Ayah Kupenuhi Janjiku - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 18 October 2017

Ayah Kupenuhi Janjiku

doc. Repro Internet
Gadis berambut panjang  itu termenung, duduk sendiri di depan teras rumahnya dengan ditemani buliran air langit yang jatuh menimpa kediaman milik sang bumi. Sudah 3 hari gadis itu  dirundung duka, kenyataan didepan matanya tak terbantahkan. Satu-satunya laki-laki dikeluarganya yang sekaligus jadi pimpinan telah tiada.  

Gadis dengan postur tubuh tinggi semampainya dan berkulit kuning langsat itu bernama Gadis. Ia baru saja datang dari negeri perantauannya. Untuk menuju kota kelahirannya Gadis membutuhkan waktu 3 jam untuk sampai.

Sebelum ditinggal oleh mendiang ayahnya, Ia memang memiliki janji kepada sang ayah bahwa Gadis harus kembali ke tanah kelahirannya dalam keadaan ia sukses. Dengan  rentang  waktu empat tahun itu  ia harus menuntaskan pendidikan yang lebih tinggi, dan Gadis tak pernah menyia-nyiakan waktunya. Mulai  pagi sampai siang Gadis melaksanakan  kuliahnya, pada malam harinya Gadis harus bekerja untuk menutupi kekurangan  kebutuhannya.

Empat tahun sudah berlalu, Kegembiraan Gadis tak terbendung ditambah dengan senyum merekah yang menghiasi wajahnya menambah kesan kecantikannya.  Karena saat ini dia harus kembali ke tanah kelahirannya untuk bertemu kepada sang ayah, menepati janjinya dan untuk mengatakan bahwa sekarang ia benar-benar sukses sesuai dengan impian sang ayah, yaitu dengan mempunyai perusahaan sendiri. Dengan begitu ia mampu mengurangi sedikit pengangguran di tanah kelahirannya. ketika Pintu rumah sudah di hadapan mata Gadis, ia tak segan lagi untuk membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. “ayaaaaaaah…,” teriaknya dengan keras.

Tiba-tiba, terdengar bacaan yaasin serentak. Banyak para tetangga berkumpul dengan memakai pakaian serba hitam, bahkan bendera kuning sudah terpasang di sela-sela pintu. Gadis pun bergegas memasuki ruang depan rumahnya karena rasa penasarannya. Braaak,,, Gadis jatuh terduduk tanpa ekspresi.

 “sabar yaa gadis, kamu harus tabah.” Ujar wanita berjilbab hitam menghampiri Gadis yang jatuh terduduk,  sambil lalu menepuk halus pundak nya dengan elusan. Gadis itu menoleh, menghadap wanita yang merupakan adik tiri dari ayahnya sambil tersenyum, lalu ia mengangguk samar.

Gadis mulai berdiri lalu bergegas menuju kamarnya untuk segera mengganti pakaian yang warnanya juga hitam. Ia lalu menghampiri kerumunan orang-orang untuk mengikuti alunan bacaan yaasin. Tak satupun tetesan air mata itu mengalir dari mata lebarnya si Gadis. Ia mencoba menahan sesak didada, lalu ia hembuskan secara perlahan untuk menahan pedih, karena ia mengerti bahwa sesuatu yang datang pasti akan pergi juga.


Oleh: Nur Komariya
*Penulis adalah Mahasiswi Semester III Ilmu Komunikasi
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment