DJ, Pemain Muppet Jockey (MJ) yang Terinspirasi dari Boneka Pinocchio - Araaita.com

Breaking News

Friday, 20 October 2017

DJ, Pemain Muppet Jockey (MJ) yang Terinspirasi dari Boneka Pinocchio

doc. Pricil/arta
Araaita.com - Terlihat seorang pria berumur 28 tahun di tengah keramaian para mahasiswa yang berlalu lalang tepat di depan pintu gang dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Pria berjas navy itu asyik menggoyangkan dua boneka tali yang dikenal dengan nama boneka Muppet. Tak lupa tangan kanan dan kirinya menggoyangkan dengan mengikuti lantunan musik dangdut yang berasal dari speaker berwarna silver miliknya.

Sebuah kotak hitam berisikan lembaran uang dua ribuan sengaja diletakkan di sampingnya. Segelintir mahasiswa pun tak berat memberikan sedikit rezekinya. Tak sedikit pula mahasiswa yang hanya berjalan dan mengabaikan aksi pria berwajah riang itu. DJ, begitu sapaan akrab pria tersebut. Pria asli Surabaya yang berprofesi sebagai MJ bermodalkan dua boneka Muppet buatan tangannya sendiri. “Bonekanya buatan saya sendiri mbak,” ujarnya sambil meringis.

Ia terinspirasi dari Pinocchio, boneka kayu yang populer di tahun 1881. Bedanya kalau Pinocchio terbuat dari kayu pohon pinus. Sedangkan boneka Muppet ini terbuat dari pipa air dengan tambahan properti bagian tubuh boneka barbie.  
            
Pekerjaan ini ia lakoni hampir selama satu tahun. Ia sering tampil di berbagai tempat, dominannya pada acara ulang tahun dan Taman Kanak-kanak (TK). Namun, ia juga eksis tampil di beberapa kampus ternama di Surabaya, seperti Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan Universitas Airlangga (UNAIR). Tapi ia mengaku meraup keuntungan lebih banyak di street show dibandingkan tampil di kampus-kampus ternama di Surabaya. “Keuntungannya lebih banyak di street show kayak gini mbak,” lanjut pria yang belum berkeluarga itu.


DJ yang memiliki basic ilmu di bidang arsitektur ini bercerita bahwa dirinya berkeinginan membuat film animasi sebagai tindak lanjut kesenian boneka Muppet ini. Namun, karena beberapa kendala yang memakan tahap begitu rumit seperti pengambilan gambar, dubbing hingga proses pengeditan membuat ia hanya bisa melakoni pekerjaan tersebut. “Buat film animasi itu rumit. Kita harus ambil gambar, dubbing, edit terus cari sponsor. Tapi menurut saya ini juga sudah termasuk industri animasi dalam bentuk manual,”pungkasnya. (Cil)

No comments:

Post a Comment