Saksi Insiden Dilli - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 31 August 2017

Saksi Insiden Dilli

doc. Repro Internet

Buku berjudul Trilogi insiden karya Seno Gumiro Ajidarma atau yang sering disingkat SGA ini sebenarnya buku lama, setiap bagian sebenarnya dulu pernah diterbitkan secara terpisah, dan beberapa kali mengalami cetak ulang, sehingga Seno pun berinisiatif untuk menjadikan dalam satu buku, yang memang pada dasarnya ketiga buku ini saling menceritakan tentang tragedi santa cruzt, atau insiden Dili, kisah nyata  pembantaian orang-orang di Timor-Timur pada masa orde baru.

Bagian pertama pada buku ini berisi kumpulan cerpen saksi mata , dan merupakan trilogi pertama yang terbit pada tahun 1994. Kumpulan cerpen, saksi mata ini menceritakan keadaan seorang laki-laki dengan wajah berdarah-darah karena kedua matanya dicongkel namun  tetap semangat untuk menegakkan keadilan di pengadilan.

Setiap cerpen yang disampaikan pada bagian ini menceritakan dengan kacamata yang berbeda-beda sesuai tugas tokoh yang berbeda, tetapi masih terkait dengan insiden Dili. contohnya saja telinga, menceritakan tentang kekasih seorang tentara yang selalu dikirimi telinga musuh,ia beranggapan jika sang pacar adalah seorang pahlawan, namun nyatanya sang kekasih tak tau mana lawan dan mana kawan hingga ia pun membunuh semua orang yang patut dicurigai.

Bagian kedua, sebuah novel tentang jazz, parfum dan insiden. Novel Jazz, parfum dan insiden ini merupakan kisah seorang wartawan yang jenuh membaca setumpuk laporan situasi ketika semua para demonstran ditembak oleh para tentara, ketika mereka tau masih ada orang yang  bergerak atau hiidup, mereka tak segan langsung memukul kepalanya dengan batu sampai mati.

Di insiden ini, seno mencantumkan semua laporan tentang insiden Dili pada bagian ini  secara gamblang. Untuk mengusir kejengahan tokoh “aku “ yang seorang wartawan, ia menedengarkan music jazz, menghafalkan nama-nama parfum, yang kemudian ia gabungkan dan dijadikan filosofi kehidupan yang selalu berimprovisasi.

Sedangkan, bagian ketiga merupakan kumpulan essai ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. kumpulan essai ini mengisahkan kondisi si penulis beserta kawan-kawan majalah jakarta jakarta yang dibredel dan dipecat hampir 2 tahun karena penerbitan insiden Dili.

Banyak pres yang dikecam oleh penguasa indonesia karena di anggap merugikan penguasa padahal itu adalah kisah  nyata , sehingga membuat dunia mengecam tindakan sepihak itu. Dengan kecerdasan Seno seperti judul bagian ini, pepatah mengatakan ketika jurnalisme dibungkam maka sastra harus bicara, sehingga seno menyampaikan insiden tersebut dalam bentuk sastra.

Pemilihan diksi pada buku trilogi insiden ini sangat bagus, banyak sindiran-sindiran keras seperti sarkasme. Pembawaan si penulis sangat pawai, sehingga  membuat para pembaca seakan-akan berada dimasa lalu, begitu sadis. Tidak hanya itu, dengan membaca buku ini pula membuat kita mengenang kisah pahit orang-orang timur-timur, karena sejarah bukan untuk dilupakan.

Karena ketegangan insiden Dili, sepertinya Seno memberikan para pembaca jeda untuk menikmati musik jazz, yang membuat pembaca lebih mengenal bahkan mengerti pemaknaan musik jazz yang sebenarnya. Tak lupa pemaknaan musik jazz itu ia hubungkan dalam filosofinya. Dan ternyata, Seno juga hafal apa saja nama-nama parfum, yang sepertinya ia juga hafal asal mula kenapa parfum itu dinamakan.

Namun kekurangan dalam buku juga tak bisa dipungkiri, banyak kata-kata asing yang tidak diketahui pembaca, sedangkan catatan kaki pada bagian jazz, parfum dan insiden itu diletakkan pada akhir cerita ketika buku itu membahas tentang bagian tiga yaitu kumpulan essai, membuat para pembaca harus mengingat-ingat nomer berapa yang tidak dimengerti.  Dan yang lebih menyulitkan lagi berita-berita yang memakai bahasa inggris, tetapi tidak ada terjemahan secara detail, bahkan terdapat banyak sensor dari pengarang sendiri.

Resentator: Intan Ayu Amalia

No comments:

Post a Comment