Diperdaya Pikiran - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 17 November 2015

Diperdaya Pikiran

Sore yang melelahkan, hari ini pekerja di kebut cukup membuat energiku terkuras, akupun menyandarkan tubuhku pada tembok beton sambil menikmati udara lepas diteras rumahku, bersanding dengan udara dialam lepas, bersama suasana langit yang ramai dengan kelompok-kelompok burung yang terbang  kesana kemari, hendak kembali kesarang setelah perjalanan mereka mencari penghidupan.
“bapak, ini kopinya,” Suara merdu istriku memecah desir suara angin yang masih menghibur lelahku, akupun lantas mengajaknya duduk dan bercengkrama, canda dan gurau pun mulai menghapus lelahku, sore ini begitu terasa damai dengan guratan siluet senja yang merayap menyapa.
Rumahku yang berada tepat disebuah bukit, memanglah tempat yang tepat dan penuh kedamaian, bersama suara-suara alam yang selalu menyapa dan menghibur keluargaku, menjadikan tempat ini seolah surga bagi keluarga kecilku.
Ditengah kedamaian yang mulai menghapus lelahku, terdengar teriakan kencang dari dalam rumahku, “kakak,,,!! dibilangin jagan lewat sini, ini belum kering kakak,” suara putri sulungku mengemah keseluruh ruangan dirumahku.
“kira-kira itu ada apa istriku,”
“Selly sedang mengepel, mungkin Rio sedang berulah,”
“baiklah, anggap saja mereka memang inigin menambah indah rumah ini dengan cara mereka sendiri,”
teriakan-teriakan ini memang sering terjadi dan selalu mengisi keheningan dirumah ini, Rio anak pertamaku, dia memang selalu suka membuat adiknya merasa jengkel padanya.
Tak lama kemudian bersama pel dan embernya, putriku mulai mengepel bagian teras rumah kami, mukanya terlihat sangat jengkel, bibirnya masih manyun dengan keringat yang keluar dari dahinya. “Anak ayah kok cemberut,” kataku sambil tersenyum
“kakak itu yah, masa udah tau aku ngepel malah jalan-jalan, iya kalo kakinya bersih, kakinya kotor ayah, kan bikin aku ngulang ngepel lagi,”
“Apakah kamu ikhlas ngepelnya,”
“Ini kan emang uda tugas, jadi ya harus ikhlas ayah,”
“Kalo kamu ikhlas jagan marah-marah lagi, kalo kamu marah malah kakak akan lebih sering menganggu kamu,”
“Ah ayah,” katanya mengeluh sambil menuruh pel yang selesai di pakai di dekat keran di samping rumah, istrikupun langsung meraihnya dan membantunya untuk mencuci pel tersebut.”Udah semakin sore cepet sana mandi,” kata istriku
Putriku tidak menjawab dia lantas lansung beranjak dan berjalan melewati aku, “Selly, anak ayah itu cantik an tidak suka manyun kayak itu,” kataku sedikit menghiburnya.
Malamnya, keluarga kecilku melakukan hal yang paling penting dalam keluarga ini, yakni makan malam bersama sambil mempererat ikatan kekeluargaan antar individu di rumah ini. Seusai makan Riopun meyodorkan sebuah surat, diatas amplop surat itu kop Sekolah Rio yang ditujukan kepada orangtua Rio.
“Surat apa ini kak,?”
“Pangilan kesekolah,”
“Memangnya apa yang kamu lakukan,”
 “Kakak berantem sama temennya bapak,” kata Selly yang langsung mendahului jawaban Rio.
“Bukan aku yang mulai,” Rio menyangkal dengan nadanya yang penuh Emosi.
“Rio jangan emosi, dijawab saja pertanyaan ayah,” kata istriku yang menenagkan emosi Rio.
“Kemarin aku bercanda sama temenku ayah, dan ada anak yang tersingung kemudian langsung menghajarku, aku ya langsung mukul dia balik, masa aku mau diem aja, nanti dikata cupu lagi,”
“Kenapa kamu malu dikatakan cupu,”
“Nanti yang mengatakan cupu bukan hanya dia, tapi teman-teman yang lain juga,”
“Apa kamu yakin mereka semua akan seperti itu,”
“mungkin,”
Itu masih kemungkinan anakku, harusnya ketika dia memukul kamu, tanyakan sama dia, kenapa kamu marah, aku tak pernah merasa mnyinggungmu, kamu cuma terbawa oleh pikiranmu sendiri,”
“bararti kakak juga terbawa sama pikirannya sendiri ya ayah, sebab kakak melawan karena kakak tidak ingin dianggap cupu,” kata Selly menambahkan.
"Pikiran memang akan mempengaruhi prilaku kita, tapi pikiran tetap akan dapat menunjukkan mana yang baik dan mana yang buruk, asal kita tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan,”
“Berarti aku yang awalnya hanya bercanda, sebenarnya tidak salah ayah, dan yang salah temenku, kenapa dia harus terperdaya oleh pikirannya untuk merasa tersinggung, padahal yang aku bicarakan bukan dia,”
“Tapi kamu tetap juga salah, sebab bercanda yang keterlaluan seperti itu harusnya tidak dilakukan,” tambah istriku dengan mengulus kepala Rio
“ya sudah besok ayah akan datang kesekolah, tapi kamu harus jujur ketika menceritakan apapun yang terjadi, agar kamu bisa mempertangungjawabkan semuanya,”
“Oke siap ayah,”
Pembicaraan keluargaku tak hanya sampai disitu, aku memang mengajarkan mereka untuk selalu memahami apa yang sebenarnya harus dilakukan dalam hidup, mulai dari hal yang paling dasar, aku mencoba menjadikan karakter mereka menjadi orang yang memiliki tanggung jawab terhadapa semua sikapnya.
Esok harinya aku bersama Rio menghadiri undangan dari guru Rio, didalam sudah ada teman Rio yang berkelahi dengannya kemarin, anak itu da orang tuanya sama-sama memasang wajah yang kesal terhada kami “Jangan hiraukan emosi mereka, lakukan saja apa yang semalam sudah ayah katakan,”
Riopun meyapa teman dan gurunya dengan senyum, ia mup mulai memaparkan apa yang sebenarnya terjadi, temanya mulai tau kesalahannya, ia pun meminta maaf kepada Rio, dan  Rio ia dengan suka rela memaafkan temannya, kini mereka tak lagi menjadi musuh. *(Islah)


               






No comments:

Post a Comment