PC PMII Surabaya Gelar Seminar Kebangsaan - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 17 June 2017

PC PMII Surabaya Gelar Seminar Kebangsaan

Dok. Faris/Araaita


Araaita.com – Pengurus cabang pergerakan mahasiswa islam indonesia (PMII) Surabaya menggelar seminar yang bertajuk “Menolak Radikalisme dan Faham Anti Pancasila” pada Jum’at, 16/06/2017 sore tadi di Aula Resto Agis, Jl Ahmad Yani 109 Surabaya.
            Acara yang di ikuti oleh ratusan kader PMII se-Surabaya tersebut, juga di hadiri oleh beberapa perwakilan cipayung, seperti Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya.
            Ketua Cabang PMII Surabaya, Fahrur Rosi mengatakan bahwa kegiatan tersebut di adakan dalam rangka membentengi mahasiswa dari paham radikalisme yang masih terus tersebar dipelbagai tempat. “yang meskipun secara kelembagaan organisasi radikalisme sudah mulai di bubarkan pemerintah, namun doktrinnya masih terus menyebar,” Kata Fahrur Rosi
            Disisi lain menurut Muktafi Sahal, salah satu narasumber acara tersebut menjelaskan, bahwa cikal bakal radikalisme muncul dari iman dan sikap yang eksklusif. Namun disisi lain, masyarakat juga harus memelihara iman ekslusif sebagai sesuatu yang diyakininya.
            “Catatannya, kita harus melihat orang lain, yang mempunyai keyakinan yang berbeda dengan kita,” tutur imam masjid Agung Al-Akbar Surabaya tersebut.
            Sementara itu, Ahmad Zainul Hamdi yang turut menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa, pengakuan terhadap pancasila sebagai landasan berkehidupan serta berpancasila merupakan suatu yang tidak dapat di tawar.
            “Kalau tidak mau dengan pancasila, ya keluar saja dari indonesia, jangan malah ngerusak,” kata pria yang juga staf pengajar di UINSA tersebut.
            Berbeda dengan Muktafi dan Zainul Hamdi, Hari Fitriyanto salah satu dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR) menyebut, bahwa apa yang terjadi saat ini bukanlah radikalisme, melainkan Barbarisme baru.
            Lebih lanjut Hari Fitriyanto menjelaskan, bahwa salah satu yang mengkhawatirkan adalah sikap Barbarisme Intelektual, dimana masyarakat cenderung memeluk erat sebuah pandangan secara dogmatis.
            “Saya melihat tradisi teror bukan muncul baru-baru ini, tapi bisa kita lihat pada masa Hitler,” Kata pria kelahiran Surabaya itu.
            Sementara itu menurut Hari Fitrianto, di timur tengah, seperti Mesir dan beberapa negara komunis justru pancasila di jadikan kurikulum pendidikan di negara tersebut. “Bahkan pancasila diajarkan di Mesir, saat rakyat Mesir bingung bagaimana menghungkan agama dan negara,” ungkap Hari. (Ris)

No comments:

Post a Comment