Golput Tanda Tak Sayang - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 30 March 2016

Golput Tanda Tak Sayang

Dok. Repro Google

Tidak sedikit mahasiswa yang mengerti bahkan sekadar tahu mengenai antropologi kampus. Mahasiswa pada umumnya tidak peduli perihal stuktur organisasi kampus. Jangankan struktur organisasi kemahasiswaan yang notabennya dalam ruang lingkup kehidupannya yang sangat memiliki kedekatan secara personal serta emosional juga tidak difahami oleh mahasiswa, bahkan struktur kelembagaan fakultasnya sendiri pun tak banyak yang tahu. Siapa itu Dekan dan Wakil Dekan beserta jajarannya, dan jangan-jangan tidak tahu siapa Rektornya. Padahal  pada masa OSCAAR (Orientasi Study Cinta Akademik dan Almameter) semua mahasiswa telah diberi buku panduan khusus untuk membahas hal itu. Namun, buku itu nyatanya tidak memberikan efek bagi mahasiswa pada umumnya.
Memang tidak diharuskan bagi setiap mahasiswa untuk memahami secara terperinci struktur kelembagaan yang ada di kampusnya. Entah itu struktur kelembagaan Universitas, Fakultas ataupun organisasi mahasiswa ektra maupun intra. Tapi setidaknya sedikit tahu apa salahnya, toh predikat mahasiswa yang sematkan padanya  juga berkat kebijakan dari Universitas.  Lalu bagaimana jadinya jika dalam ruang kedekatan secara personal dan emosional saja kita bersikap acuh tak acuh, bagaimana nantinya jika nanti kita benar-benar sudah berada dalam kehidupan bermasyarakat. Ibarat seperti seorang warga yang tidak mengenal ketua RT-nya sendiri.    
Katanya manusia makhluk sosial yang tak mampu menopang hidupnya sendiri, yang selalu butuh  bantuan orang lain. Pada akhirnya Simbiosis mutualisme yang sering menjadi acuan teori perilaku manusia tak dapat terimplementasikan dalam kadar kesempurnaan. Meskipun sekarang kita tidak secara langsung memiliki kepentingan dengan orang-orang yang menduduki jabatan-jabatan komersil atau relawan tersebut, pasti suatu saat akan ada saja hikmahnya.   
Sekarang dalam praktiknya dalam ranah yang berbeda kita lihat saja pada Pemilu Raya (PEMIRA) dalam rangka memilih Presiden Dewan Eksekutif (DEMA) Mahasiswa yang diadakan oleh KOPURWA. Mengapa banyak mahasiswa yang tak mau menggunakan hak suara  pada saat pemilu, padahal kelegalan kebebasan berpendapat  sudah lama mereka kantongi, bahkan UUD 1945 sudah menjamin. Yaah.. bisa dikatakan tingkat kepedulian terhadap lingkungan kurang, bukannya menjustice atau apa, tapi yang namanya orang itu selalu hidup bermasyarakat, tidak ada yang bisa hidup sendiri tanpa struktur dan tanpa aturan kecuali orang hutan.   Begitu juga di kampus, kita belajar untuk hidup bermasyarakat. Jika  untuk bersuara pada pemilu saja enggan, lantas kontribusi  apa lagi yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan eksistensi kita sebagai warga kampus.
Srtuktur organisasi kampus  tak mau tahu, bagaimana mungkin mau berpartisi dalam PEMILU. Bisa saja bagi mereka yang hanya ingin terlihat eksis saja, tanpa tau asal dan tujuan pemilu, bahkan kandidat yang dipilih pun juga asal-asal an, justru eksis yang ingin diperlihatkan itu sebenarnya adalah bayangan semu.  Namun, bagi mereka yang benar-benar apatis terhadap organisasi mereka akan berpikir dua kali,  keuntungan apa yang mereka dapat jika ikut pemilu.  ketika ditanya  ‘kamu nggak nyoblos....’ mereka hanya senyum tersimpuh malu.dengan begitu akan lebih memperjelas  jiwa materialistik mereka. Kampanye yang dilakuakan dengan berbagai cara, mungkin hanya akan berpengaruh pada sebagian mahasiswa. Mereka tidak akan peduli dengan selebaran atau slogan yang tertempel di seluruh penjuru kampus. Padahal bentuk kampanye seperti itu sangat membantu untuk memberi pengumuman bagi warga kampus yang notabennya kuper atau selalu ketinggalan informasi. Tapi memang pada dasarnya mereka yang Do Not Care yaa mau bagaimana lagi, yang tidak dikenal ya mana mungkin disayang.


*Penulis adalah mahasiswa aktif Fakultas Dakwah dan Komunikasi semester 4

No comments:

Post a Comment