Sarjana UINSA, Apa Yang Anda Pikirkan??? - Araaita.com

Breaking News

Sunday, 19 March 2017

Sarjana UINSA, Apa Yang Anda Pikirkan???


Araaita.com - Selamat datang di dunia yang penuh dengan kesedengan berpikir. Mungkin itulah kata yang pas sebagai pengantar dalam tulisan ini untuk menyapa pembaca khususnya sarjana UINSA yang baru kemarin dikukuhkan. Dari tulisan ini bukan maksud menjelekkan siapa siapa, atau memojokkan para lulusan UINSA, tapi ini hasil penelusuran dan renungan penulis terhadap fenomena yang terjadi selama beberapa tahun ini kepada serjana UINSA. 
Kemarin Sabtu (18/3), saat UINSA menggelar acara wisuda, penulis hanya keluyuran di luar saat acara sudah selesai. keluyuran bukan karena tidak punya kerjaan tapi menyapa para wisudawan penasaran ingin tahu apa yang dipikirkan oleh para mahasiswa UINSA setelah ia menjadi sarjana. Istilah kerennya melakukan survei dan wawancara.
Survei yang dilakukan oleh penulis ini tidak sama dengan survei penelitian lainnya, karena penulis hanya untuk memastikan saja apa yang dipikirkan oleh mahasiswa UINSA setelah mendapatkan gelar sarjana, biar tidak kalah sama Blackberry Mesengger (BBM) yang perhatian banget kepada kita, karena setiap membuka berandanya akan muncul pertanyaan apa yang anda pikirkan?.
Oke kawan, dari hasil survei kecil kecilan terhadap 40 mahasiswa dari total keseluruhan 545 lulusan strata1 (SI) UINSA ini, ternyata mereka mempunyai beberapa kecendrungan. Diantara kecendrungan tersebut adalah 32% lulusan UINSA tidak tahu mau kemana, 25% bekerja, dan 20% mereka ingin lanjut kuliah S2. Serta 8% mereka membantu orang tua, terahir 15% berkeluarga. 
Bagi sarjana yang baru keluar dari perguruan tinggi, Pertanyaan "Apa yang anda pikirkan setelah lulus jadi sarjana?, kemudian dilanjut dengan pertanyaan apa yang bisa anda lakukan setelah menjadi sarjana?", sama dengan pertanyaanya malaikat munkar ketika bertanya " Siapa Tuhanmu?, apa Agamamu" di alam kubur. Mereka bisa menjawab apabila waktu di dunia dia beriman dan banyak amal shaleh, tetapi akan ditindas apabila tidak beriman dan tidak punya amal kebaikan waktu di dunia, karena tidak bisa menjawab. Semua tergantung amal perbuatan kita.
Begitupula mahasiswa, mereka akan bisa menjawab mau ini dan itu, saya bisa begini dan begitu jika waktu kuliah punya bekal ilmu pengetahuan dan punya keahlian, tetapi kalau tidak, dia akan bingung menjawab apa dan pada akhirnya akan tertindas oleh kerasnya kehidupan. hidup ini memang keras kawan.
Kebingungan semacam ini, kerap kali terjadi dikalangan sarjana lulusan UINSA. Dan persoalan semacam ini bukan tentang seberapa tahun usia orang tersebut, atau seberapa lama ia kuliah di perguruan tinggi, atau bahkan bukan seberapa tinggi nilai yang di dapatkan. Tapi juga ditentukan dari seberapa dewasa dalam bersikap dan mengambil keputusan dalam menjalani hidup. Dan seberapa banyak ilmu pengetahuan yang ia punya, serta seberapa banyak keahlian yang ia kuasai.
Bagi mereka yang merasa belum yakin dengan kemampuan diri, pasti akan merasa hilang arah mau ke mana setelah ini. Melamar kerja pun masih belum yakin diterima, mau meneruskan sekolah lagi sudah merasa bebal dan kadang tidak punya modal. Di sisi lain, mendapati kenyataan bahwa ada teman seperjuangan yang telah berani memutuskan untuk menikah setelah wisuda, kecenderungan pinginpun jadi latah mengetuk hati.
Dan akan muncul pertimbangan, apa menikah saja ya?. Apa memulai bisnis saja ya? Tapi dari mana dananya? Siapa yang bisa membantu? Bagaimana jika bisnis ini gagal ya? Dan seterusnya. Nah ketika seorang sarjana terjebak pada pertanyaan pertanyaan ini, sudah di pastikan dia akan mengalami depresi dan tidak percaya diri. 
Maka sebagai langkah yang tepat, sebelum ia menjadi sarjana, maka ia harus punya bekal keilmuan dan keahlian. (Ach)

No comments:

Post a Comment