Ketulusan Ibu, Kesuksesan Anak - Araaita.com

Breaking News

Monday, 4 September 2017

Ketulusan Ibu, Kesuksesan Anak

Foto : Nur Mahmudah El Madja / Doc Istimewa
Oleh : Nur Mahmudah El Madja

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Bait lagu anak – anak di atas menggambarkan cinta kasih ibu kepada anaknya tanpa syarat dan tanpa batas. Cinta seperti ini disebut cinta sejati. Syaih Ahmad Atailah menjelaskan dalam karyanya “Al Hikam” bahwa bukanlah dinamakan cinta orang yang mengharapkan sesuatu dari yang dicintainya, atau menunutut kepentingan dari orang yang dicintainya. Akan tetapi cinta itu adalah engkau memberikan kepadanya, bukan engkau harus memperoleh sesuatu darinya.
Konsep cinta yang disampaikan Syaih Ahmad Atailah ini sama persis dengan syair lagu anak – anak di atas. Ini berarti cinta sejati lahir dari ketulusan hati dan tidak mengharap apa – apa dari yang dicintai. Demikian pula seharusnya sang ibu. Ia harus tulus dan ikhlas dalam mencintai anak – anaknya tanpa berpikir untung dan rugi yang akan didapat.
Bentuk cinta seorang ibu kepada anak – anaknya bermacam – macam. Dengan tabahnya ia mengandung anaknya selama sembilan bulan. Dengan sabarnya ia berusaha menyusui anaknya hampir genap dua tahun. Seorang ibu harus mengurus anak – anaknya tanpa keluh kesa.
Rutinitas sehari – hari yang dilakukan ibu adalah memandikan, mengenakan pakaian, memberi makan dan melindungi anak – anaknya. Semuanya dilakukan atas dasar cinta kasih kepada anaknya. Pengorbanan sang ibu seperti ini diapresiasi oleh Allah dalam QS. Luqman : 14. Allah SWT berfirman, “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, dimana ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang menjadi – jadi, dan menyusuinya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada – Ku dan kepada kedua orang tuamu.”
Masih adakah cinta sejati seorang ibu kepada anaknya pada era emansipasi wanita? Masih adakah ketulusan kasih sayang ibu kepada anaknya pada masa profesionalisme kerja? Pada abad milenium ini, kaum ibu menuntut kesederajatan hak dan kewajiban dengan kaum pria. Pada masa profesionalisme ini, kaum ibu adalah wanita – wanita karier. Konsekuensi logis dari konsep emansipasi dan profesionalisme di atas, seorang ibu harus membagi waktunya untuk kerja dan keluarganya.
Tentu saja cinta ibu seperti ini tidak sama kualitasnya dengan cinta ibu rumah tangga. Bahkan pada kasus tertentu dijumpai peristiwa ibu yang menelantarkan anaknya, atau yang lebih tragis lagi, kasus ibu memperkejakan atau menjual anaknya, sungguh ironis. Cinta ibu seperti ini telah raib dari hatinya. Dalam kasus terakhir ini masih pantaskah ibu semacam itu diapresiasi dengan lagu anak – anak “Kasih Ibu”? Atau masih layakkah ibu semacam itu disyukuri sebagaimana perintah Allah?
Ibu yang seati memiliki cinta sejati. Sebab ia bukan sekadar ibu biologis melainkan ibu psikologis. Ketulusan cinta sejatinya akan mengorbankan waktu dan kesempatannya demi keluarga dan anak – anaknya. Seluruh hidupnya ia darmakan demi menyiapkan generasinya menjadi orang – orang kuat di zamannya. Andaikan sang ibu sejati ini memiliki kesibukan di luar rumah, semisal bekerja dan berorganisasi, ia tetap memprioritaskan keluarga dan anak – anaknya.
Perjuangan dan pengorbanan ibu sejati tidak kenal henti dan tak terhingga sepanjang masa. Cintanya diberikan kepada anaknya dari kanak – kanak sampai umur senja. Jiwa, rasa, harta, dan do’anya diberikan cuma – cuma kepada anaknya tanpa diminta. Sepanjang umurnya, hanya anak – anaknya yang menjadi harapan dan kebanggaannya. Tidak ada cerita yang menarik kecuali cerita tentang kesuksesan anak – anaknya. Sepanjang masa cinta ibu memang selalu menyinari langkah – langkah anaknya.
Ketulusan cinta ibu sejati seperti ini akan melahirkan anak – anak yang bermartabat. Ketulusan kasih sayangnya turut pula membentuk karakter anak menjadi orang – orang terhormat. Keikhlasan dalam mengorbankan diri demi anaknya sering melahirkan orang – orang berprestasi. Tokoh – tokoh dunia yang hebat dan berprestasi lebih banyak dilatarbelakangi ibu – ibu yang peduli. Sebaliknya orang – orang yang menjadi sampah masyarakat cerminan dari keluarga/ ibu yang tidak peduli pada perkembangan anaknya. Tepat sekali apa yang menjadi peribahasa “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”.
