Saling Menyayangi Sesama Muslim - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 21 October 2017

Saling Menyayangi Sesama Muslim

doc. Repro Internet

Sepulang sholat ashar dari masjid aku segera menuju ke kamar dan mengganti pakaianku. Tak lama kemudian teman-teman datang dan dan memanggilku dari depan rumah.

“Tonii.. Tonii.. main yuuk.” Teriak mereka.

“Iya tunggu sebentar.” Jawabku

Sebelum berangkat main, aku pun meminta ijin dan berpamitan pada ibuku. Setelah diperbolehkan, “Assalamu’alaikum bu toni berangkat.” Salamku sambil mencium tangan ibu. 

Lalu aku keluar menghampiri teman-temanku.

“Mau main apa nih kita?” Tanyaku kepada teman-teman

“Main gobak sodor yuukk!!” Ajak Dani salah satu temanku.

“Boleh-boleh.” Jawab yang lainnya bersamaan.

Berangkatlah kita berjalan kaki ke lapangan depan masjid Baitussalam, disitulah tempat biasa kita bermain.

Sesampainya kita di lapangan fahmi dan fakhri segera membuat garis-garis yang membentuk 6 kotak dengan menggunakan batu bata sebagai medan kita bermain gobak sodor, aku pun segera mengumpulkan teman-teman yang lain dan membagi mereka menjadi dua kelompok sesuai dengan hom-pim-pa yang kita lakukan bersama-sama.

“Oke Linda, Fitri, Fahmi, Tio dan Baba kelompok satu. Aku, Fakhri, Mia, Aisy dan Dani kelompok dua.” Jelasku menyebutkan pembagian kelompok masing-masing.

“Siyaaapp!!” jawab teman-teman serentak.

Permainan dimulai dari kelompok dua berjaga dan kelompok satu bermain. Gobak sodor berlangsung sangat seru juga setiap kelompok berantusias sekali untuk menjadi pemenang.

Namun saat ini kelompok dua lah yang memiliki nilai unggul yaitu 3-1.

Tak lama kemudian ketika kelompok dua berjaga Fakhri menyentuh Tio anggota dari kelompok satu yang artinya bahwa mereka kalah. Tetapi Tio tidak mengakuinya dengan alasan tidak  terasa bahwa Fakhri dapat menjangkaunya ketika berlari melewati garis.

“Tadi aku lari lebih cepat daripada Fakhri, dia tidak mengenaiku.” Bantahnya kepada semua taman-teman.

Fakhri dan Tio pun bertengkar dorong mendorong sambil mengejek satu sama lain. Aku dan teman-teman lainnya pun berusaha melerai mereka berdua.

“Sudahlah ini hanya permainan, tidak perlu bertengkar seperti ini.” Lerai Mia

“Sekarang maaafan ya.. tidak boleh lagi bertengkar, tidak boleh lagi ada dendam. Kita adalah saudara sesama muslim, umat Allah harus saling menyayangi, memaafkan dan mengingatkan.” Aku berusaha menenangkan situasi yang sedang panas.  

Akhirnya semua damai, mereka berdua saling bersalaman dan memafkan, kita semua juga ikut berpelukan tanda saling menyayangi satu sama lain. Kemudian kita segera pulang ke rumah masing karena hari mulai petang dan tak lama lagi adzan Maghrib juga akan dikumandangkan.



Oleh: Ainun Amalia
*Penulis adalah Mahasiswa Semester V Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment