Berdaulat Pada Diri Sendiri - Araaita.com

Breaking News

Monday, 13 June 2016

Berdaulat Pada Diri Sendiri

Dok. Maulana/Arta
Saya yakin dengan seyakin yakinnya, pasti semua orang ingin menjadi pribadi yang lebih baik, Orang bijak pernah berkata, “hidup adalah proses pembelajaran untuk perbaikan diri, teruslah belajar untuk menjadi baik, lebih baik dan terbaik”. Namun setiap orang juga punya cara masing-masing untuk mencapai titik pribadi yang lebih baik tersebut. Kita tak akan bisa memaksa seseorang untuk melakukan hal baik sesuai dengan pola dan instrumen yang kita buat. Karena setiap orang dalam diri masing – masing sudah memiliki pola serta instrumen sendiri untuk menuju ke arah yang lebih baik. Dan semua itu murni adalah sekat terdalam dari setiap individu, sebagai unsur eksternal, kita tak akan bisa menjamah bahkan mengintervensi setiap pola yang dibentuk dari unsur terdalam setiap masing-masing individu.
Ada orang yang suka bekerja dengan tekanan, ada juga orang yang suka bekerja dengan keakraban. Semua itu tergantung selera serta kecenderungan dalam kedaulatan masing-masing individu. Hal itu sama ketika saya lebih suka dengan es jeruk daripada es teh, sedangkan teman saya lebih suka es teh daripada es jeruk. Karena semua itu tentang rasa, tentang kenyamanan, serta tentang keikhlasan dan itu tak bisa dipaksakan.
 Kita tak akan mampu untuk mendikte seseorang atau bahkan menuntun seseorang untuk berubah kearah yang lebih baik, jika dalam diri seseorang tersebut belum memiliki niatan untuk berubah menjadi yang lebih baik. Karena menjadi lebih baik atau tidak baik itu adalah murni kedaulatan individu, meskipun semua orang sejatinya ingin berubah  menjadi lebih baik, namun ketika saat itu sedang tidak memiliki niatan  kearah lebih baik. Yasudah kita tidak akan bisa memaksa, untung dan rugi dari baik atau tidaknya sikap seseorang adalah juga dari dirinya sendiri. Meskipun terkadang juga berakibat pada orang lain dan lingkungan sekitar. yang hanya perlu kita lakukan adalah ikhtiar untuk saling mengingatkan tentang kebaikan, setelah itu, yasudah.
Sabrang Mowo Damar Panuluh pernah berkata, “perang yang perlu dilakukan sekarang adalah perang terhadap ketidaktauanmu bahwa dirimu masih dalam penjara, dan penjara itu adalah ukuran-ukuran dalam fikiranmu yang bukan berasal dari dirimu sendiri”.  Maka ukuran – ukuran tentang sikap baik dan buruknya seseorang tidak bisa kita pukul rata dengan sikap baik kita terhadap orang lain. Karena ukuran  pada seseorang. Begitu juga dengan sikap tidak baik seseorang tidak bisa kau sama artikan dengan sikap tidak baikmu dengan orang lain. Karena murni itu hanyalah ukuran-ukuran pribadi dengan sedikit diselingi egosime diri.
Tuhan menciptakan manusia satu dengan manusia lainnya dengan tidak sama, maka disitulah letak keberagaman, letak kebhinekaan. Keberagaman terkadang selalu diidentikkan dengan perbedaan. Memang pada dasarnya keberagaman adalah berbeda, karena beragam adalah tentang banyaknya macam. Hampir semua yang berada dalam seisi ruang dan waktu ini adalah bentuk dan wujud dari keberagaman. Karena terdiri dari berbagai macam-macam bentuk. Beragam itu indah, karena dengan keberagaman akan terbentuk pola warna yang indah, bahkan pelangi tercipta adalah berkat dari keberagaman yang bergandeng bersama, dengan keberagaman kita bisa saling melengkapi, menyingkirkan sikap arogan dan egoisme pribadi, untuk saling menghargai tanpa ada rasa membenci.
Kedaulatan masing – masing individu dalam menentukan pola proses perjalanan kehidupan memang bisa terkontaminasi dengan tangan – tangan manusia. Jika dalam praktiknya banyak manusia yang berubah kearah yang lebih baik dengan dorongan orang lain itu adalah murni dari sekadar upaya yang diberikan orang lain untuk menjadikan seseorang tersebut lebih baik. Sedangkan keputusan untuk menerima atau tidaknya dorongan tersebut memang murni bentuk dari sebuah kedaulatan individu masing-masing.
Berbuat baiklah dengan semaksimal mungkin, jika lingkunganmu belum bisa diajak baik sesuai dengan ukuran – ukuran pada dirimu yasudahlah. Toh rosullulah saja dalam berdakwah tidak pernah memaksa. Allah lah yang lebih tau tentang sebesar apa usaha kita.
*(Maulana)

No comments:

Post a Comment