Titip Absen Masih Jadi Budaya di Kalangan Mahasiswa - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 24 October 2017

Titip Absen Masih Jadi Budaya di Kalangan Mahasiswa


doc. Repro Internet

Tindakan yang dinilai memanipulasi data presensi ini menjadi hal yang biasa dikalangan mahasiswa pada seluruh Universitas di Indonesia. Fenomena titip absen ini, masih saja ditumbuhkembangkan atau dilanggengkan oleh kalangan mahasiswa pada zaman milenial ini, hal tersebut dianggap sebagai sikap positif karena membantu teman yang berhalangan untuk hadir dalam proses perkuliahan.

Hampir semua mahasiswa pernah melakukan tindakan tersebut, tapi tentu dengan alasan yang berbeda-beda. Bahkan, banyak persoalan yang tidak rasional dari alibi (alasan) mahasiswa yang sering melakukan titip absen, mulai dari kegiatan organisasi, kegiatan kampus, ketiduran, malas, lebih memilih jalan-jalan, dan lain sebagainya.

Ada pula rasa bosan terhadap dosen pengampu dalam salah satu mata kuliah, bahkan bisa jadi pada semua mata kuliah. Berbagai hal sepele bisa dijadikan sebagai alasan dilakukannya tindakan menyembunyikan kebenaran ini, tentu saja hal tersebut mampu mengundang persoalan negatif dalam kehidupan mahasiswa itu sendiri.

Di dunia perkuliahan data presensi atau data kehadiran mahasiswa biasanya menentukan keikutsertaan mahasiswa mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS). Maka dari itu, berbagai hal akan dilakukan mahasiswa untuk memenuhi data presensi tersebut. Menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan yang diinginkan.

Padahal jika ditelaah lebih dalam, tindakan titip absen membuat mahasiswa akan mendapat banyak mudhoratnya daripada faedahnya. Ketidakjujuran merupakan salah satu dampak buruk dari tindakan titip absen, karena kejujuran merupakan hal urgent (penting) dalam kehidupan.

Dengan menitip absen, secara tidak langsung bahwa kita telah melakukan tindakan yang tidak jujur, baik itu dari mahasiswa yang menitip absen dan mahasiswa yang bersedia membantu teman dalam tindakan menyembunyikan fakta untuk melahirkan fakta palsu. 

Dalam hal kecil tersebut, mahasiswa berani tidak jujur apalagi pada persoalan yang besar atau yang lebih urgent. Ketidakjujuran dalam hal kecil, akan menimbulkan ketidakjujuran lain yang berdampak menjadi lebih besar. Apabila sejak kuliah sudah terbiasa berbohong bagaimana di kehidupan sesungguhnya yang lebih besar lagi nantinya.

Fenomena ini tetap langgeng atau masih ditumbuhkembangkan karena budaya titip absen masih diwariskan oleh angkatan sebelumnya. Sebuah persoalan budaya biasanya warisan dari seseorang yang lebih dahulu lahir dari generasi setelahnya atau seseorang yang lebih dahulu melakukan hal tersebut, lantas baru dipelajari bahkan ditiru oleh generasi setelahnya.

Bukan hanya itu, faktor kedua yaitu dari pihak dosen yang cuek dan tidak memonitor satu persatu dari mahasiswanya yang hadir di kelas tersebut. Kendati ada juga dosen yang memonitor data presensi mahasiswanya.

Untuk meminimalisir tindakan tersebut, seharusnya pihak dosen memilih untuk memonitor mahasiswanya dengan memanggil satu persatu mahasiswanya yang hadir di kelas tersebut. Hal tersebut sangat ampuh untuk mengurangi perilaku titip absen yang dilakukan oleh mahasiswa (Kompasiana, 8/12/2015).

Perilaku seperti ini sudah semestinya mulai dikurangi, dan kalau perlu dihilangkan saja. Karena dengan melakukan titip absen tersebut, telah merugikan diri sendiri, bahkan ada pihak yang tanpa kita sadari telah dirugikan dengan perilaku tercela ini. Seperti orang tua yang telah membantu secara finansial maupun secara psikis dengan harapan agar sang anak bisa menjunjung tinggi derajat orang tua maupun bangsa Indonesia. Maka kita perlu menyadari akan hal tersebut.

Sungguh ironis melihat fenomena seperti ini dilakukan pada kalangan mahasiswa yang notabenenya sebagai agent of change and Social of Control. Perlu disadari, bahwa mahasiswa adalah kaum intelektual terdidik. Pola pikir mahasiswa tentu akan berbeda dengan pola pikir orang yang tidak berkesempatan mengenyam dunia perkuliahan.

Maka seharusnya, mahasiswa harus memiliki integritas lebih tinggi dibanding dengan orang yang tidak berkesempatan mengenal bangku perkuliahan. Kesadaran akan kewajiban untuk memenuhi tanggungan menjadi hal sangat penting untuk ditanamkan dalam diri kita, sebagai mahasiswa sekaligus sebagai seorang pelajar yang suatu saat nanti akan mengemban tugas yang sangat berat, yaitu menjadi penerus bangsa yang berintegritas tinggi.



Oleh: Faiz Afifian Mahfudhon Illiend
*Penulis adalah Mahasiswa Semester III Komunikasi Penyiaran Islam
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment