Hilangkan Mental “Miskin” melalui Dakwah Pemberdayaan - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 3 December 2015

Hilangkan Mental “Miskin” melalui Dakwah Pemberdayaan

                         
Berdakwah merupakan suatu hal yang di wajibkan oleh Allah SWT bagi setiap individu muslim untuk mejalankannya. Seperti yang tertuang dalam surah Ali-Imran ayat 104 yang artinya “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.
Namun persoalannya yang muncul pada era sekarang, para penda’i masih menggunakan paradigma dakwah dengan model lama, dengan model ceramah, pidato, shalawatan dan sebagainya. memang paradigma  semacam ini tidak bisa di tinggalkan, karena model dakwah yang semacam ini memang selalu di butuhkan sebagai tugas untuk memenuhi kebutuhan rohaniyah (Spiritual) manusia. padahal dakwah bukan hanya terletak pada ruang lingkup semacam itu, akan tetapi dakwah juga menyangkut segala hal dimana dakwah juga dapat mengandung unsur “Sosial Ekonomi”. Mengapa seperti itu?, karena ada hal yang harus di ingat, bahwa untuk berdakwah pada manusia kebutuhannya bukan hanya terletak pada rohaniyah belaka, di butuhkan pula yang menyangkut kebutuhan jasmaniyah. Karena unsur manusia secara garis besar menyangkut jasmani dan rohani.
Paradigma Pemberdayaan
 Coba kita refleksikan lagi terhadap sabda nabi berikut ini, “hampir-hampir saja kefakiran akan menjadi kekufuran, dan hampir saja hasad mendahului taqdir”, hadits ini sebenarnya mengisyaratkan agar dakwah bukan hanya diaktualisasikan pada rohaniyah manusia saja, akan tetapi hadits ini mengintruksikan pentingnya dakwah memperhatikan jasmaniyah manusia. Bahkan lebih bahaya lagi jika jasmani tidak di penuhi, maka rentan terhadap kekufuran. Hal inilah yang dijadikan oleh orang-orang kristiani untuk mengkufurkan umat islam.
Maka demi memenuhi kebutuhan umat islam yang semacam itu, maka ubahlah paradigma dakwah yang lama dengan paradigma baru, yaitu paradigma pemberdayaan,  Maka jika bicara paradigma dakwah pemberdayaan maka menyangkut Jasmani. Jika berbicara jasmani manusia tentu bicara kebutuhannya, jika bicara kebutuhan jasmani tentu berkaitan dengan materi, jika bicara materi tentu berkaitan dengan masalah pakaian, obat-obatan, bahkan memerlukan pendidikan.
Nah untuk mencapai hal itu semua di butuhkan beberapa aspek dalam dakwah, salah satunya aspek ekonomi dalam dakwah. Aspek ekonomi ini di tunjukkan agar manusia (muslim) dalam kehidupan sehari-harinya semakin baik dalam hal ekonomi. Agar hal ini dapat terwujud makan kita sebagai penda’i perlu membangung pola pikir terhadap beberapa hal.
Aspek Mental dalam Paradigma Pemberdayaan
Pertama, membangun paradigma untuk hidup lebih baik dari kemaren dalam hal ekonomi. Jika paradigma semacam ini sudah mengakar pada manusia, tentu semangat untuk hidup lebih baik lagi akan tercipta, jika sudah tercipta maka kesejateraan, keadilan akan tumbuh dengan sendirinya, tidak akan ada orang-orang yang malas untuk beribadah, belajar dan beinteraksi dengan sesama. Karena kebutuhan jasmani sudah terpenuhi sehingga semangat untuk hidup lebih baik lagi akan tercipta.
Kedua, membangun paradigma bahwa keberdayaan ekonomi manusia mampu mengangkat harkat dan martabat manusia. Jika manusia sudah mempunyai pola pemikiran yang semacam ini, maka akan timbul rasa tanggung jawab dan rasa memiliki antar sesama, sehingga nantinya tidak ada lagi manusia yang berlebel “Miskin”, berlebel kurang mampu, Kampungan, ndeso dan semacamnya. Sehingga penggunaan istilah-istilah yang merendahkan martabat manusia seperti halnya istilah-istilah bantuan pemerintah seperti Raskin, Gakin dan semacamnya tidak akan ada lagi istilah semacam itu, karena martabat mausia sudah terangkat manjadi lebih baik.
Model dakwah yang kekinian, inklusif, kebersamaan, yang sifatnya merubah dan mensejahterakan seperti di atas atau yang terangkum dalam dua paradigma di atas  nantinya akan menimbulkan efek yang cukup besar bagi kesejahteraan hidup manusia. Budaya hidup jelek atau miskin dan tata pemerintahan yang buruk akan hilang sedangkan kebutuhan-kebutuhan hidup manusia akan tercipta.

Kedua paradigma yang telah di sebutkan di atas kiranya perlu dukungan-dukungan dari aspek politik, baik politik secara kultural, structural  maupun mobilitas sosial. Karena jika di dukung oleh 3 Aspek kekuatan politik yang semacam itu paradigma pemberdayaan yang tujuannya untuk menghilangkan mental “Miskin” akan terlaksana dengan baik, sehingga manusia tidak akan lagi gelisah mengenai kebutuhan jasmaninya, tidak akan gelisah mengenai sandang pangan, pakaian, obat-obatan maupun pendidikan. (faris)

No comments:

Post a Comment