Berprestasi atau tidaknya anak merupakan hasil kerja orang tuanya termasuk ibunya. Ini berarti kerja ibu dalam mengantarkan anaknya menjadi orang – orang berprestasi berbanding dengan cinta dan pengorbanannya demi kepentingan anaknya. Ibu yang rela berkorban memperhatikan sikap, ucap, semangat, dan kedisiplinan anaknya akan beroleh anak yang unggul dan berprestasi.
Ibu yang dengan cintanya menghargai setiap pekerjaan anaknya akan mendapatkan anak yang penuh percaya diri. Berbeda dengan ibu yang sibuk memikirkan dirinya sendiri ia cenderung mengabaikan perkembangan anaknya. Ia lebih suka mengendalikan anaknya dengan aturan – aturan dan perintah. Ia sering tidak menghargai kerja anaknya. Ibu seperti ini akan mendapatkan anaknya menjadi orang – orang yang suka memaki dan berputus asa di kemudian hari.
Kalau ada ibu yang masih suka mengeluh tentang anaknya berarti ia belum bisa mensyukuri karunia anak yang diberikan Allah kepadanya. Anak dalam segala bentuk rupa, warna, karakter, dan tingkat kecerdasan adalah soal – soal kehidupan ibu. Ibu sejati akan berusaha dengan cintanya menyelesaikan soal Tuhannya dengan penuh ridla. Ibu sejati tidak akan pilih – pilih anak macam apa yang dicintai.
Anak yang lemah dan berkebutuhan khusus pun akan didiknya dengan penuh cinta kasih. Ibu sejati tidak akan menyesal bila harus mengurus anak – anaknya yang berkebutuhan khusus. Ibu sejati akan menjadikan anak – anaknya sebagai ladang pahala. Bagi ibu sejati anak adalah titipan Ilahi yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.
Ibu sejati adalah pahlawan bagi anak – anaknya. Pahlawan berarti orang yang hidupnya mencari dan mengumpulkan pahala. Bagi ibu sejati, melayani anak – anaknya untuk menjadi anak salih adalah pahala; mendidik anak – anaknya menjadi anak berkarakter adalah pahala, mengarahkan anak – anaknya menjadi anak yang tahu diri adalah pahala. Semua jasa dan pengorbanannya demi menyiapkan anak – anaknya menjadi orang yang kuat pada masanya adalah bentuk ketaatan/ ibadah kepada Allah yang bernilai pahala.
Dalam konteks memahami pahlawan seperti ini, ibu sejati akan berusaha sekuat tenaga mengorbankan jiwa dan raganya demi kebaikan keluarga dan anaknya. Ibu sejati akan berusaha menghadapi semua ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan demi menciptakan anak – anaknya menjadi orang yang sempurna di masa depan. Makna pahlawan bagi ibu sejati adalah menghadang musuh – musuh anaknya. Musuh bisa berupa kemalasan, teman jahat, asyiknya bermain, atau indisipliner. Ibu sejati berusaha menjaga dan mengawal anak – anaknya menjadi pribadi yang bertanggung jawab.
Ikhtiar ibu sejati tidak berhenti begitu saja. Untaian do’a tidak henti – hentinya ia panjatkan demi kesuksesan anaknya. Dengan penuh keyakinan, ibu sejati sudah berusaha mengikhtiari diri untuk melayani keluarga dan anak – anaknya. Do’a tulus pun tidak lupa dibacanya demi melengkapi cita – cita mulyanya. Baginya, harapan anaknya menjadi anak sukses.
Do’a dan munajat diucapkannya setiap waktu. Ikhtiar dan do’a sudah cukup menjadi kepuasan pengabdiannya. Bagi ibu sejati, keputusan Tuhan adalah keputusan terbaik. Ia akan menerima keputusan Tuhannya dengan penuh ridla. Ibu sejati selalu menjaga anak – anaknya dengan ikhtiar dan do’a sepanjang waktu.
Cinta ibu sejati berbentuk ikhtiar konkrit berupa kegiatan dan kepedulian terhadap anaknya. Keinginan dan usahanya menjadikan anak – anaknya dapat hidup dengan lebih baik merupakan jasa dan pengorbanannya tanpa minta balasan. Ibu sejati berkeyakinan “Barang siapa menanam kebaikan, akan memanen kebaikan”.
Orientasi pengabdian ibu sejati adalah menjalankan amanah Tuhannya. Positif Thinking ibu sejati kepada Tuhannya merupakan kekuatan yang dahsyat untuk melanjutkan perjuangan dan pengorbanannya untuk menjaga amanah Tuhannya, berupa layanan terbaik kepada anak – anaknya. Ketulusan dan keyakinan ibu sejati seperti ini akan dapat mengantarkan pada kesuksesan anak.

Penulis merupakan warga RT. 01/ RW. 02 Dusun Galang Desa Sukoanyar
              Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan, dan sekarang sedang menempuh pendidikan strata S1 Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Email - nelmadja@yahoo.co.id

No comments:

Post a Comment