Hanya Dia - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 14 April 2016

Hanya Dia

Dok. Repro

            “Hei dek, sorry telat, lagi baca buku apa?” suara lelaki yang amat aku hafal di luar kepala membuatku menoleh sesaat setelah berkutat dengan novel yang aku pinjam dari perpustakaan. “Eh? Ini kak, daun yang jatuh tak pernah membenci angin, karangannya Tere Liye,” jawabku yang masih terus melanjutkan membaca. “Serius amat sih bacanya?” sambil dia meletakkan ranselnya di kursi depanku. “Sebentar, tanggung tinggal dikit lagi, suruh siapa pake telat segala.” Jawabku sekenanya, novel ini klimaksnya berada di bagian akhir dan aku hampir saja meneteskan airmata kalau nggak ada suara kak Dimas yang mengagetkan aku barusan. “Sekarang masih jam 3 tepat, jadi aku nggak telat, kamu aja yang kerajinan datang duluan. Yaudah aku pesen minum dulu ya.” Aku tidak menghiraukan dia dan memilih fokus melanjutkan novelku yang tinggal beberapa halaman lagi. 10 menit kemudian aku selesai menamatkan novel ini. Pesanan minuman kak Dimas juga sudah dikirim sekitar 3 menit yang lalu.
            “Gimana? Udah selesai novelnya?” Tanya kak Dimas sambil minum Capuccino Frappenya dengan ekspresi sedikit manyun. “Hihi, udah kak, maaf deh sempet nyuekin kakak tadi.” Jawabku sambil memasukkan novel ini kedalam tasku. “Kamu ini selalu kok, kalau udah baca novel yang lain gak bakal dipedulikan.” Lucu sekali kak Dimas ini kalau lagi ngomel. “Iyaa kak Dimas yang paling baik dan ganteng sendiri, aku tadi kan udah minta maaf.” Aku berusaha merayu agar kak Dimas tidak mengomel lagi. “Oke, permintaan maaf diterima” Kemudian kebiasaan itu berlanjut, layaknya air yang selalu mengalir. Setiap hari Rabu jam 3, selama dua jam aku dan Kak Dimas selalu bertemu di waktu yang sama, di tempat yang sama, dengan pembahasan obrolan yang berbeda tentunya.
Dimas Ardiansyah, seniorku di universitas tempatku menuntut ilmu. Aku tahu dia ketika masa orientasi mahasiswa, dia adalah ketua panitia kegiatan tersebut. Siapa yang tidak mengenal dia di fakultasku? Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi di salah satu universitas negeri di kota Surabaya, peraih gelar siswa terbaik sewaktu lulus SMA dengan danem yang hampir sempurna, ketua organisasi mahasiswa extra kampus, dan salah satu freelance wartawan  majalah di Surabaya.
Sebelumnya aku tidak pernah mengenal dia, kemudian karena aku mengikuti beberapa organisasi dan UKM intra kampus akhirnya pada suatu saat aku diberi kesempatan ngobrol ringan dengan dia. Obrolan pertama adalah ketika sedang ada acara Seminar Nasional di kampusku dan aku sedang bertugas untuk meliput acara tersebut. Dia yang menjadi ketua panitianya dan sangat membantu sekali dalam prosesku membuat berita. Pada saat wawancaraku selesai, dia meminta pin BBMku. Seminggu setelah acara tersebut semua berjalan biasa saja, meskipun berteman dengannya di BBM aku tidak pernah mengajaknya ngoborol lewat media tersebut. Hingga pada saat tengah malam aku sedang chat dengan temanku yang lain aku tidak sengaja memencet tombol call di kontaknya. Rasanya aku malu sekali dan langsung mematikannya. Beberapa detik kemudian dia chat Ada apa dek? “Mampus aku! Duh malu-maluin banget!” batinku, langsung aku jawab “nggak ada apa-apa kak, maaf tadi kepencet call
Tidak lama kemudian dia membalas “Oh iya, aku kirain ada perlu apa.” Fyuuuh lega sekali hatiku, aku langsung memarahi diriku sendiri “Duh kamu ini ceroboh banget! Untung aja gak dikira yang aneh-aneh.” Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama, karena dia chat lagi “ciyee, stalker ya” dan aku benar-benar merutuki kesalahanku malam itu.
“Nggak kak, tadi nggak sengaja kepencet, beneran deh” balasku sambil menahan rasa malu, mungkin kalau ada yang melihat kondisiku sekarang akan tertawa, karena aku sudah guling-guling kesana kemari merutuki kesalahan tadi.
Kemudian chat tengah malam itu berlanjut
Iya dek, faham, bercanda doang, santai lah. Kok jam segini belum tidur?
“Hehe, iya kak, lagi susah tidur”
Lagi nulis berita?
“Nggak sih, niat awalnya mau nugas, tapi media social lebih menarik buat dilihat daripada ngerjain tugas”
Iya memang, apalagi kalau ada lawan chatnya
“Kalo ngga ada lawan chatnya namanya stalker kak, wkwk”
Bener itu, stalker, pengagum rahasia
“wah sepertinya pengalaman sekali kamu kak hihi”
Baru ngeh dari chatmu dek, yaudah aku sambungin aja, apalagi biasanya yang hoby stalker itu yang tidurnya menjelang pagi kayak gini
“tuh kan sampai tau kalau yang tidur menjelang pagi itu hoby stalker”
Termasuk kamu juga yang hoby stalker
“Lho aku nggak tau, kan baru dikasih tau kak Dimas”
Berarti kamu calon stalker ya
“Nggak mau, jangan sampai ah”
Iyaa deh, besok kamu kuliah sampai jam berapa dek?
“Sampai jam 2 kak, kenapa?”
Ayo ketemuan yuk, sekalian siapa tau kamu butuh sharing tentang ilmu wartawan bisa aku kasih tau
“Boleh kak, dimana?”
Di Cafe Zenith, jam 3 ya
“Okee :)”
            Esoknya, aku menepati janji untuk bertemu kak Dimas di tempat yang kemarin sudah di tentukan. Sore itu aku ngobrol banyak dengannya, mulai dari tentang jurnalistik, Ormeks, psikologi, filsafat, dan banyak lainnya. Sungguh obrolan ringan namun aku merasa sangat bermanfaat.
            Dan sepertinya chat dia yang “Berarti kamu calon stalker ya” menjadi ungkapan yang terwujud. Sejak pertemuan hari itu, aku benar-benar menjadi stalker akun media sosialnya, tapi aku hanya membaca, tidak berani mengikuti dia sebagai temannya. Hingga beberapa minggu lamanya aku tidak pernah bertemunya di kampus, tidak berhubungan lewat bbmkarena aku pun tahu dia adalah mahasiswa semester akhir yang sudah saatnya menyelesaikan skripsi. Beberapa minggu itu aku seperti kehilangan kebahagiaan yang baru saja aku dapatkan sejenak. Aku tidak berani menceritakan kepada temanku, karena aku takut akan menyebar gosip yang tidak baik dan aku terlalu malas menanggapi hal-hal tersebut.
            Bukannya bermaksud untuk menjadi wanita yang mudah jatuh cinta, namun aku merasa amat bahagia ketika diperhatikan dan dihargai oleh orang lain. Karena selama ini aku bukan termasuk orang yang memiliki kehidupan normal seperti orang-orang lainnya. Orang tuaku bercerai karena ayah melakukan KDRT didepanku pada saat umurku 10 tahun, kemudian aku harus menghadapi situasi rumah yang tidak harmonis selama satu setengah tahun karena ayah dan ibuku perang dingin. Sejujurnya suasana rumah saat itu benar-benar seperti mimpi buruk, sebisa mungkin aku membantu memperbaiki hubungan mereka, namun tidak sedikitpun itu berhasil, justru ayah pergi dari rumah tanpa pamit kepadaku.
            Sejak saat itu, aku mulai dikucilkan teman-temanku, di pandang sebelah mata oleh para tetangga, dipojokkan oleh situasi bahwa ibuku adalah seorang “janda”, dan merasakan pahitnya kehidupan karena ayah tidak pernah datang ataupun menghubungiku sedetikpun, aku dipaksa oleh keadaan untuk bersabar, untuk memasrahkan segala urusan kepada Allah SWT. Tapi aku tidak apa-apa, memang menyakitkan sekali rasanya, bohong jika aku tidak pernah mengeluh. Aku pun pernah mencoba untuk menyakiti diriku sendiri untuk sejenak melupakan tentang keadaan yang sedang aku hadapi, namun bukannya lupa, aku malah menambah rasa sakit dan menambah dosaku karena telah menyakiti ciptaan-Nya yang telah diberikan kepadaku dengan sempurna.
            Tujuh tahun aku berjuang melawan segala kesakitan itu sendirian, karena ibuku tidak mau memperdulikan perasaanku, dan dia malah menyibukkan diri dengan “teman” barunya. Iya teman barunya, karena setiap kali aku bertanya itu siapa, beliau hanya menjawab “ini temanku.”
            Bertahun-tahun aku mengalami sakit namun tidak ada yang berdarah dan tidak ada vonis dokter yang mengetahuinya. Karena terasa amat menyakitkan ketika kamu mempunyai banyak fikiran namun tidak dapat mengekspresikannya. Ketika kamu ingin berbicara namun tidak ada yang mendengarkan. Ketika kamu sedang kecewa tetapi tidak tahu apa yang dikecewakan. Ketika kamu sedang sedih tetapi sudah tidak mampu untuk menangis. Ketika kamu terjatuh namun tidak ada yang membantu berdiri. Ketika melakukan hal-hal baik sudah terlalu memuakkan dan pada akhirnya senyuman palsu pun tidak dapat menyembuhkan suasana hatimu yang terlanjur kacau balau.
            Pada akhirnya yang sebenarnya aku inginkan hanyalah pijakan yang kuat, pegangan yang tangguh dan sandaran yang kokoh namun di dunia nyata yang ada hanyalah sajadah tempat untuk bersujud. Selama ini aku hidup dengan kebahagiaan untuk mensyukuri ciptaan-Nya yang Maha Besar.
            Minggu-minggu itu aku kembali terpuruk, aku hanya bisa memasang senyum palsu untuk sekedar menutupi rasa galauku. Aku  merasa topeng yang kugunakan amat sempurna karena tidak ada satupun temanku yang menyadari kesedihanku. Tetapi peribahasa sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga itu berlaku padaku. Aku gagal menyembunyikan rasa rinduku ketika tiba-tiba kak Dimas muncul lewat didepan kelasku. Aku menitikkan air mata dan ada temanku yang mengetahuinya. Gagal sudah usahaku untuk menyembunyikan semua perasaan itu, aku langsung dijadikan bahan candaan hingga terdengar di telinga kak Dimas.
            Malamnya, kak Dimas memulai percakapan tersebut setelah sekian lama.
            Hai dek, lagi sibuk kah?
Hai kak, nggak kok, ada apa?
            Aku tadi denger kamu nangis ya? Kenapa?
                        Eh iya? Ga kenapa-kenapa, temen-temen tadi itu iseng hehe
            Besok ada waktu? Bisa ketemuan?
                        Jam berapa?
            Jam 3, di Cafe Zenith, aku tunggu ya
            Aku tidak membalasnya, hanya aku baca saja. Biarlah, toh dia pasti tahu kalau aku sudah membacanya.
            Pertemuan keesokan harinya sama seperti saat dulu kita bertemu pada hari dan jam yang sama, hanya saja kali ini aku merasa sangat bahagia karena bisa melihat dia lagi. Dia tidak menjelaskan mengapa dia tidak menghubungiku selama beberapa minggu ini dan aku juga tidak meminta penjelasan. Aku sadar diri aku ini siapa.

            Dan pertemuan itu, sampai saat ini berlanjut. Tidak apa-apa walaupun tanpa mengetahui perasaan apa yang ada di diriku. Bisa bertemu dengannya setiap minggu aku sudah senang. Dapat melihatnya dari dekat, memandang ketika dia tersenyum, bertukar fikiran dengan dia, mengobrol kesana kemari, itu saja sudah cukup. *(Rat/AlamTara)

No comments:

Post a Comment