Aksi Tuntut Birokrasi - Araaita.com

Breaking News

Friday, 14 April 2017

Aksi Tuntut Birokrasi



doc. Repro Internet
John, sapaan akrabku. Malam ini aku nongkrong di sebuah warkop dekat kampusku. Di situ, aku nongkrong dengan sahabatku, Aga dan Syahrul. Malam ini kami berdiskusi tentang kebijakan birokrasi yang akhir-akhir  ini mulai membatasi ruang gerak mahasiswa untuk berpendapat dan berorganisasi.

Setelah lama ngobrol, tiba-tiba Aga bertanya kepadaku, “John, menurutmu gimana kalau besok pagi kita masuk ke ruang dekan untuk ajukan permintaan adakan dialog?”
Lalu ku jawab, “Ahhh sudahlah, sudah beberapa kali kita ajukan untuk dialog dengan birokrasi tapi tidak pernah direspon.”

“Betul tuh Aga, aku mulai bosan nih di PHP terus sama birokrasi di fakultas,” lanjut Syahrul merespon pertanyaan Aga dengan suara keras.

“Terus apa yang harus kita lakukan agar birokrasi bisa mendengar aspirasi kita?” tanya Aga.

“Lebih baik besok pagi kita aksi demonstrasi di depan fakultas saja, kita ajak mahasiswa yang lain bergabung dengan gerakan kita,” jawabku.

“SEPAKAT, saya sepakat sekali dengan usulan kamu John,” jawab Syahrul sambil tersenyum dan mengangkat kedua jempolnya.

“Kalau begitu besok pagi kita kumpul di fakultas!!” lanjutku.

Kemudian kami bertiga mulai membahas isu apa yang akan diangkat dan teknis-teknis di lapangan saat aksi besok pagi. Setelah itu dilanjutkan pembuatan pernyataan sikap. Pernyataan sikap ditulis oleh Syahrul, sebab dia yang lebih mahir diantara kami bertiga. 30 menit berlalu pernyataan sikap yang ditulis Syahrul akhirnya selesai juga. Kemudian kami memutuskan untuk pulang istrahat.
“Ingat besok pagi Rul, jangan sampai terlambat bangun!!” teriakku mengingatkan Syahrul.
“Tenang saja, malam ini aku nginap di rumah Aga,” Sanggah Syahrul.

“Ingat Ga, jangan lupa bangunin Syahrul, sebab dia sangat susah dibangunin,” ucapku.

“Hahaa, oke deh, kalau perlu aku pakai toa, sekalian tes toa yang akan di pakai orasi besok,” jawab Aga sambil tersenyum.

Pagi-pagi di kampus tepatnya di koridor fakultas. Pagi itu matahari muncul menyapa dengan senyumnya yang hangat seakan dia memberikan isyarat kalau dia berada di pihak kami dan memberikan restu akan niat baik kami. Tidak lama saya tiba, Aga dan Syahrul akhirnya tiba juga.

“Selamat pagi kampusku, selamat pagi birokrasi kampus,” teriak Syahrul sambil merangkul Aga yang berada di dekatnya. Pagi itu Syahrul terlihat bagitu bersemangat.

“Selamat pagi sahabatku,” lanjutku.

Aga kemudian membeli sebotol air mineral dan tiga bungkus roti. Kami mengisi perut sebelum melakukan aksi di depan fakultas, tapi sebelum itu kami mengumpulkan teman-teman untuk bergabung dalam aksi. Setelah semua siap kami mulai berjalan menuju depan fakultas. Tiba-tiba seketika semuanya hening bahkan angin tidak berani menghalagi langkah kami.

Di depan fakultas, Hanya suara serinai yang terdengar, itu menandakan mulainya orasi kami. Hari itu Syahrul bertindak sebagai kordinator mimbar “HIDUP MAHASISWA, HIDUP MAHASISWA, HIDUP MAHASISWA,” suara lantang teriakan Syahrul memulai aksi kami. Seketika para mahasiswa mulai bermunculan melihat aksi demonstrasi kami, semua mata hanya tertuju pada kami.
“Untuk menjaga ritme gerakan saya persilahkan sahabat John untuk menyatakan orasi ilmiahnya,” lanjut Syahrul sambil menatapku dan tersenyum, seakan tatapannya mengatakan kepadaku tunjukan aksimu sahabatku.

“Assalamu’alaikum wr. wb, Hidup mahasiswa, Hidup Mahasiswa, Hidup mahasiswa,” teriakku.

“Wa’alaikum salam wr.wb, Hidup mahasiswa, Hidup Mahasiswa, Hidup mahasiswa,” jawab kawan-kawan yang berada di lokasi aksi dan di sekitaran lokasi aksi kami. Jawaban yang begitu semangat dari kawan-kawan memberikanku energi positif dan membuatku bersemangat dan seakan tak tergoyahkan.

“Pagi yang cerah ini kami menolak keras kebijakan birokrasi fakultas yang kontra terhadap mahasiswa. Pagi ini aku ingatkan kepada para birokrasi kampus, kami menolak diam dan kami akan terus melawan kebijakan birokrasi yang kontra terhadap mahasiswa. Meskipun kalian mengancam kami dengan drop-out. Mungkin sekian orasi ilmiahku, Assalmu’alaikum wr. wb,” lanjutku.

Setelah saya orasi pihak birokrasi langsung menuju ke lokasi aksi kami kemudian membubarkan paksa aksi kami dan menahanku bersama Aga dan Syahrul.

Kami bertiga dimasukkan ke ruang birokrasi fakultas. Kemudian para pihak birokrasi memberikan kami pertayaan bagitu banyak. Lalu pimpinan birokrasi meminta kami untuk tidak aksi lagi dan sebagai gantinya nilai-nilai kami yang jelek akan dirubah jadi lebih baik. Tapi kalau menolak kami akan didrop-out dari kampus. Akhirnya, setelah lama terdiam kami bertiga memutuskan tidak akan diam melihat birokrasi yang sewenang-wenang terhadap mahasiswanya dan tidak ingin berada dalam sangkar emas birokrasi. Dengan keputusan kami bertiga ini, dengan itu pula birokrasi memberikan kami skorsing dua semester. Meskipun begitu kami keluar dari ruang birokrasi dengan kepala tegak.

Pasca skorsing. Bermunculan gerakan-gerakan mahasiswa yang mengkritisi segala bentuk kebijakan birokrasi yang kontra terhadap mahasiswa, mereka tidak takut lagi terhadap segala bentuk ancaman yang dilontarkan oleh para birokrasi kampus. Melihat itu semua, kami bertiga tidak ingin menjadi penonton yang hanya diam begitu saja melihat kawan-kawan mahasiswa yang lain berjuang. Kami tetap ikut berjuang bersama mereka mengkritisi setiap kebijakan birokrasi melalui tulisan, karikatur, teatrikal dan kreatifitas lainnya.


Oleh: Moh. Muchlisin
*Penulis adalah mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Semester III
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment