Peradaban Tanpa Batas - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 4 June 2016

Peradaban Tanpa Batas





Dok.Google/Foto anak kecil bermain tablet.

Araaita.com - Peradaban terbangun dari pengetahuan yang dikelalola dengan baik agar memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia. Di era kontemporer saat ini, peradaban mausia sudah tak lagi mengenal batas, baik batas wilayah, waktu, maupun usia. Segala bentuk batas tersamarkan oleh satu kekuatan besar yang sering kita sebut sebagai teknologi. Sebagai alat yang diciptakan untuk mempermudah segala hal, teknologi mampu menjelma sebagai siluman abadi yang menjaga garis batas segala hal hingga garis itu benar-benar tak terlihat.
Fonomena di jalan-jalan, pasar, dan berbagai ruang pablik yang ada, kini telah terpenuhi oleh ribuan manusia yang kehilangan identitas diri masing-masing. Tak ada perbedaan antara anak-anak, remaja, dewasa dan juga orang tua, semuanya terpikat dan lengket sekali dengan teknologi. Mereka berharap dengan teknologi merka tak akan pernah ketinggalan informasi dan lebih memiliki banyak wacana.
Berbagai pengetahuan dan informasi terakses tanpa terkendali, entah itu baik ataupun buruk semua bisa dinikmati dengan mudah, apalagi sekarang teknologi cyber telah dilengkapi dengan Fourth-generation (4G), suatu inovasi teknologi jaringan yang memiliki kecepatan akses sebesar 100MB/detik sampai 1GB/detik, baik didalam ruangan maupun diluar ruangan. Kecepatan akses tanpa batas inipun seolah menyihir manusia dalam ruang penuh informasi yang penuh warna.
Bermacam-macam media cyber mulai digandrungi, mulai dari sekedar blog, website, portal berita, bahkan sosial media serta banyak media streaming yang menyajikan berbagai informasi secara Update dan cepat, baik itu berbobot maupun tidak. Banjirnya sumber pengetahuan yang tanpa batas inipun telah mulai mengikis norma-norma kehidupan yang berbudi.
Hegemoni teknologi telah menciptakan mausia baru dengan peradapan baru yang begitu bebas. Manusia yang mulanya menjunjung tinggi nilai-nilai moral seolah telah mengabaikan nilai–nilai moral itu, seperti tidak sembarangan dalam berbicara, berpakaian dan juga bersikap. Tapi di era ini manusia menjadi suka berbicara tanpa terkendali, baik ucapan dari luapan emosi, bahkan aib orang lain. Dalam berpakaian pun mereka solah acuh dengan norma berpakaian sopan, kita sering menyebut fenomena ini dengan sebutan “berbakaian tapi telanjang”. Bahkan kekerasan dan pelecehan seksual pun merajalela.
Entah, apa yang terjadi dengan ilmu pengetahuan. Kenapa ia menghilangkan batas dan memberikan dampak negatif pada peradaban yang penuh keajaiban ini, salah siapakah ini sebenarnya?.
Di era Aufklarung ilmu pengetahuan dilahirkan dengan alasan sebagai pencerahan yang menghapus penindasan terhadap manusia. Namun di peradapan kontemporer ini secara tidak disadari ilmu pengetahuan telah menciptakan penindasan baru dengan menghilangkan batas segala hal. Dengan berbicara dengan emosinya artinya dia memberikan aib kepada dirinya sendiri, dengan berpaian tidak sopan mereka melcehkan diri mereka sendiri, dengan kekerasan dan pelecehan seksual mereka membuat hidup mereka dirundung ketakutan.
Hal ini sama seperti pembahasan dimasa lampau yang dibicarakan oleh Theodor W Adorno “umat manusia bukanya memasuki kondisi manusiawi yang sejati, mereka justru tenggelam ke dalam  barbarisme baru,”. Jika seperti ini bukankah ilmu pengetahuan yang memiliki kesalahan, atau pemilik pengetahuan yang tak mampu membelunggu pengetahuan dengan nilai yang baik.
Jika diamati lebih jauh, maka kita akan tau bahwa awal munculnya peradaban yang baik pasti ada kebijaksanaan dan hati nurani yang saling bersinergi. Dari dua hal itulah sebuah peradaban terbangun dengan sejuta keseimbangan yang menjunjung nilai budi pekerti luhur, serta membawa bangsa tersebut menuju kejayaan sejati. Indonesia pernah memiliki kejayaan itu, haruskah kita hanya terdiam dan membiarkan bangsa ini krisis moral?. Jika memang masih memiliki nurani serta akal untuk menuju kebijaksanaan, maka berfikirlah dan bertindaklah untuk mempertebal batas yang telah mengikis dimulai dari diri sendiri.*(Ish/Arta)

No comments:

Post a Comment