Kekakuan Adat Jawa Bagi Wanita - Araaita.com

Breaking News

Friday, 22 April 2016

Kekakuan Adat Jawa Bagi Wanita



Lahir di kalangan priyayi sekaligus bangsawan, raden Adjeng Kartini  yang terkenal dengan pahlawan nasional indonesia. lahir di Jepara, jawa tengah 21 april 1879. Ia merupakan putri dari mas Adipati Ario Sosro Ningrat Dan Ibu M. A Ngasirah. Dari ke 11 saudaranya Adjeng Kartini merupakan anak ke 5 perempuan yang paling tua. Dalam kehidupannya, keinginginan untuk sekolah sudah lama ia pendam,  sampai pada masa abad ke-19, kartini baru di perbolehkan untuk sekolah di ELS (Europese Lagere School) yang berbasis pada study language Belanda. Namun tak lama kemudian setelah berumur 12 tahun, kartini kembali di desanya karena sudah di jodohkan oleh kedua orang tuanya. 
                Sekian bertahun-tahun di rumah, kartini yang mahir dalam berbahasa belanda ia sering kali belajar menulis surat-surat kepada teman koresponden dari belanda. Dengan dukungan salah seorang temannya yang bernama rosa abendano. Ketertarikan kartini pada wanita eropa, justru membangkitkan semangatnya untuk merubah perempuan-perempuan indonesia yang pada saat itu mengalami status sosial yang rendah. Acap kali mengirim tulisan-tulisannya di berbagai media cetak, pada akhirnya salah satu tulisannya pun di muat pada salah satu majalah yang bernama De Hollandsche Lelie.
Dari sekian banyaknya tulisan-tulisan kartini, dalam pemikirannya,  kartini mengeluh kesahkan kondisi sosial perempuan pribumi dengan budaya jawa yang pada saat itu di anggap sebagai penghambat kemajuan perempuan. Ia menuliskan ide-idenya bahwa wanita juga memiliki kebebasan untuk menuntut ilmu dan belajar.
Selain menuliskan rasa nasionalismenya, harapan untuk memperoleh pertolongan dari luar negeri sangat di tunggu-tunggu olehnya. Pernah sesekali ia mengungkapkan untuk bisa mencontoh seperti kaum wanita eropa, pada salah seorang temannya yang bernama “Estella” Zaihandelar. Ia menceritakan kekakuan budaya adat jawa pada sosok wanita, yakni seorang wanita tidak boleh duduk di bangu sekolah, di pingit, di jodohkan, dan harus bersedia di madu. Pada akhirnya oleh Dr joost Cote pada tahun 1999-1903 Dalam salah satu kumpulan suratnya dengan judul Aku Mau feminisme dan nasionalisme. Menjadi bukti bahwa sindiran-sindiran kartini hanya bisa di tulisnya dalam isi surat-suratnya.
saking semangatnya, kartini yang dulu berkeinginan untuk melanjutkan studinya di eropa, namun atas dasar nasihat nyonya Abendanon, maka pada saat itu keinginannya pun terganti di betawi. Pada pertengahan tahun 1903 sekitar 24 tahun usianya, niat sekaligus menuntut ilmu di betawi pun sudah pupus. Kartini juga memberikan sebuah surat kepada Abondano yang berisikan tentang niat yang selama ini ia impikan akan sirna dan dia akan di nikahkan dengan lelaki pilihan kedua orang tuanya di rumah.

Pada saat itu, kartini  di suruh oleh kedua orang tuanya untuk menikah dengan salah seorang bupati rembang yang bernama K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat,  pernikahannya pun berlangsung pada tanggal 12 november 1903. Karena melihat kegigihan kartini untuk bisa merubah wanita indonesia, maka suaminya pun memperbolehkan dan membebaskannya untuk mendirikan sekolah kartini school di daerahnya yang bertempatan di timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten remabang. Menjelang pada hari-hari pernikahannya, kartini yang dulu sangat kontra adanya adat budaya jawa pada wanita, ia sadar bahwa sebuah pernikahan dapat memberikan sebuah keuntungan baginya untuk bisa mendirikan sebuah sekolah wanita yang bertujuan untuk membentuk kepribadian wanita yang maju dan unggul.*(lin) 

1 comment:

  1. Terimakasih atas artikel anda yang menarik dan bermanfaat.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di
    Explore Indonesia

    ReplyDelete