Buku Harian Fatimah - Araaita.com

Breaking News

Sunday, 5 June 2016

Buku Harian Fatimah




Dok.Google/Ilustrasi Tokoh Fatimah
Araaita.com - Terduduk ku di bawah rerindangan pohon yang kusandarkan badanku kepadanya. Sejenak menyegarkan hati, pikiran, dan juga fisik yang tak pernah berhenti mengisi hari-hariku. Dengan diam dan sepi yang membisukan semesta alam, aku mencoba melupakan semua persoalan dalam hidupku. Namun, setiap kali aku melupakannya, justru aku kembali sangat mengingatnya. Payah sudah aku ini, maksud hati ingin menjerit menghibur jiwa yang membahana. Akan tetapi, apa mau dikata bibir ini tak sanggup lagi untuk berucap meluapkan segala keluh kesah. Tertahan untuk kesekian kali didalam hati dan terkunci dengan rapi.
Lima menit kemudian,
Semakin dalam aku mengarungi persoalan-persoalan itu semakin pilu suasana hati yang kurasa. Lalu kuambil sebuah buku yang bersampul tebal, dan kubuka lembaran kosong sementara pena hitam telah tersemat di antara jemariku. Belum sampai menuliskan kata-kata, butiran  air dari kelopak mataku menetes sedikit demi sedikit memenuhi lembaran kosong itu. ku tuliskan tetap meski lembab-lembab jadinya. Kucurahkan segala emosiku lewat barisan kalimat-kalimat di atas lembaran itu. semakin deras tetesan air mataku, semakin banyak pula tulisan yang memenuhi ruang kosong itu. Satu, dua, tiga, hingga empat lembar terlampaui. Dan ternyata itu adalah lembaran terakhir dari buku itu.
“jika aku memang aku, maka itu aku
Ketika  aku menyalah, tetap aku  
  Jika aku bukan aku, maka itu pula aku
Ketika aku selaras, tetap aku
Akuku mungkin tak seperti akumu
Karena akumu hanya melihat satu
Dan lantas menyimpulkan aku
Sedang aku tak pula bermuka ganda
Aku, ya ini aku yang Cuma satu
Ingatlah itu!!.
Dengan begini aku merasa lega, goresan-goresan pena itu seolah menjadi penawar bagi kekacauan jiwa yang kualami. Di saat semua orang yang mengenalku tak lagi dapat mengerti, bahkan takkan bisa memahami diriku yang ‘mengaku’.
 Awan langit mulai kelam, dan aku pun lantas menyudahi sandaranku dari badan  pohon itu. lalu ku berjalan langkah demi langkah menuju pemukiman warga. Dengan wajah yang lusuh, rambut yang terurai dan pakaian yang ala kadarnya. “hlo itu kan Fatimah anaknya bu Romlah yang pergi dari rumah”, ucap Sumini salah satu warga yang melihatnya. “eh iya looh, kayaknya dia mau kembali ke rumahnya” sahut warga yang lain. Aku tak peduli dengan desas desus mereka, dan terus melangkah menuju sebuah rumah yang atapnya sudah banyak berlubang, disitu ibuku tinggal sendirian. “Assalamualaikum.....”. “uhuk-uhuk, waalaikumsalam.. fatimah??? Alhamdulillah nak akhirnya kamu mau pulang juga. Baru saja ibu mau mengantar makanan dan buku-bukumu”, reaksi ibuku dengan sangat histeris. Aku pun terdiam, mengapa orang-orang bahkan ibuku sendiri terheran melihat kepulanganku ke rumah. Lalu ia pun menceritakan semua kejadian yang aku alami. Katanya aku sempat mengalami depresi yang sangat berat. Sampai-sampai aku memutuskan untuk meninggalkan rumah, dan memilih tinggal di gubuk di dalam rawa yang jaraknya agak jauh dari pemukiman warga. Ia mengatakan bahwa aku selalu menangis tanpa suara dan menuliskan keluh kesahku didalam sebuah buku. Sampai tiga buku harian terisi penuh oleh tulisanku dengan bercak tetesan air mata yang membekas di setiap lembarannya. Satu minggu lamanya aku tinggal di rawa yang sesekali ibuku menemaniku bermalam disana.       
Namun, ibuku tak menceritakan apa yang menjadi penyebabku mengalami depresi. Karena khawatir aku akan mengingat kejadian itu lagi dan kembali mengalami depresi. Aku pun tak ambil pusing, lantas saja  ku menyimpulkan mungkin aku terlalu baper, sampai mengalami depresi. Berkat tulisan di buku harian itu mungkin juga aku mulai tersadar dan mau kembali ke rumah.  Itu saja yang aku tulis hari ini, hidup akan terasa mudah, kalau kita tak mempersulit. *(Luk/Arta)

No comments:

Post a Comment