Feminisasi; Terpuruk Lalu Bangkit - Araaita.com

Breaking News

Friday, 22 April 2016

Feminisasi; Terpuruk Lalu Bangkit

Judul buku       : Perempuan Asia dari penderitaan menjadi kekuatan
Edisi                : Pertama
Penulis             : Yayori Matsui
Penerbit           : Obor Indonesia
ISBN                : 979-461-414-0
Tebal buku      : 21 cm (xxiv, 268 hlm)
Peresensi          : Luluk Rohmatun

Buku ini mernggambarkan mengenai dampak perkembangan ekonomi yang menimpa perempuan  Asia. Kenapa lebih ditonjolkan perempuan disini, karena nilai-nilai manusia lebih mudah ditemukan dalam diri perempuan dari pada lelaki. Bukan karena raga keperempuanannya, namun karena penyebab historis dan sosiologisnya. Bab-bab dalam buku ini menejelaskan bagaimana suka-duka perempuan pada waktu itu. Mulai dari penderitaan yang mereka alami, kemudian perlawanan yang mereka lakukan hingga pada akhirnya keadilan yang berpihak kepada mereka.
Dalam kepenulisan buku ini, Yayori Matsui terlibat langsung dalam masalah-masalah yang dialami perempuan Asia. Profesinya sebagai satu-satunya wartawan perempuan pada surat kabar yang terkemuka di Jepang, mengangkat keprihatinannya pada penderitaan kaum perempuan. Khususnya mereka yang terbelengguh kemiskinan di desa-desa terpencil. Masalah lain yang ia soroti mengenai interaksi antara Jepang dan negeri Asia lainnya adalah wisata seks yang yang dilakukan oleh kaum laki-laki Jepang semenjak awal tahun 1970-an. Sebagaimana yang ia prediksi, bahwa artikel-artikel yang diterbitkannya justru dinilai buruk oleh penyuntingnya yang notabennya adalah para kaum laki-laki. Namun, berkat dukungan dari luar perusahaan dan para pembaca perempuan ia lalu tergugah untuk menulis tentang Asia untuk media alternatif. Selain itu ia juga membentuk pergerakan asosiasi perempuan yang dinamakan Asian Woman Association.
Abad ke 21 menjadi keajaiban bagi ekonomi Asia, perkembangan ekonomi yang luar biasa ini mendapat perhatian  luas di seluruh dunia. Namun, di balik kejayaan Asia saat itu, terdapat kontradiksi paling mendasar yang dialami oleh para perempuan. Yang baru terungkap pada tahun 1997, di tengah pertumbuhan ekonomi Asia, para perempuan Asia justru mengalami feminisasi kemiskinan, meningkatnya kekerasan seksual, pelanggaran hak asasi, serta kehancuran lingkungan akibat pembangunan dan penebangan secara paksa. Krisis keuangan yang menimpa negara-negara Asia Tenggara dan juga Korea telah menyudahi impian mereka akan kemakmuran abadi.
Ketika sedang bertugas, Yayori berhadapan  langsung dengan salah satu korban perdagangan  perempuan. Pada mulanya sang korban dijanjikan akan dipekerjakan di restoran. Namun, ia justru disuruh untuk melacurkan dirinya. Ia dikurung, dipukuli agar mau melayani pelanggannya, bahkan  lebih para lagi ia menyadari bahwa dirinya telah terjangkit virus HIV.
Kemudian, rencana pembangunan Filipina yang ingin menjadikan negaranya sebagai Industri Baru berdampak pada penggusuran  rakyat dan komunitas secara paksa. Mereka dipaksa untuk  pindah di gubuk-gubuk yang berdiri di tengah bau busuk yang tergenangi oleh lumpur dan dipenuhi oleh sampah. Akan teteapi, mereka tidak mau menyerah dengan perlakuan yang tidak adil ini. Tidak berharap untuk kembali ke rumah asal, mereka justru  menabung uang kompensasi mereka yang dibayarkan oleh pemerintah guna membeli tiga hektar lahan kosong di dekat tempat tinggal mereka untuk membangun kota baru.
Selain itu yayori Matsui juga menjelaskan bagaimana perjuangan perempuan untuk mengorganisir blokade anti-penebangan kayu . Hutan yang notabennya sebagai mata pencaharian mereka justru dioperasikan oleh perusahaan  penggergajian  kayu untuk pembangunan  jembatan. Namun, mereka tidak diam begitu saja, mereka melakukan aksi kampanye  di lebih dari sepuluh lokasi hutan tropis dimana penggergajian kayu baru saja dimulai. Deklarasi yang mereka serukan kemudian dikirim ke Jepang lewat organisasi-organisasi  pendukung di mancanegara.
Sekilas merupakan perjuangan para perempuan, penderitaan yang mereka alami justru menjadi kekuatan yang bersatu padu. Sehingga mereka dapat bergerak maju dalam sejarah, dan mengalahkan kekuatan global yang mengerikan.

Isue-isue yang terkandung dalam  buku ini sangat menarik. Dalam setiap babnya terdapat sub bab sebagai penjelas rinciannya, sehingga pembaca lebih detail untuk memahaminya. Keterlibatan penuh penulis dalam berbagai konflik yang dialami para perempuan Asia sangat berpengaruh  pada data yang dihasilkan. Kutipan wawancara yang dihadirkan dalam buku ini juga memberi kesan keakuratan sumber data yang dihasilkan.

No comments:

Post a Comment