MORALITAS REKTOR UINSA dan AMORALNYA MAHASISWA ??? - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 12 September 2017

MORALITAS REKTOR UINSA dan AMORALNYA MAHASISWA ???

Foto; Ilustrasi dalam tanda tanya. (Repro)\



Araaita.com - Melihat opini yang beredar di Media Sosial (Medsos) tentang tanggapan aksi demonstrasi di UIN Sunan Ampel pada Rabu (6/9), yang hingga saat ini belum redam karena menuai banyak perdebatan, mengingatkan saya saat belajar filsafat di bascame Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ara Aita tiga tahun yang lalu. Ya, ketika itu kami membahas masalah "GUA-nya PLATO" dalam buku Dunia Sophie karyanya Jostein Gaarder. Alur pemikirannya kurang lebih seperti ini:
"Ada sebuah gua, di mana ada beberapa tawanan yang diikat menghadap ke dinding belakang gua. Mereka sudah berada di sana seumur hidup dan tidak bisa melihat ke mana-mana, hanya bisa melihat ke depan saja.
Akan tetapi, mereka bisa melihat bayang-bayangan orang di dinding belakang gua. Bayang-bayangan ini disebabkan oleh sebuah api yang berkobar di depan, di lubang masuk ke gua ini, di mana orang-orang di luar gua pada berjalan lalu-lalang. Para tawanan bisa melihat bayang-bayang orang yang berlalu-lalang tersebut berikut suara mereka yang menggema ke dalam gua.

Pada suatu hari, salah seorang tawanan dilepas dan dipaksa keluar. Ia disuruh melihat sumber dari bayangan ini semua. Akan tetapi, api membuat matanya silau. Ia lebih suka melihat bayangannya. Lama kelamaan ia bisa melihat api dan lalu ia mulai terbiasa dan melihat orang-orang yang lalu lalang.

Kemudian ia keluar dan melihat matahari (simbol kebenaran), yang sebelumnya hanya sedikit bayangannya yang terlihat. Sungai, padang dan sebagainya.
Lalu ia dipaksa kembali ke gua lagi dan hal pertama yang dilakukannya adalah membebaskan kawan-kawannya. Akan tetapi, kawan-kawannya marah karena hal ini  mengganggu ilusi mereka. Akhirnya mereka bukannya terima kasih tetapi akan sangat marah dan membunuhnya".

Di atas adalah gambaran ilusi manusia yang terjebak pada satu sudut pandang kebenaran dan gambaran konsekuensi logis untuk pejuang kebenaran.

Dalam hal ini, penulis tidak ingin membahas masalah pemikirannya Plato. Tapi penulis ingin menafsirkan realitas saat ini, terlebih dalam konteks demonstrasi yang beberapa hari yang lalu terjadi di kampus UIN Sunan Ampel Surabaya. 

Penulis hendak menggunakan nalar berfikirnya Plato dalam menyikapi opini nyinyir dari publik dan debat kusir terhadap aksi demonstrasi tersebut. Karena penulis kira, banyak orang yang masih terjebak pada ilusi satu kebenaran tanpa melihat kebenaran lain. 
Dalam banyak perdebatan, yang menjadi alasan mereka adalah karena peserta aksi tidak seperti biasanya, mahasiswa dianggap terlalu frontal dan tidak beretika?!

 Perdebatan yang terjadi, baik antara dosen dan mahasiswa, mahasiswa dengan dosen, maupun khalyak umum lainnya, lebih bertumpu pada persoalan moral dan akhlaq. Demonstrasi tersebut dikatakan tidak bermoral dan tidak berakhlaq.

Sekarang pertanyaannya, apakah penentu kebijakan yang mengabaikan atas amanah undang-undang itu bermoral dan berakhlaq?

Setidaknya dalam konteks kampus UINSA, Rektor UINSA mengabaikan dan tidak merespon atas surat permohonan informasi data sebagaimana amanah UU 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik patut juga dikatakan tidak bermoral dan tidak berakhlaq. 

Makna tersebut dapat diamini bila standart moral dan akhlaq itu disederhanakan sebagai perilaku yang baik. 
Ketika polemiknya seperti ini, maka ada benarnya juga perkataan Iwal Flas yang mengatakan : "Masalah moral, masalah akhlaq, biar kami cari sendiri.
Urus saja moralmu, urus saja akhlaqmu, kelakuan yang sehat, yang kami mau". Katanya. 

Selama ini, paradigma berfikir masyarakat umum, khususnya yang pernah nyantri, dalam melihat kiai sebagai sosok yang harus dihormati dan dita'dhimi bahkan ditakuti. Tidak boleh dikritisi apalagi disalahkan. Sebagian orang berpandangan, mustahil seorang kiai itu salah dan melakukan kesalahan. Sehingga dalam hal ini kita tidak boleh sedikit pun mengkritik kiai. Kalau boleh meminjam metafornya Marlaf Sucipto dalam opininya: "Pasal pertama Kiai tidak pernah salah, jika kiai salah maka kembali ke pasal pertama".

opini nyinyir yang beredar dalam menyikapi aksi demonstrasi kemarin adalah rata rata mereka menghantam mahasiswa lewat cacat etika dan moral karena mereka melihat sosok Prof. Abd. A'la adalah seorang kiai yang harus ditaati dan dita'dhimi. Sehingga ini menjadi nilai negatif untuk peserta aksi.

Dulu waktu penulis masih berada di kelas dua Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Bangkalan, Madura, sempat mengaji sebuah kitab Tafsir Shofwah At-Tafasir karyanya Imam Ali Ash-Shobuni. Pada jilid pertama di sana ada pembahasan tentang ketaatan dan keta'dhiman baik kepada guru dan sesama, Sam'an watoatan (patuh dan tunduk) kepada manusia tanpa mengelak kata Imam ash-Shobuni boleh boleh saja, asalakan itu bukan dalam hal maksiat kepada sang kholik. Maka ketika sesorang tersebut melakukan kebatilan siapa pun itu tidak boleh semerta-merta kita patuhi.

Oke kembali lagi pembahasan utama, sebelum pembahasan lebih jauh, di sini penulis ingin menempatkan Prof. A'la sebagai Pimpinan kami, dan tentu juga digaji dari uang negara yang umumnya sebab pajak yang dibayar oleh rakyat. Maka dalam hal ini, penulis ingin melepas identitas beliau sebagai kiai tanpa mengurangi rasa hormat kami sebagai atasan. Agar sentimen berlebihan ke-kiai-an itu bisa diminimalisir. Sebab jika Prof. A'la yang sekarang sebagai rektor UIN Sunan Ampel harus diposisikan sebagai kiai, maka dalam etika kepesantrenan ini akan ada kecanggungan bagi kami mahasiswa yang juga lahir dari rahim pesantren, mengingat beliau adalah abdi negara yang perlu diawasi dan dikritisi apabila ada kesalahan. Tujuannya adalah agar ada perbedaan dalam memperlakukan Prof.A'la di lembaga pendidikan dan tempat kursusan, sesuai dengan pertanyaan beliau di  status Facebooknya " Apakah dunia pendidikan kita (dalam hal ini UINSA) sekadar lembaga kursus atau pengajaran, atau benar-benar lembaga pendidikan?"

 Nah, perlakuan semacam ini sebagai menifestasi diri kita kepada UINSA.

Sebagaimana pernyataan Pram -Pramodya Ananta Toer-  dalam buku tatraloginya yang berbunyi: "Didiklah pemerintah dengan kritikan dan pengawasan, dan didiklah masyarakat dengan organisasi dan pemberdayaan". Maka, Rektor UIN Sunan Ampel sebenarnya harus mengintrospeksi diri juga, orang yang mendidik juga harus siap dididik.

Jika dengan surat dan audiensi Pak Rektor cuek, ya, demonstrasilah jalan akhir yang kami lakukan untuk mendidik rektor supaya berjalan sesuai amanah undang-undang. (Oleh :AHMAD)


2 comments:

  1. Perlunya kita sadar akan yang akan diakan kan oleh kita setelah diakankan orang lain,,,,

    ReplyDelete
  2. Terimakasih kak... Saran dan kritik yang membangun selalu kami nantikan.

    ReplyDelete