Kampus VS Taman Kanak - Kanak - Araaita.com

Breaking News

Sunday, 29 November 2015

Kampus VS Taman Kanak - Kanak

KAMPUS VS TAMAN KANAK-KANAK
            Kampus dengan Taman Kanak-Kanak (TK) sangatlah berbeda mulai dari tingkat pendidikannya sampai kepada kurikulum yang diberikan kepada peserta didik. Namun apabila dilihat dari realita yang ada, ternyata ditemukan fakta yang cukup mengejutkan. Kampus sebagai lembaga pendidikan tertinggi tidak jauh berbeda dengan TK yang notebene-nya merupakan tingkat pendidikan formal pertama yang dilalui oleh sekian banyak orang yang menyentuh dan mengenal pendidikan.
Sebelum melangkah terlalu jauh dalam membahas sedikit kesamaan kampus dengan TK. Alangkah lebih baiknya terlebih dahulu mengenal dan menyamakan perspektif mengenai definis kampus dan TK. Setelah langkah pertama ini terlewati maka akan terjadi kesepakatan antara penulis dan pembaca bahwa kampus tidak jauh berbeda dengan taman kanak-kanak.
Taman Kanak-Kanak dapat diartikan sebagai jenjang pendidikan formal pertama yang ditempuh anak usia dini yang berusia di bawah tujuh tahun. Kurikulum yang diberikan atau yang ditekankan lebih kepada pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani (kognitif, afektif, dan psikomotorik) supaya anak memiliki kesiapan mental dalam memasuki dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
Ciri khas dari proses belajar-mengajar yang ada di tingkat pendidikan tersebut adalah menghafal. Pada usia tersebut seorang anak sangatlah kuat dalam hafalan. Setiap kali pembelajaran berlangsung pasti ada do’a-do’a yang harus dihafalkan, lirik lagu yang bernuansa anak-anak, huruf abjad, haruf arab dan lain sebagainya. Selain menghafal, biasanya anak-anak diajari membaca dan menulis setiap kali pertemuan dan dikasih tugas dalam meningkatkan keterampilan membaca dan menulis. Taman Kanan-Kanak (TK) selain wadah belajar bagi anak-anak juga sebagai arena bermain.
            Sedangkan Perguruan Tinggi (PT) atau lebih singkatnya bisa disebut kampus. Satuan pendidikan –disebut dengan satuan pendidikan karena di dalamnya terdiri dari beberapa fakultas dan masing-masing fakultas mempunyai berbagai macam program studi dan jurusan– penyelenggara pendidikan tinggi.
Di dalam kampus ada mahasiswa dan dosen. Mahasiswa sebagai peserta didik dan dosen sebagai tenaga pendidiknya. Perguruan tinggi dibagi menjadi dua, yaitu perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta.
Dalam dunia kampus, hubungan antara mahasiswa dan dosen lebih kepada kerjasama dalam menuntut ilmu (belajar). Perbedaan diantara keduanya hanya terletak dipengalaman, dimana dosen lebih dahulu berproses dalam mencari ilmu pengetahuan. Dengan demikian, dosen berposisi sebagai fasilitator bagi mahasiswa dalam meningkatkan kualitas keilmuan yang telah dimiliki atau pun ilmu yang akan diperoleh dalam proses belajar-mengajar yang akan berlangsung selama beberapa tahun.
Dosen bukanlah seseorang yang bebas mengajar apa saja, mengetahui segala hal, mempunyai pemikiran yang cemerlang, menyampaikan segala yang dimiliki tanpa ada Tanya-jawab (ceramah), bebas berpendapat apa saja yang menurutnya benar, dan mengasah kemampuan yang dimiliki. Sedangkan mahasiswa diposisikan sebagai orang yang mempunyai sedikit pengetahuan, hanya bertugas mendengarkan saja, mengikuti setiap apa yang telah disampaikan, tidak boleh berpendapat apalagi membantah, dan hanya sebagai tempat percobaan.
Apabila hubungan diantara keduanya tidak harmonis, artinya terjadi ketimpangan atau perbedaan yang sangat jelas diantara keduanya. Dosen yang bersifat konservatif dalam mengajar sehingga tidak mau menerima masukan dan kritikan yang berupa pendapat dari mahasiswa atau mahasiswa yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan status kemahasiswaannya. Dengan artian bahwa ia hanya duduk di kelas ketika ada kuliah, lalu pulang ketika jam kuliah sudah selesai. Tidak ada usaha darinya untuk membaca buku dan menafsirkan dunia dengan kata-kata, sehingga proses perkuliahan yang dijalani tidak ubahnya seperti ia menjalani pendidikan di Taman Kanak-Kanak (TK).
Dengan demikian, tidak ada peningkatan pendidikan karena proses belajar mengajar dengan cara pedagogi. Orang yang sedang belajar diposisikan sebagai anak-anak yang selalu meminta dan tidak pernah mau  memberi. Ia dianggap sebagai orang yang tidak tahu apa-apa tentang dunia yang fana ini. Seharusnya semakin bertambahnya umur pendidikan yang dijalani oleh seseorang berubah menjadi andragogi, dimana seseorang sudah dianggap dewasa. Ia tidak perlu ditunjukkan dimana yang salah dan dimana yang benar karena ia sudah tahu, yang perlu dilakukan oleh seorang guru adalah memfasilitasi dan menciptakan ruang belajar untuknya. Sehingga ia bisa mengembangkan dan mengasah kemampuan yang sudah dimiliki sejak dini.*(fi)


                                                                                 

No comments:

Post a Comment