Lantunan Musik untuk Anggi - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 14 June 2017

Lantunan Musik untuk Anggi

Foto: Ilustrasi. (dok. arta)
Araaita.com - Menjelang pagi fajar pun menyambut dengan senyuman terindahnya. Diiringi hembusan angin yang tertiup kencang, tiba-tiba datang menyambut Anggi ketika dia membuka jendela kamarnya. Tak ia sangka begitu indah pemandangan sekitar rumah neneknya yang berada di pedesaan. Bunga-bunga pun bermekaran nan cantik secantik wajahnya.

Matahari sudah sangat terlihat dengan begitu memancarkan sinarnya. Anggi diajak oleh sang kakek untuk mengunjungi persawahan miliknya. Dia begitu semangat beranjak dari kamar tidur. Padahal sang kakek masih mempersiapkan perkakas yang akan mereka bawa ke ladang, tetapi anggi ingin cepat-cepat menuju tempat itu. Mereka pergi mengendarai sepeda ontel milik kakeknya. Bekal serta perkakas yang mereka bawa, ditaruh di samping kiri maupun kanan sepeda ontel zaman dahulu itu.

Kakek pun mengayuh dengan riang gembira, tak mau kalah dengan kakek, anggi pun melantunkan lagu-lagu dengan suara yang begitu merdu nan indah. Kakek pun memuji suaranya, anggi tersipu malu saat itu. “Wah cucuku suaranya merdu sekali," percakapan itu terus berlanjut disepanjang jalan menuju sawah. Anggi adalah anak kota yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di persawahan yang begitu banyak lumpur. Dia begitu sangat menikmati suasana di persawahan tersebut.

Jeritan burung mewarnai hari itu di mana anggi berada di hentangan sawah yang luas. Dia bersama kakeknya mulai melakukan aktivitas layaknya seorang petani. Anggi membantu membersihkan rerumputan yang tumbuh di sawah milik kakeknya. Hingga wajah mungilnya itu terlihat kusut, dia terlihat kecapekan sekali. Tepat matahari sudah diatas kepala anggi, dia beserta kakeknya pun menghentikan aktivitasnya.

Setelah itu dia menuju gubuk kecil yang beratapkan dedaunan kering di tepi sungai itu. Disitu ternyata sudah ada sang nenek yang mempersiapkan makan siang mereka. Seketika itu anggi langsung mengambil secangkir minum lalu langsung ia teguk secara perlahan. Kemudian sang nenek pun memberinya seporsi makan yang ditaruh di atas daun pisang. Anggi langsung menyantapnya dengan lahap. Waktu makan telah usai, anggi beserta kakeknya melanjutkan aktivitasnya hingga menjelang sore.

Matahari pun menenggelamkan tubuhnya, anggi serta kakek bergegas menuju rumah. Sambil menuju rumah anggi di sepanjang jalan selalu bernyanyi, sang kakek menikmati suara cucu cantiknya itu. Sesampainya di rumah anggi bergegas mengambil sehelai kain yang langsung dibawanya ke kamar mandi. Setelah itu dia mengambil air wudlhu dan langsung mengikuti sholat berjamaah bersama kakek dan neneknya.

Waktu pun sudah malam, mengaharuskan anggi tidur agar keesokan harinya dia bisa melakukan aktivitas dengan tubuh yang segar. Keesokan harinya, nenek pun membangunkan cucu sematawayangnya yang masih tertidur pulas untuk membantu memasak di dapur neneknya. Disela-sela masak anggi pun bernyanyi dengan riang, sampai-sampai tercium bau menyengat dari arah kanan anggi menggoreng, dan itu adalah nasi yang hampir saja gosong.
Nenek pun langsung tercengang, tetapi dia tak memarahi anggi melainkan malah menasehatinya. Ketika itu di rumah nenek ada hajatan kecil-kecilan untuk mendo’akan keluarga kecilnya. Anggi membantu neneknya yang paruh baya itu mulai fajar yang belum menampakkan wajahnya hingga fajar bersembunyi dari orang-orang desa. Semenjak itu dia mulai kecapekan, anggi pun tak mengikuti do’a bersama tersebut.

Dibalik sifatnya yang periang Anggi, sebenarnya mempunyai penyakit leokima. Yang mengharuskan ia istirahat cukup, tidak boleh sampai kecapekan. Seketika itu kakek dan neneknya sangat khawatir akan keadaannya. Tak lama kemudian telepon berbunyi, orang tua anggi ternyata yang menghubungi. Menanyakan bagaimana keadaan anggi serta kakek dan nenek. Percakapan itu berlangsung lama, kemudian anggi dibawa ke puskesmas terdekat di desa. Sayangnya di puskesmas itu peralatannya masih minim, sehingga anggi tidak sadarkan diri.

Seminggu rawat inap di rumah sakit membuat anggi yang biasanya periang dan suka menyanyi, seminggu itu rasanya sepi tanpa canda tawanya. Wajahnya yang cantik itu terlihat pucat sekali. Tetapi dia tetap semangat dan ingin kembali ke desa bersama nenek serta kakeknya.

Tak lama kemudian datang lah dua orang yang berbaju corak batik muncul dari luar pintu. Ternyata itu sang kakek dan neneknya dari desa, mereka sangat kangen dengan anggi. Kakeknya mencoba menghibur anggi agar tetap ceria. Kakeknya mengajaknya menyayi, tetapi anggi tak mau, dia menyuruh sang kakek untuk bernyanyi. Ternyata sang kakek meskipun dia sudah tua suara tetap merdu sekali. Sampai-sampai anggi heran mendengarkan sang kakek, melantunkan lagu untuknya.

Anggi pun merasa terhibur akan kedatangan kakeknya yang melantunkan lagu untuknya. Anggi beranggapan bahwa keluarga kecilnya ini, adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki. Anggi bersyukur sekali memiliki kakek dan nenek seperti itu, anggi mendapatkan pelajaran yang banyak dari mereka. Serta kebersamaan mereka masih kental sekental madu. (tyas)


No comments:

Post a Comment