Napak Tilas Sejarah Perjalanan Minke Dari Wonokromo Ke Sidoarjo - Araaita.com

Breaking News

Sunday, 12 March 2017

Napak Tilas Sejarah Perjalanan Minke Dari Wonokromo Ke Sidoarjo


Araaita.com - Tepat pukul 6: 35 Wib kemarin sore (Sabtu, 11/3/17) aku dan teman teman Arta pergi ke Sidoarjo untuk silaturrahim kerumahnya cak Rafa salah satu senior LPM Ara Aita. Sambil berjalan menaiki motor, aku lihati sawah sawah membentang luas, kanan dan kiri jalan dipenuhi dengan tanaman tebu, keadaan gelap dan senyap tanpa suara melengkapi hayalanku tentang keadaan sidoarjo dulu saat dalam cengkraman belanda. 
Aku merenung dan mengingat kembali sejarah perjalanan Nyai Ontosoros dan Minke dalam buku tatralogi pulau buruh karyanya Pramoedya anantatoer yang pernah aku baca.
Pram bercerita dalam bukunya tersebut mengenai perjalanan minke dan nyai ontosoros ke sidoarjo saat berlibur kerumah sauadaranya. 
Mereka pergi ke sidoarjo dalam rangka melepas kesedihan atas kematian annelies istri minke, selebihnya tujuan minke untuk melihat masyarakat pribumi lebih dalam lagi. Hal itu karena tuntutan dari seorang ibunya agar dia mengenal lebih dalam bangsanya sendiri, karena sejak minke sekolah di H.B. S dia seakan lebih cinta pada eropa daripada negerinya sendiri, mulai dari pakian dan gaya hidupnya selalu ke-eropaan. Bahkan cara bersikapnyapun ala eropa meski minke keluarga bangsawan jawa yang harus berpegang teguh pada adat jawa.
Di sidoarjo minke menginap di rumah Sastro Kassier saudaranya nyai ontosoros selama beberapa hari. Dalam kesehariannya minke hanya berjalan menelusuri kampung kampung sidoarjo. Dalam perjalannya, minke bertemu dengan salah seorang petani yaitu Trunodongso, yang tinggal bersama dengan istri dan empat anaknya. Trunodongso adalah seorang petani sidoarjo yang sangat tidak terima dengan tanam paksa yang dilakukan oleh belanda kepada penduduk sidoarjo. Ia memilih mati daripada menyerahkan diri kepada belanda.
Singkat cerita, dalam pertemuan tersebut Trunodongso bercerita kepada minke mengenai kecurangan-kecurangan pemerintah Belanda yang sering memaksa dan tidak menepati janji, sementara para petani tidak bisa berbuat apa-apa untuk menuntut hak mereka. Dari cerita trunodong dan pengamatannya terhadap kondisi petani, minke merasakan bagaimana hidup sebagai pribumi ‘aslinya’ yang bukan priyayi. Ia merasakan perbedaan antara dirinya Minke yang anak bupati kabupaten B sedangkan mereka hanya tani yang tidak punya kuasa apa apa. Dari pertemuan minke dan trunodongso inilah munculnya bibit bibit perlawanan kepada belanda. Dan darisinilah minke menggagas sebuah perubahan untuk merubah kenyataan rakyat sidoarjo yang di tindas oleh belanda.
Dalam hikayatnya, pram mengkatakan"Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka 'kemajuan' sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia. (Ach)

No comments:

Post a Comment