Dimana Ada Kemauan, Pasti Ada Jalan - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 24 October 2017

Dimana Ada Kemauan, Pasti Ada Jalan

 
doc. Repro Internet
Perkenalkan namaku Zia Nabila, teman-temanku sering memanggil ku Zee. Saat kecil aku begitu pendiam dan pemalu, aku begitu tidak percaya diri untuk berbicara didepan umum. Jangankan berbicara didepan umum, bertanya kepada guru saja aku tidak pernah. Aku masih ingat ketika aku baru duduk dibangku SMP, guruku meminta setiap anak untuk maju kedepan dan memperkenalkan dirinya.

Semua anak maju satu persatu dengan begitu percaya diri memperkenalkan dirinya satu persatu. Hingga tiba giliranku untuk maju kedepan, aku begitu gugup untuk melangkahkan kaki dari tempat dudukku sampai-sampai tangan dan kakiku gemetar. Namun karena desakan dari teman-teman dan guruku akhirnya aku memaksakan diri untuk maju kedepan.

Rasanya mulutku begitu kaku untuk melontarkan kata-kata karena itu baru pertama kalinya aku berbicara didepan umum. Aku terdiam beberapa saat hingga pada akhirnya salah satu teman sekelasku memberikan semangat sambil berbisik “ayo kamu pasti bisa”. Akhirnya dengan sedikit dipaksakan aku bisa mengeluarkan beberapa patah kata walaupun dengan suara yang tidak begitu jelas namun paling tidak aku merasa sangat senang karena ternyata aku bisa.

Secara IQ aku bukanlah siswi yang bodoh, nilai ujianku selalu diatas rata-rata. Namun jika disuruh mengeluarkan suara tidak tau kenapa aku sangat takut. Rasanya bibir ini begitu berat untuk digerakkan. Rasa malu dan takut salah yang selalu membayangi pikiran ku.
Pada awal-awal sekolah aku tidak menghiraukan perasaan itu. Hingga pada akhirnya aku tertarik dengan pidato yang merupakan salah satu seni berbicara. Aku ingin sekali membuang rasa malu dan rasa tidak percaya diriku. Aku ingin sekali bisa berbicara didepan umum tanpa rasa malu dan gugup seperti yang lainya. Aku mulai belajar  berbicara dan menyusun kata-kata.

Aku mulai latihan berbicara didepan cermin, dikamar mandi bahkan dimanapun ada kesempatan untuk berlatih, namun sekiranya  tidak ada orang yang mendengar ataupun melihat nya. Hampir dua minggu berlatih akhirnya aku bisa menghafal dan membawakan satu teks pidato dengan baik namun aku belum membawakan pidato didepan umum.

Pada  saat menyambut libur sekolah, sekolahku biasa mengadakan lomba pidato. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku mendaftarkan diri di lomba tersebut untuk mengetes hasil latihanku selama ini. Dan ini merupakan pengalaman pertamaku mengikuti lomba, namun aku merasa sangat puas. Akhirnya aku bisa melawan rasa malu dan tidak percaya diriku. Yahh meskipun aku tidak mendapat juara paling tidak aku mendapatkan pengalaman agar aku bisa memperbaiki kesaalahanku.

Pada  kesempatan yang lain aku mencoba mengikuti lomba yang sama untuk kedua kalinya. Dengan persiapan yang lebih baik dari sebelumnya. Juri bilang kalau pidato ku yang pertama itu sudah bagus, namun intonasi dan pembawaanya masih kurang tepat. Semoga yang kedua ini aku bisa mendapatkan juara paling tidak masuk sepuluh besar itu, sudah bagus sebagai permulaan yang baik.

Namun di kesempatan yang kedua ini pun aku masih belum bisa mendapatkan juara ataupun masuk sepuluh besar. Tapi tidak apa-apalah anggap saja ini adalah keberhasilan yang tertunda.

Entah sudah berapa kali aku mengikuti lomba pidato namun tidak pernah masuk sepuluh besar ataupun mendapat juara. Hingga pada akhirnya ketika aku hampir putus asa aku mengikuti lomba pidato dan jika ini belum juga mendapatkan juara, mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku mengikuti lomba, gumamku dalam hati.

Namun pada kali ini ketika ku sudah pasrah dengan hasil yang akan ku terima malah mendapatkan juara satu. Dari sini ku menyadari sesuatu, bahwa jika kita berusaha keras dengan sepenuh hati dan memasrahkan semuanya kepada Tuhan hasilnya pasti akan seperti yang kita inginkan, bahkan akan jauh lebih baik.



OlehUmmi Aidah
*
Penulis adalah Mahasiswa Semester III Komunikasi dan Penyiaran Islam

UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment