Kado di Bulan Oktober - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 18 October 2017

Kado di Bulan Oktober


Bisikan angin yang amat kencang berhembus menusuk tulang rusukku, kicauan burung yang merdu seolah-olah telah menyambut datangnya sang fajar. Nan lantunan adzan yang merdu menyambut hariku yang begitu indah.
Tanganku membuka jendela rumah, tatkala itu sejuknya  udara  pagi menerpa tubuhku. Kuberpaling dari jendela dan bergegas menyiapkan beberapa potong  baju untuk perkuliahan hari ini. Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah kusam dan tubuh lelahku yang semalam terjaga dalam lelap. Usai mandi kukeringkan rambut basahku dengan handuk, tak berselang lama nada dering telpon pun berbunyi. Seketika itu aku langsung mengangkatnya, ternyata itu dari salah satu sahabatku yang hendak mengajak pergi seusai kuliah.
Tapi aku menolak  dengan halus, lantaran bersamaan dengan itu aku memenuhi kewajiban untuk menghadiri rapat pada organisasi yang kuikuti. Namun dia terus memohon agar aku mengiyakan ajakannya, akhirnya ku putuskan untuk menerima ajakannya setelah kewajibanku selesai. Ia pun menyetujui akan keputusanku ini.
**********
Adzan magrib terngiang ditelingaku begitu merdu menyapa pendengaran. Aku dan teman-temanku bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah. Di tengah perjalanan sahabatku mengingatkan kembali ajakannya tadi siang dan ku balas hanya dengan senyuman seraya berlalu meninggallkannya karena aku mendengar bahwa iqomah sudah dikumandangkan.
Seusainya kami kembali ke forum, ternyata rapat sudah berakhir. Seperti yang lain, aku juga bergegas pulang ke rumah. Namun belum sempat aku beranjak tiba-tiba ponsel genggamku bordering. Sahabatku kembali menghubungi via whatsapp.
“Ntar temui aku di taman, aku ada di tempat biasa kita nongkrong.”
Tanpa pikir panjang, usai rapat aku langsung menuju taman yang dimaksud sahabatku. Sesampainya disana, suasana taman nampak berbeda dari biasanya. Taman yang biasanya ramai pengunjung kali ini sepi. Awalnya aku tidak ambil pusing, bahkan terkesan acuh terhadap keadaan sekitar dengan memberanikan diri duduk di bangku taman.
“Aku sudah di taman. Kamu dimana?,” ku kirimkan pesan berkabar pada sahabatku.
Tak lama kemudian dia membalas chattingku, memberi tahu bahwasanya ban sepeda yang ia naiki bocor, dan aku diminta menunggunya.
Satu jam lamanya aku menunggu. Meski gelisah aku tepis kecurigaanku padanya bahwa ia telah membohongiku dengan terus saja berusaha percaya padanya. Lama tak kunjung datang, aku berfikir untuk beranjak dari bangku taman dan pulang ke rumah, karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB.
“Aku lelah. Ingin segera beristirahat,” batinku, seraya berdiri hendak berlalu.
 Baru saja aku beranjak melangkahkan kaki, tiba-tiba tak kusangka lampu taman mati seketika. Aku yang seorang diri menoleh kanan kiri membelalakkan mata mencari penerangan. Tiba-tiba ada sesuatu yang menutup mataku. Dan reflek aku berteriak, “Siapa ini? Apa yang kau lakukan? Apa yang kau mau?,” tanyaku dengan tetap berteriak.
Dengan sekuat tenaga aku mencoba melepaskan tangan yang menutupi mataku. Pikiranku mulai tak karuan, gelisah takut menjadi satu. Aku menangis.
Tiba-tiba terdengar suara gemrusuk semak-semak dari belakang bangku.
“Selamat ulang tahu...n,” samar-samar aku mendengar suara orang menyanyi.
Lantunan itu. Nyanyian itu. Aku mengenal betul si pemilik suara itu. Seketika tangan yang tadinya menutup kedua mataku perlahan membuka ruang untukku membuka mata. Lampu-lampu yang tadinya mati satu persatu menyala dan sahabat-sahabatku muncul membawa kue bertuliskan “Happy Birthday” ke arahku.
Aku tak meyangkah bahwa ini ulah mereka. Aku sendiri tak ingat jika hari ini ulang tahunku 15 Oktober, karena aku menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan di kampus. Tidak sampai disana kejutan lain pun datang, mereka menimpukku telur serta tepung dari arah belakang tubuhku. Selain  kaget, kepalaku begitu terasa sakit. Aku tatap mereka satu persatu lalu ku kejar mereka, berusaha dengan upaya membagikan aroma amis pecahan telur pada mereka.

Kejutan ulang tahunku ini benar-benar membuatku merasa terkesan dengan berbagai perasaan yang campur aduk sedih, senang, takut pun jadi satu seperti halnya es campur. Meskipun mereka sibuk akan kuliahnya tetapi tetap meluangkan waktunya untuk merayakannya.(Yas)

No comments:

Post a Comment