Alasan Mahasiswa Pilih Golput - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 10 December 2015

Alasan Mahasiswa Pilih Golput

araaita.com - Pilkada telah dilaksanakan secara serentak di berbagai daerah di Indonesia, tepatnya pada tanggal 9 Desember 2015, fenomena yang sering terjadi dalam kegiatan tersebut adalah banyaknya masyarakat yang memilih untuk menjadi Golongan Putih (golput), parahnya golput dalam kegiatan ini bukan hanya dilakukan oleh masyarakat saja, namun mahasiswa pun ikut melakukan golput.
“aku ce golput aja,” cetus AM salah satu mahasiswa UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu. AM selaku seorang mahasisiwa mengaku lebih memilih golput disebabkan oleh keberadaan dirinya, mahasiswa urban itu mengaku bahwa ia tidak dapat pulang  ke kampung halaman di Jawa Tengah, untuk itu mahasiswa ini lebih memilih untuk golput. “Gak ada uang buat pulang, jadi ya gak usah ikut coblosan aja,” jawab Mahasiswa asal Pati itu.
                Selain AM, golput juga dilakukan oleh MN, salah seorang mahasiswa dari Lamongan ini mengaku bahwa ia lebih suka golput dari pada harus ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), ia mengatakan bahwa ia tidak ingin memilih pemimpin yang salah, sebab menurut pengalamannya ketika ia pernah menyampaikan aspirasinya dalam Pilkada ia mengalami kekecewaan. “Aku Golput karena aku kecewa sama pemimpin yang terpilih, toh kehidupan masyarakat masih kayak ini aja,” kata mahasiswi bertailalat di bawah bibir itu.
                Selain dua alasan diatas ada pula alasan yang sangat menunjukkan bahwa ia adalah mahasiswa, LF seorang Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya ia golput, pada tahun ini ia juga sedikit menyesal sebab tidak bisa bersuara, namun keadaan menuntutnya untuk tetap diam, sebab ia pun tak mampu untuk pulang kerumahnya dan turut berpartisipasi dalam Pilkada itu. “Rumahku ce lumayan dekat, tapi tugasku banyak, lebih baik golput aja,” ungkapnya.
                Dari berbagai alasan di atas, ternyata ada pula mahasiswa yang memiliki alasan matrealistis, sebagai mahasiswa ia mengatakan bahwa adanya Pilkada itu baik, namun ia tetap memilih untuk tidak melaksanakan haknya tersebut, sebab hal itu tidak akan memberi keuntungan bagi dirinya. “Nyoblos ce bagus, tapi ngapain juga aku nyoblos, aku loh gak dapat apa-apa, ya realistis ajalah,” kata mahasiswa Sosiologi UINSA. *(Lahul)
               

                

No comments:

Post a Comment