Syair ‘Guru’ Kahlil Gibran dan Saran Prof. Akhmad Muzakki Untuk Calon Pendidik - Araaita.com

Breaking News

Friday, 22 September 2017

Syair ‘Guru’ Kahlil Gibran dan Saran Prof. Akhmad Muzakki Untuk Calon Pendidik

Dok. www.uinsby.ac.id
        Araaita.comDi era millenial seperti saat ini, masyarakat dunia tidak lepas dari Teknologi Informasi (TI) seperti gadget. Kondisi ini, menurut Prof. Akhmad Muzakki merupakan tantangan baru bagi dunia pendidikan. Ia menambahkan, lambat laun TI bisa menyisihkan peran tenaga pengajar sebagai sumber wawasan dan pengetahuan. Kemudian yang menjadi pertanyaan bagaimana peran guru yang sebagai sumber pengetahuan kedepan? mengingat anak-anak generasi ‘Z’ tidak lepas dari gadget dan budaya instan, bergantung pada internet.

Kondisi  tersebut membuat Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UINSA itu memberikan masukan dan saran terkait apa yang harus dipersiapkan bagi mahasiswa UINSA dengan background jurusan kependidikan kedepan. Beberapa saran penting disampaikan Guru Besar bidang Sosiologi itu dalam seminar bertemakan “Peran Media Sebagai Wahana Pendidikan Masyarakat” yang diselenggarakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edukasi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) di Gedung SAC Lantai 3, Selasa, 19 September lalu.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Ahli Ekonomi Islam (DPW IAEI) Jawa Timur itu, ada beberapa sosok yang mempengaruhi anak pada masa perkembangan ditinjau dari jenjang pendidikannya. Sosok ibu begitu dominan pada pengetahuan anak pada masa Golden Age. Kemudian ketika SD,  figur guru di sekolah mendominasi ketimbang orang tua. Menginjak SMP, pengaruh teman lebih besar dan puncaknya saat SMA, ketiga komponen-komponen orang tua, guru dan teman saling berebut pengaruh dan ditambah pengaruh lingkungan. Tapi menurutnya, teori tersebut relevan melihat kondisi 10 tahun lalu, saat kekuatan IT tidak se-dahsyat seperti saat ini. “Teori itu 10 tahun lalu, sekarang mulai SMP ada faktor lain, yaitu kekuatan sosmed atau IT,” ujarnya.

Praktis, TI berpotensi menggeser posisi tenaga pendidik dalam pemerolehan pengetahuan bagi pelajar. “Posisi guru sebagai sumber pengetahuan saat ini sudah tergantikan oleh IT, maka kepada adik-adik sekalian, jangan sampai kehilangan sumber yang nomor dua yakni, guru sebagai sumber keteladanan,” imbuhnya.

Menurut Prof Muzakki, pendidikan pada era ini harus berubah. Tantangannya semakin jelas, yakni kecanggihan Teknologi Informasi yang semakin luar biasa. Maka mahasiswa diharapkan agar memperkuat kemampuan selagi dikampus. Yang pertama, Hard Competency dan yang kedua, Soft Competency, tidak unggul secara akademik saja tetapi juga non akademik.

Dalam kaitan pemanfaatan TI, Prof. Muzakki menghimbau mahasiswa lebih bijak meggunakan TI. Pertama dipesankan agar kaum intelektual berhati-hati menyebarkan informasi. Pertama pastikan kebenarannya. Begitupula saat menerima informasi. Pesan yang kedua, mahasiswa harus tahu batas menggunakan gadget sebagai sarana media sosial. Intensitas belajar jangan sampai dikesempingkan. “Sebetulnya kita ini mahasiswa atau selebritis? Kalau selebritis kita interkonektif terus,” ujarnya yang langsung diikuti gelak tawa peserta seminar.

Prof. Muzakki menambahkan bahwa masalah dalam dunia pendidikan saat ini terletak pada konsentrasi menjaga konsentrasi. “Lebih kuat mana membaca sosmed atau membaca buku?,” tanya prof Muzakki kepada segenap peserta seminar yang hadir.

Sebelumnya, Prof. Muzakki  juga berpesan mahasiswa harus memperkuat dua kemampuan yaitu Hard Competency dan Soft competency. Hard Competency bersinggungan dengan pengetahuan dan akademik. Sementara, Soft Competency berkaitan dengan pendidik harus mempunyai karakter dan non akademik. Hal itu penting dimiliki bagi guru sebagai sumber pengetahuan dan sumber teladan. “Jelas berbeda generasi. Maka, mahasiswa harus lebih pintar daripada dosen,” ujarnya.

Terutama kemampuan Soft Competency, Kolomnis beberapa media nasional yang ini sangat menekankan pentingnya komponen tersebut. Menurutnya, persaingan di dunia kerja saat ini semakin luar biasa. Maka selagi belajar kampus, menurutnya, mendapatkan IPK bagus saja tidak cukup. Akan lebih baik jika mahasiswa mau berorganisasi selama dikampus. “Bagaimana supaya mahasiswa bermental baja, tahan banting, punya teknik lobbying bagus. Aktif di organisasi semasa dikampus,” imbuhnya.

       Dekan Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial (FISIP) sekaligus merangkap Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) itu berpesan dihadapan audiens yang hadir terutama kepada mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) dengan background kependidikan agar tidak kehilangan peran sebagai sumber teladan. Menurutnya, sebelum mendidik orang lain,terlebih dahulu seorang guru harus selesai dengan dirinya sendiri. Sosok seorang guru dibahasakan Prof. Muzakki seperti pada salah satu petikan syair berjudul ‘Guru’ karya Kahlil Gibran, yang mengisahkan pentingnya guru mendidik dirinya sendiri sebelum menjadi teladan bagi orang lain. “Orang yang mendapat penghormatan dan yang mendidik dirinya sendiri baru mendidik orang lain." "Maka mari kita bersama-sama perkuat pengetahuan dan teladan bagi kita sendiri biar kedepan kita bisa menjadi sumber informasi dan sumber teladan bagi orang lain,“ ujarnya sebelum mengakhiri pembicaraan. *(Iq)

No comments:

Post a Comment