Filosofi Belajar Dalam Syair Kitab Alfiyah Ibnu Malik - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 15 April 2017

Filosofi Belajar Dalam Syair Kitab Alfiyah Ibnu Malik

Foto ilustrasi. Dok. Repro internit 
Araaita.com - Baik buruknya niat seorang atau ikhlas tidaknya  seseorang dalam proses belajar akan sangat mempengaruhi terhadap hasil yang akan di dapatkan. Dalam kitab ilmu nahwu Alfiyah Ibnu Malik sebuah kitab klasik yang biasanya diajarkan di pesantren sebenarnya diajarkan bagaimana semestinya dan bagaimana seharusnya kita dalam menuntut ilmu atau belajar. Setidaknya ada  Lima point penting yang bisa kita teladani dan bisa kita ambil pelajaran dari bait nadhoman atau syair kitab Alfiyah Ibnu Malik ini. Bait syair Alfiyah tersebut yang berbunyi:
Bil jarri wat tanwini wan nida wa al  # Wa musnadin lil ismi tamyizun hashal
Adapun pengertian dari bait syair diatas jika kita tafsirkan kedalam urusan belajar akan mengandung banyak pengertian. Pengertian pertama; Seorang thalibul ‘ilmi (pelajar) harus mempunyai dan bersifat  jar. Jar  disini diartikan sebagai ketundukan dan kepatuhan. Hal ini dimaksutkan bagi kita yang sedang mencari ilmu harus mempunyai sikap tunduk dan tawaduk terhadap semua perintah guru atau perintah tuhan kita. Dalam kitab ta’limul mutaallim dikatakan ; Ilmu yang paling utama ialah ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku
Kedua adalah tanwin. Tanwin disini bisa dimaknakan dengan semangat yang membara dan tidak gambang putus asa. Dengan adanya kemauan yang tinggi seorang pelajar akan mencapai apa yang ia inginkan. Sesuai dengan apa yang di sabdakan nabi Muhammad Saw yang artinya “barangsiapa yang sungguh sungguh maka ia akan dapat”
Adapun sifat Ketiga yaitu, nida’. Kata nida’  disini bisa diartingan mengingat kembali apa yang dipelajari  dan mempelajari apa yang disampaikan oleh gurunya. Kata nida’ juga bisa diartikan berdzikir. Selaras dengan dengan ungkapan syekh Zarnuji pengarang kitab ta’ limul mutaallim yang mengatakan setiap orang Islam yang mencari ilmu wajib mengisi seluruh waktunya dengan berzikir kepada Allah, berdo'a, memohon seraya merendahkan diri kepada-Nya.
Keempat yatu al, maksut dari al disini yaitu berfikir. Karena berfikir manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari makhluk Allah lainnya. Maka dari itu, setidaknya seseorang yang ingin menggapai sesuatu seyogyanya menggunakan akal pikirannya sebaik mungkin, dengan tidak menggunakannya pada jalan yang salah, tidak berpikiran licik. Tidak seperti apa yang jamak dilakukan para aktivis yang kadang menggunakan akal pikirannya untuk kepicikan
Kelima yaitu musnad ilaih. Kata musnad ilaih disini bermakna ikhlas dan tawakal serta berdoa kepada sang kholik yang maha memberi dan pemberi. Berdoa dengan usaha tawakal dengan hasil. Itulah pepatah akhir untuk pencari ilmu, agar memasrahkan segala urusan belajarnya kepada Allah Swt, dan yakinlah bahwasanya proses tidak akan menghianati hasil. Sejatinya lima konsep di atas tidak hanya untuk thalibul ‘ilmi semata, akan tetapi lima konsep tersebut juga untuk merka yang ingin menjadi lebih baik dan lebih maju, termasuk menafsirkan para pemimpin kita yang berada dalam angka krisis saat ini. (Ach)


No comments:

Post a Comment