku lakukan untuk pekerjaanku besok karena pasti melelahkan. Apa aku terlalu lama berkutat pada karir ini sehingga untuk menyeka keringat saja aku harus menunggu ada kain perca yang terbuang tak sengaja.
Tetesan air hujan yang hanya sebutir-sebutir itu kini nyaring sekali masuk ke gendang telingaku. Sampai aku bisa melihatnya mengalir melewati kerongkonganku yang makin sakit tertahan. Aku tertidur diantara kenyataan yang tak kunjung hadir rasa manisnya. Aku masih menunggu rasa manis itu hingga kini, ku tulis besar-besar di otakku bahwa aku tidak akan lari bahkan meskipun badai kesengsaraan ini terus mengejarku dan meminta pertanggung jawaban atas yang terjadi. Karena sejauh apapun itu rasanya tidak akan pernah mampu menggali dan menemukan dimana hakku berada, ada dimana hal yang disebut hak itu. Aku hampir tak mengenalnya.
Tidur aja mas besok dipikir lagi hidupnya ini.
Suara Susi yang tadinya sesenggukan sekarang sudah bernada halus. Aku hanya memandangnya dan detik berikutnya Susi hanya tersenyum dan kembali meneruskan aktifitas malamnya. Mungkin tak hanya aku yang menganggap Susi perempuan ayu  yang bodoh, mau maunya dia bersanding dengan Sudi yang tidak pernah memberikan apa-apa padanya walau sekedar sapaan halus setiap pagi atau malam. Aku mulai mengerti bagaimana roda kehidupan berputar, sedang yang lain asik berputar di dalamnya. Kami ini terlindas roda-roda kehidupan mereka yang berputarnya sungguh diluar dugaan.
Suara pagi membangunkanku rupanya sang penguasa pagi dan siang sudah naik ke singgasananya. Sudah menggunakan mahkota teriknya, dan ditemani rasa gundah dan laraku yang tetap bergelayut mesra di dalam dada. Aku tak merasa beruntung pagi ini.
“apa kamu tidak bekerja kok bisanya ngebo ini sudah jam berapa? harusnya kamu bekerja karena kamu laki-laki. Apa kamu gak sadar kalau kita ini susah bukannya malah bangun mencari uang, kamu malah sibuk merangkai mimpi yang gak seberapa itu.
Suara itu seperti suara perutku yang mulai lapar, lebih tepatnya dia merasa dia bukan laki-laki atau dia sedang menyamar menjadi seorang ibu-ibu tua tak tahu diri. Memangnya apa yang sudah dia lakukan. Membeli berapa karung emas hingga menyebutku seperti itu. Memang kakak tak tahu di untung menghamili anak orang dan tak bekerja untuknya. Yang setiap pagi istrinya itu bekerja dan malamnya menangis, sedang anaknya jajanpun tak pernah ia rasakan, hanya menjilati ingus hijaunya yang tak kunjung surut entah sejak kapan.
Kalau pulang nanti bawakan makanan.
Kalimat itu tak pernah berganti setiap harinya, atau bertambah dua huruf saja menjadi “kalau pulang nanti ku bawakan makanan” dan itu tak akan pernah terjadi sampai kapanpun sepertinya.
Aku berangkat menjadi pria karir dan mengenakan pakaian dinasku yang hanya satu ini. Meski ku lihat tak ada gambaran harapan indah sejauh aku melihat diriku sendiri. Hanya seperti gumpalan keras menghantam perutku dan ku rasakan kecewa yang mendalam atas apa yang terjadi padaku setiap harinya. Ini bukan tentang bagaimana aku kaya dan menikmati kasur atau kursi empuk yang biasa aku lihat di tempat pembuangan sampah. Tapi ini tentang bagaimana aku tetap bisa bernapas untuk dapat tetap bekerja menghidupi mereka.
Maaass Sukiiin, mas tunggu..” Teriakan Situ adik laki-laki ku dan memang aku tidak punya adik perempuan.
Ini kesekian kalinya aku bertemu dengannya karena tak setiap hari ia pulang. Ia lebih memilih kerja dengan tak cepat pulang karena sama halnya denganku yang lelah mendengar suara jeritan pagi Si Sudi. Lagi-lagi ia lebih banyak bercerita kebahagiaannya bersama pacarnya, pacar barunya, pacar lamanya. Aku yakin gadis yang ia sebut-sebut sebagai pacarnya itu pasti juga sama pengamennya dengan Situ. Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum karena apa asiknya berpacaran seperti itu. Karena bagiku gadis cantikku adalah pekerjaanku, meskipun rambut panjangnya yang indah kini tak seindah dulu hingga tak memberiku penghidupan yang layak.
Air hujan yang semalam menetes itu kini menggenang di pingiran jalan berlubang, sama seperti lubang-lubang sebelumnya di pikiranku yang terisi air kebingungan tanpa jawaban. Aku masih semangat untuk terus hidup agar tak jadi seperti roti basi, makanan lembab yang sering ku makan. Bagiku itu makanan yang dimakan orang-orang kaya di sekitarku, apa mungkin mereka tak sadar bila aku ikut memakannya walaupun yang sudah berlabel basi. Lantas darimana kesengsaraan itu dimulai karena bahkan aku memakan makanan yang sama dengan mereka. Bedanya, mereka mendapatkannya dengan cara-cara yang basi. Sudah sering dibicarakan sana sini.
Mas gimana kabarnya, aku sekarang pindah markas mas. Nanti kalau mau kesana tak kenalin sama Sindi ya. Mas jangan cuman setuju saja sama pilihanku, lihat dulu gimana bibit, bebet, bobotnya. Biar aku gak salah pilih mas.
Aku hampir pingsan mendengarnya, diantara pekerjaan payahku, keringat yang tak mau mengalah dan perut lapar yang tak mau mengerti. Diantara debu dan teriknya matahari siang itu. Situ, adikku satu-satunya berkomentar tentang kualitas seorang gadis dibawah umur yang dari kalimatnya itu seakan ia akan menikahinya. Aku sering berpikir betapa ironis dan payahnya aku ini tapi ada yang lebih mengharukan ternyata. Dan tidak ada satu kalimat pun yang mampu menandingi kepercayaan dirinya akan utuhnya suatu kebahagiaan. Memang kubiarkan selama ini, karena dia yang paling tak pernah bisa merasakan kasih sayang emak. Atau sekadar mencium tangannya, karena emak ku kuburkan saat ia masih bayi. Tidak seperti ku makamkan karena hanya sedikit yang tidak pura-pura peduli saat emak tertabrak mobil malam itu. Rasanya seperti itu saat wajah rentanya benar-benar diam tanpa gurat sedikitpun. Saat tak ada lagi tangan yang menengadah di tengah malam sambil mulut yang menyebut Asma-Nya dan terselip nama-nama puteranya disana. Semuanya kini tinggal menjadi ingatan hampa yang melayang seperti sampah plastik beterbangan di hadapanku. Hanya sandal jepit hijau lusuh yang masih kusimpan dan kuciumi setiap akan melakukan apapun setiap harinya.
Tak terasa sepertinya Situ masih tetap terus bercerita. Aku juga, masih tetap berusaha memenuhkan karung yang kubawa sejak dari rumah tadi. Sudah semakin berat gendongan bahu kananku, sepertinya beberapa lagi dan aku bisa mendapat upah. Aku melihat ada botol plastik yang tebal dan besar disana. Agaknya kuambil saja supaya cepat bisa aku pulang.
Maass Sukiiin Ya Allah mas, toloong.
Aku mendengar samar suara adikku.
Wah dasar pemulung gak ngerti aturan, ini tengah jalan mas.
Aku juga mendengar itu, itu sebuah caci maki untukku. Dan suara mobil menderu kencang.
Ayo diangkat mas, dipinggirkan saja.. kasihan...iyaa...yang bisu itu kan...miskin pula..”



Viviana  Putri
Semester 1

Penulis adalah Wartawati di Lembaga Pers Mahasiswa ALAM TARA Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Sunan Ampel Surabaya

1 comment: