Kearifan Santri dalam Menghadapi Era Digital - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 24 October 2017

Kearifan Santri dalam Menghadapi Era Digital

doc. Repro Internet

Bulan Oktober selain diperingati sebagai dirgahayu TNI, juga diperingati sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Hal tersebut mengacu pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai hari Santri Nasional (HSN).

Peringatan Hari Santri Nasional sekilas mempunyai sejarah, yakni “Resolusi Jihad” yang dicetuskan oleh Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober tahun 1945 di Surabaya yaitu untuk mencegah kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA.

Kemerdekaan Indonesia memang tidak lepas dari para ulama dan santri, karena memang tak hanya tentara yang berperang melawan penjajah, tercatat banyak ulama dan santri yang ikut berperang untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Itulah mengapa tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Sejauh ini, keberadan santri yang tinggal di berbagai Pondok Pesantren memiliki watak khas tradisionalisme dan ikatan kuat. Terstruktur dalam lingkup pesantren antara kiai dan santri. Ikatan-ikatan solidaritas ini tidak hanya sebatas ketika seseorang masih nyantri, tetapi setelah keluar dari pesanten (alumni), dia  tetap menjadi santri dengan ikatan solidaritas itu tetap terjalin terhadap kiai.

Nampaknya, ikatan antara santri dengan kiai belakangan ini semakin memudar, karena tergerus dengan perkembangan globalisasi yang mengharuskan mereka untuk mengikuti perkembangan zaman, dan pertentangan  dapat menyebabkan etika atau hubungan keterikatan antara santri dengan kiai semakin pudar. 

Merujuk pada kondisi saat ini, bahwa Lembaga Pendidikan Pesantren belakangan ini mau tidak mau harus mengikuti berbagai metode pendidikan modern, baik dari sisi penggunaan kurikulum pendidikan maupun cara pengajaran yang dilakukan dalam pola kelas-kelas. Berbeda dengan pola pengajaran santri terdahulu, yang bersifat tradisional dan berhasil membangun kedekatan serta ikatan kuat kiai dengan santri. 

Era milenial seperti saat ini, jelas hampir tak pernah ditemukan kekuatan solidaritas sosial yang terbangun secara kuat melalui pola kiai dengan santri seperti era terdahulu.Fenomena yang sekarang muncul, bahwa santri yang terkontaminasi dengan pola pikir yang serba “Media Sosial” lebih terasing dengan dunia pesantrennya. Mereka banyak berinteraksi dalam dunia maya, sehingga porsi bertemu kiai menjadi berkurang, selain itu keterikatan batin atau keterikatan solidaritas antara kiai dengan santri pudar bahkan dapat dikatakan tidak ada.

Kemajuan teknologi yang berdampak pada pola pikir dan perilaku santri milenial ini, seharusnya santri dapat membuat terobosan inovasi yang bermanfaat dan terus menumbuhkembangkan ilmu dan pengetahuan dengan memanfaatkan peran perkembangan teknologi. Contohnya pengaruh terhadap kehadiran Media Sosial. 

Santri milenial harus bisa memanfaatkan konten dari media sosial yang sekarang ini marak diperbincangkan. Berbagi ilmu dan pengetahuan seputar kehidupan pesantren dan harus berperan aktif sebagai aktor yang kreatif, bukan malah tergerus derasnya arus perkembangan teknologi yang menjadikan karakter santri hilang dan hubungan santri dengan kiai semakin pudar.

Pada era digital sekarang ini, santri zaman now harus menjaga karakter dengan cara mendalami ilmu agama dan tidak terkontaminasi dengan pesatnya perkembangan Informasi dan Tekonologi (IT) yang akan mengakibatkan dekadensi identitas moral santri.

Kendati pada zaman sekarang semuanya menggunakan era digital, sebagai santri harus arif dalam menghadapi permasalahan-permasalahan tersebut dan bisa memanfaatkan dengan baik adanya arus tersebut. Terutama yang paling penting tidak meninggalkan etika atau adab sebagai santri terhadap seorang guru atau kiai dan harus menjaga khazanah pesantren.



Oleh: Ahmad Faishal Mustaqim
*Penulis adalah Mahasiswa Semester III Komunikasi Penyiaran Islam
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment