Gadget dan Perubahan Perilaku Seseorang - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 9 November 2017

Gadget dan Perubahan Perilaku Seseorang

 
doc. Repro Internet
Adanya perkembangan teknologi dan informasi begitu pesat di era yang serba canggih ini, ditandai dengan munculnya suatu barang yang begitu menghipnotis banyak orang. Barang tersebut bagaikan narkoba yang seakan-akan membuat konsumennya kecanduan, pasti semua orang tak asing lagi dengan yang namanya ‘gadget’.

Gadget merupakan barang elektronik berukuran kecil yang memiliki fungsi tertentu, bisa digunakan untuk berkomunikasi antara individu satu dengan yang lain, bahkan yang jaraknya terpaut jauh pun bisa dijangkau dengan mudah dan cepat oleh barang kecil ini

Perkembangan gadget yang kian hari kian meningkat ini, perlu adanya kewaspadaan oleh setiap orang. Dimana gadget telah mengalami perubahan setiap waktunya. Apalagi gadget masa kini sudah dilengkapi dengan aplikasi-aplikasi yang menarik, seperti aplikasi sosial media (line, whatsapp, instagram, bbm, dan lain-lain), aplikasi edukasi, hingga aplikasi permainan.

Saat ini, banyak orang yang menginginkan hal praktis dan instan dengan fasilitas yang telah disediakan oleh gadget. Misalnya saja, ketika seseorang merasa lapar, dengan segera membuka aplikasi untuk memesan makanan pada gadgetnya, salah satunya aplikasi go food. Aplikasi sejenis go food ini disamping memudahkan orang untuk mencapai kebutuhan makannya, tetapi juga berpengaruh terhadap meningkatnya kemalasan seseorang. Karena jika orang tersebut malas untuk membeli makanan di luar rumah, ia cukup menekan aplikasi go food, lalu menunggu beberapa saat, petugas go food akan mengantar makanan orang tersebut sampai di depan rumah.

Tidak hanya itu, orang-orang juga dimudahkan oleh jaringan internet. Salah satu tersedianya jasa untuk mengerjakan tugas seperti situs tugas pada brainly.co.id. Para siswa dan mahasiswa hanya tinggal membuka google di layar gadget dan mencari bahan yang dibutuhkan, semuanya akan muncul dalam hitungan detik saja. Padahal jika kita lihat orang-orang terdahulu yang belum memiliki gadget, mereka hidup mandiri dengan apa yang mereka pikirkan.

Dengan adanya gadget pula, banyak orang yang kurang bisa bersosialisasi terhadap lingkungannya, seperti ajang kumpul atau reuni dengan teman, masing-masing dari mereka asik dengan gadgetnya, padahal acara kumpul seperti ini bisa dimanfaatkan untuk saling cerita pengalaman maupun sharing ilmu.

Gadget pun seolah-olah merubah aspek kehidupan seseorang, salah satunya dampak yang ditimbulkan dari gadget pada aplikasi permainan. Seperti berita yang dilansir oleh CNN Indonesia, salah satu warga asal Dongguan, China mengalami kebutaan akibat dari bermain video game yang ada di ponselnya dari pukul 4 sore hingga 11 malam.

Beberapa kasus juga dialami orang-orang yang mengambil foto (selfie) dari gadgetnya, pada waktu dan tempat yang kurang tepat. Tak sedikit pula yang mengalami musibah kecil hingga yang kehilangan nyawanya. Pada tahun 2014, Departemen Transportasi Amerika Serikat mencatat 33.000 orang terluka karena berfoto selfie sambil berkendara. Di India terdapat 27 kematian akibat foto selfie. Kasus terbaru yang dilansir oleh kapanlagi.com pada tanggal 23 Februari 2017, dua mahasiswi asal AMIKOM Cilacap, Jawa Tengah, yang meninggal dunia akibat selfie, diduga mahasiswi ini kepleset dan hanyut di Sungai Kedung Nila, Banyumas setelah melakukan kegiatan selfie.

Dari sekian dampak yang saya sebutkan di atas, perlunya adanya wawasan untuk penggunaan gadget secara tepat. Jangan sesekali menjadikan gadget sebagai kebutuhan prioritas. Boleh saja menggunakan gadget tetapi juga harus melihat waktu dan kondisinya.

Terlebih lagi peran orang tua begitu penting dalam meminimalisir kasus gadget yang ada di dunia ini. Seharusnya orang tua tidak memberikan gadget kepada anak hingga tepat pada usia 14 tahun, seperti apa yang diterapkan oleh Bill Gates (penemu microsoft) kepada anak-anaknya. Orang tua sebaiknya memberikan jadwal untuk memegang gadget, belajar, makan, berkumpul dengan keluarga. Tak lupa, orang tua harus bisa memberikan nilai-nilai agama dalam diri anak.

Tidak hanya peran orang tua, tenaga pendidik juga harus tegas dalam kegiatan belajar para murid di sekolah. Pihak sekolah memberikan aturan tegas untuk tidak mengijinkan siswanya membawa gadget.

Begitu pula diharapkan bagi pemerintah agar turut berkontribusi, dengan mengadakan kegiatan-kegiatan positif untuk masyarakat Indonesia. Seperti kegiatan pelatihan atau workshop bagi pemuda dalam pemanfaatan Teknologi dan Informasi, pelatihan terkait media untuk warga di kota terpencil, dan kegiatan positif yang lain.



Oleh: Warda Hikmatul Mardiyah
*Penulis adalah Mahasiswa Semester III Ilmu Komunikasi
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment