Kayak Ngak Punya Tuhan Aja - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 8 June 2016

Kayak Ngak Punya Tuhan Aja




Dok.Ishlah/Kondisi Tugas Skripsi Tokoh yang Terabaikan.
Araaita.com - Aku masih terdiam memandangi banyak buku, pena dan lembaran-lembaran penuh coretan merah yang menyayat lubuk hati. Semua alat itu berserakan di lantai kamarku. Laptopku pun dari tadi hanya berdiam di tempatnya. Tak ada pergerakan ataupun pergeseran bahkan getaran sama sekali. Debu-bebu tipis mulai bertumpukan di atasnya, sepertinya besok pagi akan ada sarang laba-laba di dedakatnya.
            Sebenarnya kasihan melihat laptopku yang terasing, hanya berdiam sendiri dan berselimut debu tipis yang bahkan tak mampu melindunginya dari hawa dingin. Saat aku mantapnya ia seolah berbisik, sudahlah lupakan sakit hatimu, ia hanya akan membuatmu terus tertindasas. Aku tak pernah merasa sebodoh ini sebelumnya. Coretan-cortan merah itu telah menghapus segala semangat dan harapanku. Skripsiku harus diubah lagi.
            Kuk kuruyuk...kuk kuruyuk.. dering suara alaram dari telpon gengamku yang sengaja kuatur untuk membangunkanku tepat jam 06:00 WIB kini menyentakku. Tak terasa aku hanya merenung memandangi coretan-coretan merah yang berserakan di lantai semalaman.
Tanganku mulai meraih pena yang tergeletak tak berdaya di lantai kamar. Aku ambil satu kertas kosong dan aku ambil pula lembaran penuh coretan merah itu. aku mulai memperhitungkan seberapa fatal kesalahanku dan dari mana aku harus memulai. Lembar per lembarnya benar-benar kuhayati, tak ku izinkan satu katapun terlewat, kusinergikan mata, hati, bibir dan tanganku hanya pada lembar perlembarnya.        
*****
            Tok tok tok,, suara di balik pintu terdengar di ketuk berkali-kali dan sangat menganggu. Akupun menghampiri pintu kamarku, aku membuka pintu itu secara perlahan. Sosok pria bertubuh kecil dan kurus, ia membawa beberapa kantung makanan.  “Ngapain di kamar terus, apa ngak bosan kamu, ini ada makanan?,” aku hanya mengacuhkan pertanyaan itu, menatapnyapun tidak aku lakukan, aku hanya menyempatkan diri untuk melihat jam di atas mejaku.
            Tak terasa ternyata jam itu menunjukan angka 09:40, apa aku mencari kesalahanku saja ada sekitar hampir empat jam, gumamku dalam hati. akupun kembali terfokus melihat lembaran-lembaran skripsiku, Arman hanya terdiam memandangi aku, sesekali ia ia memetik dawai gitar yang di peluknya sembari memakan makanan yang telah ia bawa. Sesekali ia menawarkan kepadaku, tapi aku menolaknya.
“Aku bosan, Aku punya game terbaru, ini game duel paling seru, tapi tidak akan asyik kalo aku main sendiri,” tuturnya menganggu konsentrasiku.
“Santai-santai sebentar lagi aku selesai,” dengan spontan aku menjawab kegusaran hati Arman, tanpa melihat keadaan. Aku pun dengan cepat membaca lembar terakhir, setelah itu akupun segera merapikan buku-bukuku yang berserak dan akhirnya aku bermain game dengan Arman.
“Aku janji permainan ini tidak akan lebih dari satu jam,” katanya meyakinkan aku bahwa ia tak ingin mengangguku menyelesaikan skripsi, aku hanya tersenyum tipis dan kamipun memulai permainan.
Setelah satu jam berlangsung, Arman memenagkan permainan itu, akupun merasa tidak terima, Arman mengajakku untuk menunda dan mengingatkanku pada skripsiku, “Sudahlah besok itu selesai, ayo main lagi,” ia melihatku dengan serius, sorot matanya seolah mencari cela apakah aku benar-benar bisa dipercaya olehnya. Tak lama kemudian ia mengiakan ajakanku, kami bermain satu rounde permainan lagi. Hasilnya tetap sama aku yang kalah.
“Sudah sekarang makan dulu dan selesaikan skripsimu,”
“Tidak-tidak....kita main lagi, pasti aku yang menag,”
“Kamu dari semalam tidak makan karena memikirkan skripsimu, bahkan aku datang dengan banyak makannpun kamu tidak menolehku, mau sampai kapan kamu masih bergelut dengan skripsi?,”
Aku hanya merenung menatapnya. ia memang sudah mampu menyelesaikan skripsinya dengan baik, dan sebentar lagi dia akan melakukan sidang. Ia pernah berkata kepadaku bahwa ia ingin aku dan dia bisa lulus bersama. ia sangat serius ketika menyelesaikan skripsinya, bahkan Anita pujaan hatinya datang untuk menganggunyapun,ia tetap mengabaikannya.
Mengingat itu semua, aku mulai mengerakkan tanganku untuk mengambil makanan yang ia bawa. “Kamu tidak tau betapa menyebalkan dosen pembimbingku, dan betapa sulit perjuagan yang harus aku lakukan,” tuturku mengeluhkan nasibku.
“Wahid..Wahid sudahlah aku sudah mengalami itu, aku paham itu kayak apa, kayak ngak punya Tuhan kamu ngeluh kayak itu, apa kamu tidak ingin menuntaskan skripsimu,”
“Kita itu sudah di fasilitasi, kita tinggal berusaha, apa coba yang ngak tersedia untuk kita, kebanyakan terlenanya kamu itu,” lanjutnya mengingatkan aku.
“Apa aku terlalu naif dengan diriku sendiri, hingga tak mampu memilih mana kebutuhan dan mana keinginan, hemm.. bahkan akupun gampang putus asa pada hal kecil,”
“Lah itu kamu tau, sudah lanjutkan makanmu, dan selesaikan skripsimu, aku pamit sudah ada yang menungguku,” jawabnya sembari membaca pesan di telepon gengamnya, kemudian ia pun pergi meninggalkanku. Setelah makan, akupun langsung mulai menyelesaikan rombakan skripsiku.*(Ish/Arta)
           

No comments:

Post a Comment