Pesawat Terakhir Untukmu - Araaita.com

Breaking News

Sunday, 12 March 2017

Pesawat Terakhir Untukmu


Araaita.com - Terhenti di tengah ruang dan waktu. Hangatnya sang fajar telah datang menyerbu. Terkutip sepasang bibir merah jambu yang melukiskan seribu ekspresi yang ambigu. Senyum. Tawa. Canda. Tangis. Bahagia. Beragam rupa dalam satu wajah yang masih bersembunyi dibalik selimut hijau muda. Entah siapa dia. Entah mimpi apa yang sedang ia jelajahi. Ini sudah pagi, bahkan matahari telah berdiri setinggi dua kaki. Tetapi, lelaki ini masih sibuk bermain-main dengan fantasi.“Kring... kring...kring...,” dering telepon menyeruak ke segala sudut ruangan. Menggelitik telinga lelaki bertubuh gempal yang sedari tadi masih mengulet manja di atas kasur empuknya. Tangannya mulai meraba-raba, mencari dari mana asal suara tersebut. Tak lama kemudian, “Halo, siapa disana?,” tanya dia dengan nada malas-malasan khasnya.
“Ini gue Fatir mbul, lo pasti masih molor ye? Kebiasaan banget sih. Hari ini kita mau presentasi pelajaran Pak Cus tau, awas jangan sampe telat ya!,” jawab Fatir, lelaki di seberang telepon yang langsung nyerocos dengan nada ketus. Tiba-tiba tut tut tut... telepon ditutup sepihak.
Fatir adalah sahabat Yohan satu-satunya. Dia telah mengenal sosok sahabatnya itu hingga bagian paling detail sekalipun. Mereka memang sangat kompak dan tak terpisahkan. Sampai-sampai orang-orang menyebut mereka sepertiperangko. Tak ada satu hari pun tanpa canda tawa mereka.
Waktu kecil mereka sering bermain bersama, dan tempat favorit mereka adalah rumah pohon di belakang rumah Yohan. Permainan yang sering mereka mainkan adalah pesawat-pesawatan. Fatir yang sangat menyukai bentuk pesawat terbang, sering meminta Yohan untuk membuatkannya sebuah pesawat dari kertas. Saking seringnya, sampai-sampai rumah pohon itu dipenuhi sekitar puluhan bahkan ratusan buah pesawat kertas hasil lipatan Yohan. Sampai suatu hari mereka saling berjanji untuk mewujudkan cita-cita masing-masing. Fatir memimpikan dirinya menjadi seorang guru, sebab di desa masih kesulitan tenaga pengajar. Sedang Yohan akibat kebiasannya sering membuat pesawat kertas malah keterusan, ia ingin menjadi seorang teknisi pesawat terbang seperti Pak B.J. Habibie. Keinginan Yohan tersebut sangat didukung oleh Fatir,
Perangko kembar ini pada akhirnya terpisah menuju persimpangan jalan masing-masing. Yohan memutuskan kuliah ke Jerman dan Fatir memutuskan kuliah di Indonesia. Dua sahabat yang terpisah oleh dua benua ini tak pernah saling bertatap muka. Terakhir mereka bertemu di rumah pohon di belakang rumah Yohan setelah pesta perpisahan sekolah. 10 tahun lamanya mereka hanya berkomunikasi lewat email. Rindu-rindu saling mereka ketik bergantian. Cerita-cerita tentang kehidupan mereka satu-persatu diutarakan. Betapa harmonisnya dua orang ini, meski jauh tapi hati mereka tetap utuh. Komunikasi yang senantiasa lancar tiba-tiba suatu hari terhambat. Yohan bingung ada apa gerangan dengan sahabatnya. Email terakhirnya pun tak dibalas oleh Fatir. Sehari dua hari. Setahun dua tahun. Dia mulai khawatir. Ada apa sebenarnya?
Liburan musim panas Yohan memutuskan untuk menunjungi sahabatnya sambil membawa sebuah miniatur pesawat buatannya sendiri. Dibawa serta istri dan anaknya sekalian dikenalkan pada sahabat karibnya Fatir. Sesampainya di Indonesia, kaget bukan kepalang bahagia yang ia bawa jauh-jauh dari Jerman hancur lebur saat tau ternyata Fatir telah meninggal dunia dua tahun yang lalu akibat sakit kanker hati. Yohan sangat sedih, ia begitu kehilangan arah. Matanya kering namun hatinya basah karena kejadian ini. Langitnya seakan runtuh. Jiwanya hancur. Semestanya bertabrakan. Bagaimana kau bisa meninggalkanku seperti ini,jerit hatinya tanpa suara.
Dengan setengah terhuyung-huyung lelaki setengah baya itu melangkah pergi ke rumah pohon di belakang rumah lamanya. Rumah pohon tersebut telah tampak tua, kulitnya mengering dan daunnya pun telah banyak meninggalkan dahan.KetikaYohan membuka pintu rumah pohon itu, seperti terbuka pula pintu kenangan masa lalu mereka berdua. Nampak sisa-sisa pesawat kertas yang dulu ia lipat bersama Fatir. Suasananya hening, sakit, sedih dan marah berdesakan memenuhi hati Yohan. Belum sempat Yohan memberi tahu Fatir tentang kesuksesannya, dan tentang pesawat terbang sungguhan yang telahberhasil iya buat untuknya. “Ini untukmu Fat, pesawat terakhir untukkmu, benar-benar terakhir...,” tangisnya pecah untuk kedua kalinya. (New)

No comments:

Post a Comment