Seminar LPM Edukasi, Akademisi Harus Bijak Manfaatkan Teknologi Informasi - Araaita.com

Breaking News

Friday, 22 September 2017

Seminar LPM Edukasi, Akademisi Harus Bijak Manfaatkan Teknologi Informasi

Dok. Iqbal (Arta)
Araaita.com - Dua pembicara dalam seminar bertemakan peran media dan pendidikan masyarakat yang digelar Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edukasi di Gedung SAC pada Selasa, 19 September lalu, yakni Prof. Akhmad Muzakki, M.Ag, Guru Besar di bidang Sosiologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel dan pengamat media sekaligus dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga, Rendy Pahrun Wadipalapa S. I. Kom, MA menguraikan problematika dunia pendidikan pada generasi “Z” seperti saat ini. Selanjutnya, dua tokoh akademisi itu masing-masing menekankan agar mahasiswa bijak menggunakan Teknologi Informasi atau IT di era millenial ini, termasuk dalam menyikapi maraknya kabar Hoax dan perilaku mengujar kebencian diantara pengguna sosial media.

Kolomnis di beberapa media cetak nasional itu turut prihatin dengan maraknya berita Hoax, informasi yang tidak jelas asal-usulnya. Untuk itu, secara khusus audiens dihimbau lebih berhati-hati dengan segala informasi yang beredar. Jika menerima informasi terlebih dahulu dipastikan dari mana informasi itu diperoleh. Terlebih lagi jika ingin menyebarluaskan kepada orang lain. “Agama sudah menganjurkan untuk menyampaikan kabar yang benar,” ujar Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang juga merangkap Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN SA.

Hal senada diutarakan oleh Rendy Pahrun Wadipalapa perihal penggunaan IT dewasa ini. menurutnya, mahasiswa harus cerdas menyikapi maraknya Hoax di dunia maya. Seorang intelektual penting menggunakan akal sehat ditengah maraknya kabar-kabar yang belum jelas kebenarannya di sosmed. Selain itu, terkait Hoax yang sulit dibendung, menurutnya, belum ada cara yang ampuh menghilangkan Hoax di dunia maya sebelum pengguna sosmed berhenti bertindak layaknya penguasa di sosmednya masing-masing. Sosmed menyediakan lahan kebebasan berpendapat. Ibarat lahan perang, sosmed bisa jadi sarang pertengkaran. “Facebook anda wilayah perang, karena anda sebagai komandan perang yg menyerang siapapun,” ujarnya. 


Dosen Ilmu Komunikasi itu menambahkan, Hoax sulit dihilangkan, namun kemungkinan bisa diminimalisir dengan gerakan literasi media. Menurutnya, upaya itu paling mendekati solusi. Melalui gerakan literasi media atau melek media itulah, bagaimana meng-educate masyarakat, mengarahkan mereka berpikir secara dewasa, mengajak mereka waspada, cerdas memilih media, menghindarkan mereka agar tidak termakan Hoax. Termasuk mengecek kebenaran informasi dan darimana kabar itu diperoleh. Maka kembali ditekankan pentingnya kedewesaan berpikir dalam memanfaatkan teknologi. Teknologi akan beralih fungsi jika sudah disalahgunakan. Awalnya sebagai sumber informasi bisa berubah menjadi biang kebobrokan. Jika ada tindakan mengujar kebencian diantara pengguna sosmed dan menyebarkan kabar hoax itu, menurutnya, hal itu karena faktor pelaku tersebut.  ”Jangan-jangan orang yang bertindak seperti itu karena dirinya merasa kesepian didunia nyata. Orang-orang yang tidak pernah berbicara dan diskusi,“ imbuhnya. *(iq)
x

No comments:

Post a Comment