Kader HMI harus kembali pada “Masyarakat Adil Makmur” - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 2 December 2015

Kader HMI harus kembali pada “Masyarakat Adil Makmur”


Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Pekanbaru, Riau, diwarnai kericuhan. Selain mengakibatkan kerusakan sejumlah fasilitas umum, bentrokan antara simpatisan dan panitia lokal terjadi di lokasi kongres. Jawa Pos, Selasa 24/11/2015.
            Kejadian anarkisme pada kongres HMI kali ini sunggguh menyita perhatian banyak orang, khusunya para aktifis HMI dan mahasiswa. Mengapa tidak? Bahkan dalam keterangan foto pemberitaan Jawa Pos terlihat kerusakan kaca yang cukup parah, lebih mencengan`gkan lagi foto sebelah kiri nampak beberapa senjata tajam seperti badik, parang, sumpit, anak panah, celurit hingga sempi rakitan yang merupakan hasil penggeledahan polisi terhadap mahasiswa.
            Padahal, mereka datang untuk menghadiri kongres HMI yang ke-29, tujuannya tentu saja untuk mendukung dan memeriahkan acara kongres tersebut. karena secara etika kader-kader HMI diperkenankan untuk menghadiri dalam kegiatan tersebut. sekalipun yang wajib mengikuti kongres tersebut adalah perwakilan cabang dan badan koordinator.
Tak ada fasilitas atau sengaja anarkis?
            Akan tetapi kedatangan kader HMI yang begitu banyak bahkan mencapai ribuan itu membawa sauatu persoalan baru yang cukup serius bagi panitia, yaitu berkaitan denga fasilitas yang di sediakan oleh panitia kongres. Hal yang paling urgen yang perlu dipersiapkan adalah tempat dan sajian makan. Tentu melayani ribuan kader HMI yang datang dari berbagai cabang dan daerah sangatlah sulit.
            Walhasil, ribuan kader HMI yang datang menghadiri kongres tersebut terlantar, bahkan hak tempat, dan jatah makan mereka tak terpenuhi. Dalam hal ini sah-sah saja untuk menyalahkan panitia kongres. Akan tetapi apakah harus di lampiaskan dalam bentuk “anarkisme”?, tentu hal ini tidak diperkenankan baik secara moral kemanusiaan, etika budaya, norma agama bahkan hukum Negara jelas melarang segala bentuk “anarkisme”. Namun jika kita ikuti perkembangan pemberitaan tersebut, ada kecenderungan secara sengaja berbuat anarkis.
            Pertama, pada 17 November 2015, ribuan kader HMI Sulselbar (Sulawesi selatan dan barat), menutup pintu masuk Pelabuhan Soekarno Hatta pelindo IV, Makassar. Mereka memaksa masuk ke palabuhan untuk di berangkatkan menuju Riau. Hal ini mengakibatkan pelabuhan sedikit lumpuh akibat penutupan tersebut, tentu hal ini sangat di sayangkan, mengingat mereka datang pada perayaan kongres dalam bentuk dan sikap yang memaksa.
            Kedua, pada sabtu 21 November 2015 Rombongan HMI sebanyak 21 bus mampir dalam sebuah warung rumah makan umega untuk makan siang, namun yang di sayangkan setelah sang pemilik rumah makan mengajukan struk tagihan sebesar Rp 13,2 juta kepada salah satu koordinator rombongan, beberapa dari mereka malah menolak dengan alasan harga makanan terlalu mahal, bahkan 20 bus sudah dalam keadaan kabur terlebih dahulu. Sungguh hal yang lagi-lagi sangat di sayangkan tindakan semacam ini, tidak salah jika kita mengatakan bahwa mereka sengaja berbuat ricuh. Akibatnya, kongres HMI pada tahun ini menjadi buruk, bahkan jika boleh di katakan kongres HMI tahun ini merupakan kongres yang paling buruk.
            Lalu, bagaimana kader HMI mau menciptakan masyarakat yang madani? Jika  tidak mau menghilangkan sifat yang anarkis, lalu bagaimana pula membangun HMI mewujudkan pencipta dan pengabdi yang bernafaskan islam? Jika jauh dari nilai-nilai islam.
Kembali pada misi suci HMI
            Seperti ucapan cak Nur, misi suci HMI disebut “masyarakat adil makmur”, maka ada harapan besar untuk mewujudkan hal tersebut kalau saja kader-kader HMI mau mengintropeksi dirinya demi membangun HMI lebih baik lagi, hal itu tergantung pada kader-kader HMI menginginkan atau tidak untuk kembali pada misi suci HMI sendiri.
            Jika kader HMI mempunyai keinginan untuk kembali kepada misi suci HMI maka rubahlah segala sikap dan prilakunya dengan kembali pada tujuan HMI sendiri. yaitu “terbinanya insan yang akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya mayarakat adil makmur yang diridhoi allah SWT”. jika saja semua kader HMI ingat dengan tujuan ini, tentulah tidak aka nada kericuhan dimana-mana. Karena akan sadar bahwa kader-kader HMI adalah kader-kader akademis yang dapat dibina. ketika kader-kader HMI sudah dapat dibina maka lima kualitas yang di inginkan akan tercipta.
            Pertama, “kualitas insan akdemis” yaitu dimana kader-kader HMI berpendidikan tinggi, berpengathuan luas, berfikir rasional, objektif dan kritis, serta memiliki kemampuan teoritis dan sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan yang dipilihnya. Kedua, “Kualitas insan pencipta”, tercipatanya jiwa-jiwa dengan penuh gagasan-gagasan kemajuan, selalu mencari perbaikan dan pembaharuan.
            Ketiga, “kualitas pengabdi”, yaitu terbetuknya semangat yang bersungguh-sungguh, mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan ilmunya untuk kepentingan sesamanya. Keempat, “Kualitas insan yang bernafaskan islam”, ajaran islam telah mampu membentuk unity personality dalam dirinya, serta telah memberi pedoman pola fikir dan pola tingkah lakunya sendiri.

            Kelima, “kualitas insan bertanggung jawab atas terwujudnya  masyarakat adil makmur yang di ridhai Allah SWT”, mempunyai rasa tanggunga jawab yang tinggi, taqwa kepada Allah SWT yang menggugah  untuk mengambil peran aktif dalam suatu bidang. Maka jika sudah seperti ini kader HMI bukan hanya sebagai akademis yang agamis akan tetapi juga sebagai Agent Of Change bagi masyarakat. *(faris)

No comments:

Post a Comment