Konflik Dalam Kelompok ? Itu Sudah Biasa - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 1 December 2015

Konflik Dalam Kelompok ? Itu Sudah Biasa

Alam tak selamanya indah tak sepatutnya pula terus abadi, semesta yang mengitari jagad raya ini juga tidak selamanya berjaya. Ada kalanya alam itu fana’ kerena mulai lelah dengan perlakuan manusia. Semesta pun berbicara bahwa mereka juga butuh waktu sejenak untuk suatu ketenangan bahkan kebahagiaan dalam keseharian mereka.
Lantas bagaimana jadinya jika matahari terhenti tuk menampakkan sinarnya, sedangkan pusat kehidupan berpacu padanya. Maka flora yang berlimpah ruah akan pasrah begitu saja dengan keadaan. Bentangan samudra yang berusaha tuk menstabilkan alam suatu saat akan hening tanpa suara. Begitupun dengan mutiara di dasar lautan akan enggan menampakkan kemilaunya, padahal ia sangat berharga tiada dua. Dan cahaya kejora tidak bisa konsisten menjaga sepanjang malam, suatu ketika ia akan lenyap ditelan gulita kegelapan. Lalu bongkahan salju yang sangat dingin tiba-tiba mencair begitu saja meninggalkan dunianya. Mungkinkah itu petanda akan gugurnya bunga sakura? Yang  akan runtuh seenaknya dari batang rumahnya. Tapi siapa yang tahu di balik puncak keindahan mahameru, tersimpan  banyak misteri kehidupan. Sedangkan  makhluk astral tidak ada hubungannya dengan semua itu karena keberadaannya sama dengan ketiadaannya. Maka apa daya tangan tak sampai, bidadari hanya bisa  memandang kebingungan dari tongkat saktinya. Sebagai makhluk imajiner ia hanya mengandalkan kekuatan dari Sang Dewata yang Maha Agung.   
                Hitam putih kehidupan berjalan dengan semestinya. Karena setiap masa itu dipenuhi hanya dengan kebaikan dan keburukan. Tak ubahnya dengan suatu kelompok yang tertawa ria akan keberhasilan tujuan yang juga akan berkabung akan runtuhnya kejayaan. Itu merupakan hal yang wajar, karena kelompok sosial akan berkembang. Entah itu berkembang menjadi kemajuan yang tak terduga atau bahkan kemunduran yang tak diinginkan. Itulah dinamika yang terjadi dalam kelompok.
Dalam suatu kelompok pasti akan terjadi konflik, karena hal itu yang menandakan berkembang tidaknya suatu kelompok.  Dan Justru akan memunculkan tanda tanya jika dalam suatu kelompok tidak pernah terjadi apa-apa. Apakah kelompok tersebut masih hidup dan bagaimana hubungan antar anggota di dalamnya?
Konflik bisa muncul karena faktor dari luar maupun dari dalam kelompok tersebut. Entah itu pertentangan dengan kelompok lain maupun pertentangan sesama anggota kelompok. Yang bisa jadi disebabkan karena adanya persaingan (kompetisi), kesalahpahaman (miss understanding), dan lain sebagainya.
Secara umum kemunculan konflik dapat disebabkan karena cara pandang yang berbeda mengenai suatu objek atau peristiwa. Latar belakang anggota yang berbeda-beda memicu perbedaan cara pandang mereka.  Keberagaman budaya, pengalaman, idealisme atau faham, melahirkan asumsi-asumsi yang berbeda pula.  Dalam contoh kecil saja, si A dan si B berasal dari daerah yang berbeda, dikumpulkan dalam satu kelompok. Ketika memasak bersama-sama si A dan si B akan saling memperkuat argumen mengenai cara memasak yang benar. Padahal berdasarkan budaya masing-masing mereka sama-sama benar. Namun di antara mereka tetap saling menyalahkan, sampai akhirnya mendatangkan pihak ke tiga sebagai penengah yang dipercaya yang ternyata berasal dari daerah yang berbeda di antara keduanya. Maka bubar lah acara masak-memasaknya.
Kemudian kemunculan konflik juga disebabkan karena pelanggaran peraturan. Dalam suatu kelompok pasti mempunyai peraturan atau perjanjian tertentu. Di saat salah satu dari anggota kelompok melanggar perjanjian tanpa alasan yang jelas, maka akan memunculkan banyak persepsi yang buruk dari anggota yang lain. Bahkan akan muncul rasa ketidakadilan dari anggota yang lain, jika si pelanggar tersebut tidak mendapat konsekuensi yang tegas. Pelanggaran tersebut bisa jadi karena rendahnya komitmen anggota, di mana ia hanya berjalan mengikuti arus. Seperti pepatah mengatakan, “air mengalir di atas daun talas”.
Nah, setiap konflik yang terjadi pasti ada solusi untuk penyelesaiannya. Yakni dengan mendatangkan pihak ketiga sebagai penengah yang dianggap adil. Kemunculan pihak ketiga tersebut untuk mencari titik atau inti dari persoalan, sehingga dapat memahamkan satu sama lain. Namun, jika tetap  tidak mereda, bisa dilakukan dengan proses negosiasi. ketrampilan komunikasi menentukan keberhasilan negosiasi.
Selain itu penyelesaian konflik juga bisa dilakukan dengan pendekatan interpersonal. Tak jarang konflik itu selesai di meja makan atau warung kopi. Karena untuk meluluhkan hati sang lawan membutuhkan suasana yang santai, tidak terus di ruang yang formal. Dengan begitu proses komunikasi akan berjalan secara efektif, sehingga lawan dapat terpengaruh. Dan selesailah persoalan.

Namun, terkadang konflik justru dengan mudah dapat terselesaikan. Ketika para anggota saling beradu argumen, dan menyalahkan satu sama lain. Sang penguasa angkat bicara,  hanya sepatah kata terlontar maka redalah konflik tersebut. Ya itu lah opinion leader di mana pendapat orang yang disegani, bisa jadi ketua kelompok sangat di soroti dan menjadi acuan kebenaran.     *(Elmhira)

No comments:

Post a Comment