Maaf, Aku Memang Tak Berguna - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 18 November 2015

Maaf, Aku Memang Tak Berguna

“Hei jelek!!! Apa yang kau lakukan di sini??!! Keberadaanmu hanya merusak pemandangan yang indah”
“Hei cecungut!! Dari pada kau merusak mood kami, lebih baik kau bawakan tas-tas kami ke dalam kelas! Dasar LAMBAN!!”
“Hahahah...”
“Aku heran. Bagaimana orang tuamu melahirkanmu dulu hingga kau mempunyai wajah yang jelek, postur badanmu yang pendek dan gempal juga membuatmu menjadi lamban!!”
“Baik, aku akan membawa tas-tas kalian kedalam kelas...”
Namaku Wawan, Wawan Hariyanto lengkapnya. Aku adalah seorang siswa di salah satu sekolah menengah atas atau SMA di daerahku. Aku berasal dari keluarga golongan menengah ke bawah. Aku hanya hidup berdua dengan ibuku karena sejak umurku lima tahun mereka sudah bercerai dan hak asuhku di ambil oleh ibuku. Aku juga hanya bisa tinggal di daerah yang kumuh karena faktor ekonomi yang tidak mendukung. Tapi aku tetap bersyukur karena masih bisa bersekolah sampai SMA walaupun dengan peralatan atau atribut sekolah yang seadanya, dan aku berharap masih bisa melanjutkan sekolahku hingga jenjang perkuliahan nanti.
Bagi anak sekolah seumuranku, mempunyai teman akrab atau setidaknya teman sekolah yang mau di ajak bermain adalah sebuah kebutuhan. Bermain, belajar bersama, dan melakukan aktifitas lain bersama teman sekolah bagiku adalah sebuah kebutuhan yang tidak terelakkan, jika aku memiliki wajah dan postur tubuh yang normal. Tapi sayangnya aku tak mempunyai semua hal tersebut.
“Hei KURCACI HUTAN!!! Di mana kau letakkan tasku dan tas teman-temanku tadi??”
Yah, KURCACI HUTAN. Itu adalah julukan yang mereka beri untuk memanggilku sehari-harinya. Bagi mereka itu wajar, mereka berikan nama “kurcaci hutan” untukku, karena memang seperti itu keadaannya. Ukuran tubuh kurcaci yang tidak lebih tinggi dari anak SD kelas enam ada dalam diriku. Selain itu aku memiliki volume badan yang luas alias gembrot, dan kutu buku dengan kaca mata bualt jaman dahulu yang selalu menempel di wajahku seperti binatang fertebrata. Setidaknya itu yang mereka katakan.
Aku tak memiliki kekuatan untuk melawan mereka karena aku ini hanya seorang anak yang lemah dan tidak mempunyai teman. Tentu saja mereka tidak ingin mempunyai teman buruk rupa seperti aku.
“Aku pulang. Ibu masak apa?!! AKU LAPAR!! BBRRUUAKK” aku membanting pintu.
“iya nak, sebentar...”
“Ibu. Aku ingin pindah sekolah saja! Sekolah di sana nggak enak! Sekolahnya juga kurang bermutu, pun murit-murit di sana semua membosankan.” Desakku pada ibu.
“Kenapa harus pindah sekolah, toh kamu juga sudah kelas tiga. Sebentar lagi kan sudah waktunya kelulusan. Kamu yang sabar ya nak. Lagian keuangan kita sekarang juga lagi memburuk. Akan sangat tidak mungkin jika harus pindah sekolah.kamu tahu sendiri kan nak, ibu hanya bekerja sendirian.” Jawab ibuku dengan sabar.
“Aaaaakkkhhh!!! Kenapa sih ibu gak pernah ngertiin aku. Mangkanya ibu cari uang yang banyak dong biar aku bisa sekolah dengan tenang. Kalu perlu ibu malam juga kerja dong!!!”
BBRRUUAKKK!!!!!!
Aku menonjok dinding rumahku. Sebenarnya, kau tak ingin mengatakan itu semua bu. Maafkan aku bu. Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Aku hanya di jadikan samsak buk. Sasaran pukulan. Aku juga hanya dijadikan buruh untuk mereka yang mempunyai kekuasaan di kelas. Maafkan aku bu. Bukan maksutku memaki ibu seperti itu. Aku sayang ibu.. aku mulai menangis.. dan aku yakin ibuku jugaa...
Tapi..aku benar-benar sudah tak tahan lagi bu..
“wawan kecil! Bisakah kau berdiri di belakang garis putih itu? Aku ingin melatih ketepatan tendanganku. Jadi, tolong bantu aku. Dan kamu harus menjadi sasaran latihanku. Oke?!” katanya degan senyum menyeringai.
Ssrruuuutttttt!!! Duak!!
Hah?? Apa yang terjadi?? Saking takutnya, aku menutup mataku, dan apa?? Bolanya tidak mengenaiku??
“HAH!! Kamu payah wan!! Kenapa kau tidak terkena tendanganku?! KAU MEMBUATKU KEHILANGAN UANG TARUHANKU!!”
“Sudahlah kawan. Sekarang giliranku yang menendang bola ini. Dan ku pastikan kali ini bolany atidak akan meleset.”
Srrwwwuuuuuuttttt!!! Djuakkk!! Pyarrrr!! Wooooooooooo!!!!
“auuhhhh.. kepalaku..aku tak bisa merasakan kepalakuu... oh tidak!! Kaca mataku PECAAHH!!”
“HAHAHAH...aku menang!! Wooohhoooooo... sekarang uang taruhan itu akan menjadi milikku,”
“Hei mick!! Itu hanya kebetulan saja!! Aahhhhh.. KURCACIII!!!! Gara-gara kau! Uang taruhanku hilang! Kenapa kau bisa terkena tendangan si blasteran ituu..bukan akuu, bosmuu!! Oh, aku tahu. Kau sengaja yah??!!! Kupukul kau!!”
Tiba-tiba ibuku muncul dan membelaku...
“HEI ANAK MUDA!! APA YAMG KAU LAKUKAN PADA ANAKKU!! KAU SUDAH MEMUKULINYA!! DASAR ANAK NAKAL!! SINI KAU BIAR KU PUKUL!!”
“IBUUUUUU... sudah berhenti ku bilang!! Ibu jangan ikut campur urusanku!!ini urusan anak muda!!ibu jangan pernah ikut campur urusanku!!SUDAH!! lebih baik ibu pulang saja sana!!”
Aku bisa melihat mata ibu yang berkaca-kaca. Ibuku menangis. Aku membentaknya?!. Maafkan aku ibu. Aku tidak mau ibu malu karena aku. Dan aku hanya bisa menangis dalam diam.
Sore harinya, ketika aku pulang ke rumah yang pertama ku pikirkan hanyalah satu, “MINTA MAAF PADA IBU”. Ketika aku mulai masuk ke dalam rumah, aku mencari di mana ibu berada sekarang. Lalu aku melihatnya, ibu sedang terbaring di atas tempat tidurnya. Aku mulai menggoyangkan tubuh ibuku. Sekali, dua kali, tiga kali. Ibu belum juga bangun. Tidak biasanya, fikirku. Kemudian aku pegang kepalanya dan, ALLAHU AKBAR!! Ibuku demam tinggi. Aku berusaha menggoyang-goyangkan tubuhnya lagi dan lagi.
“Wawan.., apakah itu kau nak?? Wawan anak ibu??”
Terlihat jelas bekas gulir air matanya yang belum mengering, hingga memenuhi seluruh wajah tua ibuku.
“wawan minta maaf pada ibu..wawan tidak pernah bermaksut membentak ibu, wawan hanya...”
ssssssstttt... sudah. Ibu tadi ke sekolahanmu karena ibu baru saja mengurus surat pindah sekolahmu. Dan ibu ing-in mene-mu-i mu un-tuk mem-beri kan uang un-tuk mu, a-gar kamu bi-sa memi-lih sekolahan yang kamu sukai. Maaf. Ibu tidak bisa menemanimu lebih lama lagi nak...”
IBUUUUUUUUUUUU!!! JANGAN TINGGALKAN AKUU!!


No comments:

Post a Comment