Mahasiswa, Penyambung Lidah Rakyat - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 14 October 2017

Mahasiswa, Penyambung Lidah Rakyat

doc. Moh/arta

Kicauan burung dengan suara merdu sambil menari menikmati pagi, seakan sedang bernostalgia untuk menyambut hangatnya sang surya, suaranya menyapa, memberikan semangat tersendiri bagi jiwa-jiwa yang nyaman akan keindahan alam nusantara ini dan segala panorama yang ada, dimana kaki berpijak di bumi dengan segala isinya.

Awal sebelum perkuliahan begitu jauh aktif, terbesit di pikiranku untuk ikut berorganisasi selain kuliah saja, tapi saya pun berfikir kalau saya ambil organisasi saya takut mata kuliah saya terhalang karena masih banyak  tugas di semester 1 dan 2. Nanti aku akan berorganisasi  untuk menjadi satu ruang tersendiri bagiku untuk mengembangkan ke-intelektualan yang mungkin aku rasakan masih sangat dangkal untuk lebih diisi dan dikembangkan, dan ternyata yang aku rasakan di dalamnya tidak hanyalah itu bahkan lebih, karena di situ juga banyak ilmu yang akan aku dapat di luar bangku kuliah.

Dalam pikirku terselip untuk mengiyakan bahwa aku harus menggeluti di dunia organisasi, karena mahasiswa dituntut menjadi agen perubahan atau agen pergerakan. Lalu ku beranikan diri mendaftarkan diri sebagai kader pergerakan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

Diklat pergerakan aku ikuti. Tretes menjadi spot pilihan dalam kegiatan pengkaderan tersebut. Kegiatan demi kegiatan terlaksana dengan baik. Pembaiatan menjadi kegiatan menuju akhir, di situ aku mulai terdiam, karena suasana dalam kegiatan itu membawa emosional yang mendalam. Aku mulai bertanya-tanya dalam benak hati ini, masih abu-abu pikirku untuk mananggapi ketika berbagai argumen yang dilontarkan seorang kader senior di depan mataku.

Dia tidak seperti kader pergerakan pada umumnya, matanya melotot tajam ke arah depan, sedikitpun dia tak pernah melukiskan senyum dalam bibirnya mungkin saja dia telah lupa bagaimana seharusnya tersenyum. Dia memakai kaos dengan bertuliskan “since 11 April 1970” terlihat pantas saat dia yang mengenakan kaos hitam itu. Entah apa arti dari 11 April 1970 yang jelas itu bukan hari kelahirannya, lantas jika bukan kelahirannya lalu kelahiran siapa?.

Lalu kutemukan makna dibalik 11 April 1970 saat dia berbalik membelakangi kami “Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia” dengan disertai lambang di atasnya. Belum sempat aku tanyakan siapa namanya, dia terlebih dahulu menyentak kami dengan nadanya yang langsung meninggi.

“Apa yang kalian cari dari diklat pergerakan? Dan apa tujuan kalian?”
Semua terdiam, kami titipkan bisu dalam bisu tapi bisu itu langsung tertiup oleh hentakannya yang kedua.

“Ayo, dijawab yang tegas, apakah kalian siap menjadi agen pergerakan?”
Aku tertunduk, tidak mengerti apa yang harus aku katakan, lalu dia rajut kata demi kata dengan segala bentuk pemikirannya yang abstrak (memutar dalam kata yang sama yaitu “siap”) dengan pembumbuan kata yang sedikit sukar dimengerti, mungkin itu efek dari hentakan dan muka serius yang dilempar pemateri. Aku yang mendapat giliran lebih awal, setelah sekian panjang berargumen. Lalu aku berhenti dan mengatakan “mohon maaf, yang lain dulu kak”. Saat itu ada Afif, Alby, dan Rosyid yang jauh-jauh ke ranah rantau nan jauh sekedar mendalami arti dan perspektif pergerakan yang tertuang di kata awal dalam organisasi yang kami geluti.

Alby mencoba meyakinkan pemateri dengan cara retorikanya yang rapi, mengalirkan kata, menyiram keyakinan pemateri bahwa dia telah siap seutuhnya untuk menjadi agen gerakan, pemateri yang merasa gersang keyakinan akan kesanggupan kami pada ahirnya luluh dalam kata yang Alby tusuk dengan gaya bahasanya yang lembut dan sopan.

“Masih banyak hal yang belum saya ketahui dari diklat ini, metode-metode pergerakan yang semenjak awal kami pelajari belum seutuhnya kami pahami, justru itu kami berada disini. Namun jika pertanyaannya adalah siap atau tidak, maka jawabannya jelas siap kak,” tegas Alby.

“Oke, selanjutnya,” ungkap senior berkaos hitam.

Hampir semuanya menjawab jawaban yang sama seperti Alby, tapi melalui retorika dan bahasa yang berbeda.

“Buktikanlah, jika kalian adalah agen pergerakan,” pungkas Doyok, panggilan senior berkaos hitam tersebut.

Argumen tersebut menjadi penutup kegiatan pembaiatan. Setelah selesai mengikuti berbagai kegiatan, kami sebagai mahasiswa sekaligus kader pergerakan dituntut untuk  mengimplementasikan ilmu-ilmu yang dapat di diklat pergerakan. Mulai dari memahami beberapa teori logika, filsafat, hingga mengawal rakyat. Sebagai penyambung lidah rakyat, di situlah kader pergerakan bergerak. Mengantarkan aspirasi rakyat kepada birokrat.



Oleh: Moh. Muchlisin
*Penulis adalah mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Semester III
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment