Korbankan Waktu Demi Mengajar Anak-Anak Jalanan dan Marjinal - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 26 October 2017

Korbankan Waktu Demi Mengajar Anak-Anak Jalanan dan Marjinal


doc. Pras


Araaita.com - Sekitar pukul setengah empat sore, seorang pemuda berumur 25 tahun terlihat mengendarai motornya menuju Terminal Joyoboyo. Ia menempuh jarak kurang lebih 23 kilometer atau setara dengan 30 menit perjalanan.

Sesampainya di Terminal Joyoboyo, ia disambut puluhan anak yang telah menunggunya beberapa menit yang lalu. Anak-anak pun mengelilingi pemuda itu dengan wajah bersemangat, tanda siap belajar. Ia pun bergegas mengeluarkan puluhan pensil dan buku dari dalam tas punggung berwarna hitam miliknya.

Pria tersebut adalah Dwi Prasetyo. Seorang pemuda asal Sidoarjo yang tergerak hatinya untuk menjadi seorang pengajar relawan di sebuah komunitas peduli anak jalanan dan marjinal ternama di Surabaya atau yang lebih dikenal dengan Save Street Child Surabaya (SSC Surabaya).

SSC Surabaya merupakan sebuah komunitas yang dibentuk pada tahun 2011 melalui rembukan kopi darat anak-anak muda Surabaya. Tujuan dasar dibentuknya adalah berdasarkan semangat kepedulian terhadap kaum minoritas yang dikemas dalam tindakan nyata. Komunitas ini juga sebagai wadah informasi berkaitan anak-anak jalanan dan marjinal di Surabaya.

Berawal dari ajakan salah seorang teman saat masih mengenyam bangku kuliah, dari situlah pria yang sering akrab disapa Pras itu mengetahui komunitas SSC Surabaya.  “Awal tahu komunitas ini dari ajakan salah satu temanku,” ujarnya.

Ketika ditanya perihal alasan bergabung di komunitas SSC Surabaya, pria yang barusaja menyelesaikan studi S1 Psikologi Universitas 17 Agustus mengungkapkan jika ada sesuatu yang menarik hatinya yaitu untuk membantu anak-anak di SSC Surabaya.

Alasan itu juga yang mendasari niatnya mendirikan komunitas SSC di kota kelahirannya, kota Sidoarjo di tahun 2015. Usia SSC Sidoarjo yang baru dua tahun justru mendapat perhatian dari dinas setempat. Tak tanggung-tanggung, Pras pun mengorbankan waktu bersama keluarganya demi konsistensinya mengajar di SSC Surabaya dan SSC Sidoarjo.

Pras juga sempat bercerita mengenai keseharian anak-anak SSC Surabaya yang sebagian besar membantu orang tua berjualan selepas pulang sekolah. “Mereka luar biasa meskipun nggak ada waktu untuk bermain. Tapi sekolah tetap diprioritaskan,” lanjutnya.

Tak disangka setelah enam tahun mengajar, usaha Pras menjadi pengajar relawan di SSC pun membuahkan hasil. Banyak perubahan yang terjadi terutama di bidang akademik anak-anak SSC Surabaya.

Salah satu contohnya yaitu anak SSC Surabaya yang ia didik sejak kelas empat Sekolah Dasar (SD) dan sekarang menimba ilmu di Sekolah Menengah Pertama (SMP) favorit di Surabaya.

Sayangnya berbagai kendala harus ia alami selama mengajar di SSC Surabaya seperti kendala Sumber Daya Manusia (SDM) dan ketiadaannya basecamp di awal didirikan SSC Surabaya.”Kendalanya itu nggak ada basecamp dan terbatasnya SDM yang buat saya kewalahan mengajar puluhan anak,” pungkasnya. (cil)

No comments:

Post a Comment