ASWAJA Dalam Bingkai UINSA - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 23 November 2017

ASWAJA Dalam Bingkai UINSA

doc. Rurun/Arta

Ahlus Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA) adalah umat Islam yang mengikuti sunnah Rasulullah dan berkeyakinan dengan benar tidak menyimpang dari ajaran Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Aswaja tersebut istilahnya sudah merebak kemana-mana. Hampir semua ormas Islam di Indonesia menganut Aswaja dan memperjuangkannya.

Lalu timbul sebuah pertanyaan adakah Perguruan Tinggi Islam Negeri yang berwajah Ahlus Sunnah Wal Jamaah? Pertanyaan yang tidak mudah dijawab, yang jelas pasti ada. Dengan indikasi kampus tersebut di huni oleh Mahasiswa, Dosen, Civitas Akademik yang mayoritas Aswaja.

Seyogyanya di Universitas Islam. Khususnya UIN Sunan Ampel Surabaya sudah mengaplikasikan  apa yang diperintahkan oleh Islam, istilahnya sesuai Al-Qur'an Dan Sunnah atau banyak yang menyebutnya Aswaja. Kampus UINSA sendiri sudah menjadi jawaban dari pertanyaan di atas, jika dipandang dari ajaran ASWAJA salah satu ormas Islam yang terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU).

Memang dari setiap ormas Islam mengartikan Aswaja dengan definisi yang berbeda, maka perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam berkeyakinan, eksistensi UINSA yang sejak dulu melestarikan akidah Aswaja, tidak lepas dari sejarah dan kepemimpinan Rektor yang memegang kuat falsafah “al-muhafdzah ala al-qodim als-sholih wa al-jadid al-ashlah” yang mempunyai arti melestarikan hal yang lama yang baik, mengadopsi hal baru yang lebih baik.

Indikasi UINSA sebagai kampus Aswaja terlihat dari kegiatan-kegiatan yang religius di dalamnya yang tumbuh subur di UINSA seperti khatmil qur’an, istighosah, sholawatan, dzikir bersama, seni banjari dan masih banyak lagi. Kegiatan tersebut sangat sering terlihat di kampus hijau UINSA. Tidak hanya itu adanya unit kegiatan Mahasiswa bernafaskan Islam menguatkan UINSA sebagai kampus ber-akidah Aswaja.

UINSA juga pernah menggelar UINSA mengaji untuk Indonesia, yang menghadirkan ulama-ulama tersohor, acara yang telah menyedot banyak peserta dari dalam maupun luar UINSA. Acara yang di dalamya juga di isi dzikir bersama dan sholawatan.

Namun ada baiknya jika dalam penguatan Aswaja di salah satu ormas Islam, tidak membuat kita taklid buta bahkan fanatik mahdzab yang akan membuat tidak toleransi terhadap ormas Islam yang lain.

Dari kacamata penulis, banyak melihat perihal masalah yang telah dipaparkan di atas dimana golongan satu mencela golongan lainnya, hanya perihal Aswaja dan merasa Aswajanya paling benar. UINSA atau yang biasa disebut dengan kampus hijau dan kampus pergerakan 117 ini, memang telah menjadi tempat mayoritas salah satu ormas Islam tersebut. Tidak ada yang salah dalam hal tersebut semasa masih ada toleransi yang baik kepada ormas yang lain.  Seharusnya hal tersebut tidak menjadi alasan untuk ke-fanatisme-an terhadap madzhab. Jika merasa paling benar-pun tak apa asal tak mencemooh ormas Islam yang lain.

Namun sangat disayangkan karena cakupan UIN adalah semuanya Islam dengan perbedaan yang terjadi dalam golongan yang sama-sama Islam namun berbeda akidah Aswajaya, beda hal dengamn kampus non Islam. Perbedaan terjadi dalam hal agama atau keyakinan.

Hal yang harus dilakukan untuk menghindari hal tersebut adalah toleransi tanpa penghinaaan. Yang memang percaya dengan tradisi ya sudah, yang tidak suka dengan tradisi ya sudah, tak ada yang perlu di perdebatkan. Jadikan Islam rahmatan lil ‘alamiin seharusnya perbedaan adalah hal yang wajar, tidak membuat NKRI menjadi terpecah belah seperti kondisi Indonesia saat ini. Islam itu damai no kekerasan.

Sebagai Mahasiswa kita sangat berperan aktif akan hal tersebut, kita juga harus pandai dalam memilah Aswaja mana yang harus kita ikuti, bukan hanya menjadi ekor atau pengikut tanpa ada dasar yang jelas.

Terlepas dari hal itu, tugas kita sebagai Mahasiswa yang meneguk dalamnya sumur ilmu pegetahuan di UINSA yakni harus mampu bersatu dalam perbedaan, Tidak ada bendera di atas bendera, mampu melestarikan Aswaja di kampus kita sesuai pola fikir yang sudah kita pelajari, juga mampu mengembangkan ilmu pengetahuan sains dan mengintegrasikannya dengan ilmu-ilmu agama yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah.

Syarat ini adalah harga mati, sebab UINSA adalah benteng pertahanan di Indonesia dalam menjaga Aswaja, jika tembok ini terkikis maka Indonesia akan kehilangan wajah kampus Islam yang berasaskan Aswaja.

Oleh : Ayu Kamalia Khoirunnisa
penulis adalah mahasiswa semester III Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment