Praon, Sebagai Wujud Pelestarian Kearifan Lokal - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 3 December 2015

Praon, Sebagai Wujud Pelestarian Kearifan Lokal

“Nilai suatu budaya  bukan terletak  dari seberapa besar jumlah kepala yang mengakuinya, melainkan seberapa bijak  generasi sesudahnya dapat  melestarikannya”.

Hembus  angin yang merasuk di tiap  pori pori tubuhku malam ini kembali membawaku ke dalam sebuah imaji tentang sebuah dusun yang pernah kukunjungi  dimasa lalu. Ingatan tentang hamparan sawah yang mulai menguning, perahu kayu yang saling berjejer disepanjang aliran sungai, permainan balap dayung  yang biasa dimainkan bocah desa serta raut raut wajah yang  bersahaja seakan tak merelakan siapapun yang singgah untuk melupakannya. Adalah Blajo, dusun kecil yang terletak di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo kecamatan Kalitengah,  25 km disebelah utara dari pusat kota Lamongan.
 Entah seperti apa kondisi dusun itu saat ini. Masihkan tetap menyiratkan keramahan yang dibalut dengan background keasrihan lingkunganya ataukah sudah berganti wajah lusuh seperti yang dapat kita jumpai di beberapa tempat di Indonesia.  Dusun ini diapit oleh dua sungai, yakni sungai Bengawan solo dan Kali Blawi. Bukan sebatas keasrihan lingkungan dan keramah orang orangnya yang masih kuingat, namun yang paling kurindukan dari desa ini adalah aktifitas “Praon”. Praon adalah bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia bisa berarti bermain main atau beraktifitas diatas  perahu.
Ketika pagi menyapa maka akan nampak dipandangan kita sebuah kota diatas air. Kota diatas air yang dimaksut adalah keramaian, hiruk pikuk manusia yang terjadi diatas perahu yang saling berjubel. Kita dapat melihat pasar tradisional dengan aktifitas jual beli diatas perahu, Segerombolan anak anak berseragam yang saling belomba mendayung perahu untuk dapat mencapai sekolahnya, ataupun pemuda yang mengangkut penumpang atau barang belanjaan dengan perahu mesinya.    
 Bukan berarti tidak ada akses jalan untuk menghubungkan di berbagai tempat di desa ini, jalan beraspal yang dapat dilalui kendaraan bermotor maupun jembatan megah yang menjadi penghubung antar seberang sudah sejak lama ada. Selain itu, letak dusun ini juga tak cukup jauh untuk menjangku pasar tradisional yang dibangun oleh pemerintah di kecamatan Kalitengah.   “Jalan beraspal sudah dibangun tahun 2000an, tapi orang sini lebih terbiasa kemana mana pakai perahu”, ujar Malekan (50) pria asli kelahiran dusun Blajo yang saat itu menjabat sebagai kepala dusun.
Yah,,budaya praon itulah yang membuatku berpikir betapa uniknya kehidupan didusun  ini. Unik bukan karena aktifitas praon hanya  bisa ditemui di tempat ini. Di Kalimantan ataupun di daerah yang memiliki sungai besar mungkin dapat juga kita jumpai hal semacam ini. Bahkan jika kita berkunjung di beberapa negara sungai telah dimanfaatkan sebagai wahana wisata air. Tetapi yang patut diteladani dari masyarakat dusun ini adalah mereka masih  bertahan dengan “perahu” meskipun telah tersedia fasilitas jalan yang jauh lebih memberikan kemudahan saat hendak menuju suatu tempat.
 Praon yang menjadi kearifan lokal dusun ini bukan hanya milik generasi tua, mulai dari pemuda hingga bocah sudah terbiasa dengan aktifitas berperahu. Seperti yang dikatakan malekan bahwa anak anak di desa ini rata rata sudah mahir mendayung dan terbiasa pergi ke tempat yang dekat dengan perahu . “kalo dekat ya biasanya pakek perahu, kadang agustusan ada lomba balapan ndayung, jadi ya kecil kecil sudah kebiasaan pinter ndayung”, tambah Malekan.









 


No comments:

Post a Comment