Korupsi Masih Merajalela - Araaita.com

Breaking News

Monday, 30 November 2015

Korupsi Masih Merajalela

Negara Indonesia merupakan Negara
hukum, yang mana di dalam Negara tersebut terdapat sistem hukum pemerintahan. Penulis akan sedikit menyinggung tentang hukum yang terdapat di Indonesia, apakah peraturan hukum tersebut masih tetap di pertahankan dan di patuhi oleh Pihak penguasa maupun rakyatnya? Dapat kita ketahui, bahwasanya banyak dari pihak kalangan atas yang sudah lumpuh untuk berkomitmen terhadap peraturan hukum yang  ada di negaranya sendiri. sedangkan mereka rakyat-rakyat kecil disuruh untuk mematuhi peraturan-peraturan yang ada.
Di era globalisasi yang sudah merajalela, mereka Pemerintah Dan Politikus-Politikus sudah lalai dengan tugasnya sendiri bahkan nilai-nilai pacasila yang seharusnya menjadi landasan bagi semua warga negara Indonesia mulai tergerus oleh ulah mereka. Juga banyak ditemukan, para politikus yang malah menggerogoti  uang negara (korupsi) untuk berfoya-foya demi kepentingan pribadi, tanpa memikirkan nasib rakyatnya atas ulah mereka.
Ironisnya, korupsi di Indonesia mulai menjadi ladang industri mereka untuk menimbun kekayaan yang tak semestinya mereka ambil. Sudah banyak politikus yang berkali-kali korupsi dan akhirnya di penjara oleh para aparat yang berwajib. Pasalnya, mereka narapidana karena kasus korupsi malah diberi ruang tahanan yang elit. Jika dibandingkan dengan rakyat kecil yang menjadi tahanan karena kasus mencuri untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari, ruangan yang diberikan jauh berbeda bahkan terbilang kumuh, kotor dan tak layak. Tajam kebawah dan tumpul keatas, itulah istilah yang cocok untuk keadilan di Indonesia menurut penulis.
Seakan nilai yang ada pada sila ke 5 yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” mulai dipertanyakan. Seharusnya para koruptor malu terhadap salah satu tokoh yang berperan penting dalam memerdekakan negara indonesia yakni Ir. Soekarno. Yang mengatakan  “tidak seorang pun menghitung-hitung: berapa untung yang kudapatkan nanti dari republik ini, jika aku berjuang dan mempertahankannya” Ketika berpidato dalam perayaan hari ulang tahun kemerdekaan indonesia (HUT RI) 1963, dalam pidatonya beliau menjelaskan bahwasanya seseorang itu tidak pernah mengetahui seberapa banyak keuntungan beliau miliki ketika menjadi presiden. Beliau selalu mengingatkan, menjadi pejuang itu tidak memandang yang akan di dapatkan namun, justru akan di kenang ketika mempertahankan dan menjaga. Jika bung karno melihat, realita dewasa ini sepanjang tahun semakin terpuruk. Maka pastilah sang proklamator sangat kecewa dan marah melihat penerus bangsa yang tidak berdaya.
Berkaca dengan sejarah sangatlah penting, mengingat bagaimana perjuangan bung karno ketika berperang melawan negara asing untuk memperjuangkan negara Indonesia pada waktu itu. Seharusnya penerus bangsa belajar pada sejara-sejarah dahulu agar negara ini tidak hancur dengan orang-orang serakah seperti koruptor yang sekarang ini masih merajalela di negara kita. Kemunafikan dan perbuatan di dalam negara yang tidak baik perlu dengan kesadaran diri sendiri. Tak cukup dengan membangun kesadaran, namun juga di imbangi dengan gerakan hati atau tindakan rasa nasionalisme kepada tanah air dan memulihkan kembali sistem hukum yang ada di indonesia. dengan cara mematuhi peraturan sesuai dengan nilai-nilai pancasila yang terdiri dari lima tipe, serta melayani masyarakat dengan adil, tidak korupsi dengan uang rakyat. *(Lina)


No comments:

Post a Comment