JKI Inginkan Jadi Jurnal Internasional - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 28 October 2017

JKI Inginkan Jadi Jurnal Internasional



 
doc. Anis/Arta

Araaita.com - Pria separuh baya itu duduk dikursi ruangan akademik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (27/10). Memakai baju batik yang menandakan bahwa hari tersebut adalah Jum'at, seolah yang dikenakan oleh pegawai negeri atau swasta lainnya.

Pagi itu Anis, sapaan yang kerap dilontarkan pegawai lain atau mahasiwa memang sedang terlihat duduk istirahat. Ia baru selesai menyidang mahasiswa yang sedang menempuh tugas akhir dan baru saja beberapa menit lalu telah diwawancarai oleh anggota magang dan kru araaita.com terkait seminar nasional.

Tak disangka 23 Oktober 2017 lalu, ia baru kembali dari Tilburg University, Belanda. Bukan liburan tujuannya, namun ia sedang belajar untuk mendalami jurnal internasional yang diselenggarakan oleh pemerintah Belanda dan Jerman.

Ini merupakan wujud dari apresiasi atau penghargaan dari pimpinan rektorat kepada pada pengelola jurnal di universitas yang telah terakreditasi dan berstandart International Standard Serial Number (ISSN).

Ia menjadi salah satu perwakilan dari Jurnal Komunikasi Islam (JKI) yang satu-satunya dimiliki oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi, yakni milik program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). "Karena mungkin yang lain belum bisa, sehingga yang ditunjuk sebagai perwakilan yakni dari kepala program studi," pungkasnya.

Tidak sendiri, ia ditemani oleh pengelola jurnal-jurnal dari fakultas maupun dari universitas. Seperti jurnal akreditasi Ad-Daulah dari Fakultas Syariah dan Hukum, Sufi dari Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Islamica dari pasca sarjana, dan jurnal internasional yakni Jurnal Islamic Studies (JIS) dari universitas.

"Sehingga total yang dikerahkan dari seluruh pengelola jurnal beserta para pimpinan dari universitas ada 9 orang," sambung Anis Bachtiar, nama lengkap yang dimilikinya.

Setelah hampir dua minggu ia mempelajari jurnal internasional, ilmu yang didapatkan tentunya akan diimbaskan terutama kepada JKI. Ia berusaha keras agar kualitas dari JKI dapat menjadi lebih baik.

"Memang sementara belum optimis, namun yang paling utama yakni memperbaiki kualitas jurnal terlebih dahulu. Kalau sudah memungkinkan nanti tidak akan sulit untuk menjadikan JKI menjadi jurnal internasional," tegasnya.

Melihat besarnya keterbukaan dari pengelola jurnal di Belanda, Anis sendiri merasa kendala yang nantinya akan dihadapi tidak terlalu signifikan. Karena mengingat mereka (pengelola jurnal Belanda, red) sangat terbuka, siap membimbing dan tidak ada tendensi apapun.

"Mereka welcome untuk mengembangkan keilmuan yang mereka miliki. Tidak ada istilahnya untuk menutup-nutupi. Kita banyak memperoleh informasi terkait pengelolaan jurnal internasional yang lebih baik," tuturnya dengan sumringah.

Untuk kedepan yang diharapakan oleh Anis, yakni terdapat kekonsistenan dari penerbitan JKI. Agar kedepan ketika KPI mengadakan pengajuan akreditasi maka, program studi bisa bertahan ataupun lebih baiknya yakni meningkat. (Ann)

No comments:

Post a Comment