Surat Cinta dari Shofiyah - Araaita.com

Breaking News

Monday, 13 June 2016

Surat Cinta dari Shofiyah




Dok.Internet/Surat Cinta Shofiyah
Araaita.com - Dia bernama Jarwo, anak dari keluarga kaya raya. Orang tuanya seorang pekerja kantoran dan usahawan restoran ternama yang ada di sekitar kotanya. Kesibukan orang tuanya pada pekerjaan yang berlarut-larut tidak sepadan dengan kasih sayang yang mereka berikan kepada Jarwo. Jarwo yang sekarang masih menempu pendidikan di SMA 19 Bhina Bangsa itu, sering kali mendapatkan hukuman karena sering terlambat masuk kelas dan tidak pernah mengerjakan tugas dari gurunya.
Di suatu pagi, sinar mentari menyeruak masuk melalui cela cendela kamarnya. Bel jam beker di sebelah kirinya pun berbunyi dengan keras, sekeras bunyi loncenan bel di sekolahannya. Wajahnya yang masih loyo, terlihat enggan untuk pergi ke sekolah.
Tok....tok.....tok.........terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
“Masuk” jawabku dengan suara keras.
Rupanya itu bibi Darmi yang membawakan sarapan pagi.
***
Ketika Jarwo akan berangkat ke sekolah, suasana sepi tak henti menghantui rumah itu, hanya terlihat mbok Darmi yang sibuk memasak di dapur. Sedangkan ayah dan ibunya sudah memilih dunianya sendiri tanpa memikirkan anak sematawayangnya yang ingin di perhatikan lebih dari pekerjaannya. Jarwo selalu merasa terabaikan, sebab sikap orang tuanya kepadanya, kasih sayang sekaligus teman curhatannya pun ikut terusik. Berkali-kali aku menanyakan dimanakah ibu dan ayahku sekarang kepada mbok Darmi. Namun jawaban mbok Darmi sama saja, ayah dan ibuku setiap pagi sudah berangkat bekerja tanpa memberikan ucapan apapun untuk di sampaikan kepadaku.
***
Hampir satu minggu ini Jarwo tidak pernah terlihat di sekolah, entah kemana anak itu, teman satu kelaspun juga tidak menerima kabar apapun darinya. Setelah di telusuri oleh salah satu gurunya, ternyata Jarwo bermain dengan teman-temannya di sebuah diskotik yang penuh keramain itu. Tanpa menunggu lama, keadaan Jarwo yang sedang mambuk berat itu langsung dibawa gurunya menuju ke rumahnya. Keadaan semakin genting di dalam keluarga, banyak dari tetangga yang mencemooh anak semata wayangnya dengan ucapan yang tidak enak di dengar, orang tuanya yang ketika itu juga menerima surat peringatan dari sekolah merasa bersalah karena tidak bisa memeberikan perhatian serta kasih sayang lebih kepada Jarwo. Jarwo yang sekarang ini sudah tidak bisa dikendalikan oleh orang tuanya karena kelakunnya yang semakin tidak karuan di dalam masyarakat, orang tuanya berencana memindahkan sekolahnya di sebuah pesantren kecil yang jauh dari rumahnya.
“Besok ayah akan pindahkan sekolah kamu di pesantren ayah dulu” ucapnya dengan dengan suara yang amat keras. Suara kerasanya itu melengking tanpa bisa diganggu-gugat. Akhirnya Jarwo terpaksa memenuhi perintah ayahnya itu.
***
Perjalanan akan ke pesantren itu semakin dekat, entah apa yang nanti akan Jarwo lakukan ketikan sudah menjadi santri di pesantren itu. Terlihat di depan sudah di sambut oleh lelaki tua yang memakai sorban hijau dengan wanita seumurannya. Sudah  dua jam mereka masih saja belum menginggalkan ruangan ini, sekilas muncul wanita cantik berkerudung putih itu dari belakang, dengan membawa berbagai macam makanan ringan dan minuman untuk di suguhkan. Entah apa yang Jarwo pikirkan pada wanita cantik di depannya itu.Setelah perbincangan mereka terselesaikan, ada satu pesan yang mungkin tidak bisa terlupakan dalam diri Jarwo. “Jangan kecewakan orang tuamu,"
Hari mulai berganti, Jarwo yang sudah tidak lagi tinggal di rumah besaritu melainkan  mempunyai dunia lain yakni dunia pesantren. Hari demi hari Jarwo jalani, Sudah dua tahun Jarwo  lalui, jika Jarwo mengingatnya perilakunya yang sekarang ini tidak sebanding dengan perilakunya ketika masih dalam keadaan terpuruk dengan kurangnya perhatian orang tua dan lingkungannya. Sekarang Jarwo lebih mengerti arti hidup yang sebenarnya. Tanpa di sadari Jarwo termasuk orang yang berperstasi di pesantrennya. Wanita yang muncul pada waktu itu, sekilas membayangi Jarwo,Akan penasaran pada wanita berkrudung putih itu membuat Jarwo terus mencari tahu,siapakah sebenarnya wanita itu.Surat yang beramplop putih itu sering kali muncul dengan kata-kata yang indah tanpa tercantumkan nama serta alamatnya, ketika jarwo berjalan menuju kamarnya, ia melihat sebuah amplop surat kecil berwarna putih dari samping pintu kamarnya, entah apa dalam pikirannya pada surat itu.
Surat terakhir yang di pegang Jarwo itu terlihat tercantumkan nama (Shofiyah) tanpa adanya alamat rumah. Lalu,Jarwo pun membuka surat itu dengan penuh hati-hati. Dalam surat tersebut berisi kata-kata yang berbunyi “jika seorang wanita itu pantas untuk di cintai, maka janganlah ragu untuk memilikinya”. Akhirnya Jarwopun mengetahui wanita yang selama ini ia cari-cari. Dia adalah salah satu putri dari kiai pesantrennya yang selama ini, baru lulus dari perguruan tinggi di luar negeri (Al-azar Al-syarif).*(Lin/Arta)

No comments:

Post a Comment