Ayah, Abdi Keluarga dan Negara - Araaita.com

Breaking News

Friday, 10 November 2017

Ayah, Abdi Keluarga dan Negara

doc. Repro Internet

"Nak, sudah makan?" tanyanya di ujung telepon. Suara pria yang mengkhawatirkanku karena tahu betul kebiasaanku yang sering telat makan. Dia adalah ayahku. Ayah menghabiskan hidupnya 20 persen untuk keluarga, 35 persen untuk rakyat dan 45 persen untuk negara. Mungkin memang sudah tugas Ayah sebagai abdi negara yang harus memprioritaskan hidupnya untuk negara. Bahkan saat ibuku mengandungku dan tinggal menghitung beberapa bulan lagi menuju proses lahiran, beliau harus berangkat ke Jakarta. Ikut berperan penting dalam peristiwa krisis moneter di tahun 1998. Memblokir jalan di barisan terdepan mengamankan gedung MPR/DPR yang dikepung ribuan mahasiswa demi aksi penurunan jabatan Presiden Soeharto kala itu.

Saat-saat yang paling ku benci adalah ketika beliau harus ditugaskan ke luar pulau selama berbulan-bulan. Selama itu ibuku dan saudara-saudaraku setia menemaninya mulai dari mengisi peralatan-peralatan di ransel hingga hari dimana Ayah siap berangkat lengkap dengan pakaian doreng yang melekat di tubuhnya. "Ayah pergi dulu ya, Nak. Kamu jangan nakal," Itu pesan Ayah yang selalu aku ingat setiap beliau berangkat tugas. Selepas itu aku bergiliran mencium tangannya dengan kedua saudaraku. "Tuhan, jaga Ayahku nanti disana," batinku menggeliat tepat setelah mendengar pesannya itu.

Sekarang Ayah ditempatkan jauh dari hiruk pikuk ibu kota. Beliau ditempatkan di sebuah pulau terpencil tepatnya perbatasan antara Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Perjalanan harus ditempuh dengan perahu kecil selama 4 jam, melewati rawa-rawa yang dikelilingi si reptil buas alias buaya. Kira-kira dua minggu dalam sebulan barulah Ayah bisa pulang ke rumah. Namun, karena kerja kerasnya Ayah mendapatkan gaji lebih. Entah aku harus bersyukur atau mengeluh. Kadang karena jarangnya ketiadaan ayahku di rumah membuat kedua orang tuaku mengalami cekcok hebat selepas ayah bertugas. "Ini salah kamu, kamu nggak bisa didik anak dengan baik," ujar ayah dengan nada tinggi. "Kenapa aku? Kamu yang salah. Kamu jarang di rumah nggak tahu apa-apa," kata ibu berusaha membela dirinya. Hatiku hanya bisa membatin ketika mereka sedang adu mulut di depan anak-anaknya. "Bukan, ini bukan salah kalian. Ayah itu abdi negara dan jarang pulang. Ibu nggak bisa besarin anak-anaknya sendiri tanpa sosok ayah," Begitu kira-kira batinku menggerutu.

"Udah yah, " jawabku dengan semangat, padahal seharian ini perutku belum terisi apapun. Aku berusaha membuatnya tak khawatir.

"Kata ibu, kamu mau liburan ke Bandung nanti?"

"Iya, boleh kan?" tanyaku meminta ijin Ayah.
"Pulang aja lah. Liburanmu lama kan? Ntar, Ayah belikan tiket pesawatmu," kata Ayah merayuku di ujung telepon pagi ini.
Ayah terus mendesakku untuk pulang ke rumah liburan semester nanti. Entah karena alasan apa. Tiga bulan yang lalu aku dan Ayah bertatap muka. Saat itu, Ayah hendak berangkat ke pulau terpencil dimana ia bertugas. Tapi, Ayah masih sempat mengantarkanku ke bandara bersama Ibu dan adik laki-lakiku. Waktuku memang sangat terbatas untuk bertemu dengannya. Ditambah lagi aku kini sedang menuntut ilmu di tanah rantau, tepatnya di Pulau Jawa.

Ayah seringkali membangunkan ku lewat telepon di pagi hari. Tak banyak yang ia bicarakan. Hanya perhatian-perhatian kecil berdurasi kurang dari lima menit. Pertanyaan-pertanyaan yang aku hafal betul diluar kepala. 'Nak, sehat? Nak, udah makan? Nak, uangnya udah habis?'
Mungkin ayahku bukan sosok ayah yang romantis seperti ayah kebanyakan anak di luar sana. Tapi aku tahu lewat perhatian yang ia berikan itulah sikap romantis tersendiri bagiku. Ia selalu bisa meluangkan waktunya untuk meneleponku. Dengan membiarkanku mendengarkan suaranya jika Ayah baik-baik saja, aku sudah sangat bersyukur.

Menjadi anak seorang abdi negara merupakan hal yang membuatku bangga. Terlebih sosok Ayah yang harus siap siaga menempatkan posisinya dimanapun. Ketika ia bertugas, Ayah menjadi seorang tentara yang profesional. Tapi, ketika beliau di rumah, ia menjalani hidup sebagai Ayah tiga orang anak.

Oleh : Anastasia Pricilia Juliet Anaway
*Penulis adalah MahasiswaSemester III Ilmu Komunikasi
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment