Hijrah yang Dikebiri Zaman Now - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 14 November 2017

Hijrah yang Dikebiri Zaman Now

 
doc. Repro Internet

Tidak terasa waktu berlalu sangat cepat, dan seakan akan bisa dibuktikan, waktu kalau dijual, akan lebih mahal daripada sepeda motor sport yang di idam idamkan anak muda zaman Now. Sabtu, hari dimana aku mendapatkan perintah yang ke 5 kalinya dari Dantok -bos geng sekolahku yang terkenal berperawakan bongsor dan berotot serta mantan murid perguruan silat ternama yang memiliki ilmu kanuragan sakti mandraguna- untuk merapatkan barisan, tawuran lagi, iya tawuran yang ke 5, namun ini dengan mahasiswa kampus A di kebumen, Jawa Tengah, sebelumnya dengan anak SMK sederajat.

Tepatnya, gang kecil sebelah utara sekolahku, Dantok mengadakan rapat besar dengan puluhan temannya penuh dendam, karena barusan saja partnernya dihajar habis oleh anak kuliahan itu, membahas strategi dan senjata apa saja yang akan dibutuhkan, bahkan jika ada jimat, maka akan sangat perlu untuk menghajar habis anak kuliahan itu.

Merasa begitu semangat menjalani waktu yang telah kubeli dengan sangat mahal ini, tanpa disadari apa yang kulakukan semua ini, kuanggap baik bagi kehidupanku, namun tentunya itu salah besar, setelah kami -Dantok dan tujuh temanku begitu juga aku beserta belasan mahasiswa- digiring oleh beberapa Polisi dan TNI ke tengah tengah lokasi lapangan Polsek Kebumen terdekat, kami semua jongkok dan telanjang dada dihadapan para bapak bapak Polisi dan TNI yang membawa senjata api itu, tak hanya teriakan bapak bapak Polisi dan TNI itu yang menyoroti kami, panas matahari pun ikut menyoroti kami sehingga membuat kami sangat kegerahan, geram sekaligus ketakutan.

“Suf, gimana ini? Aku takut bapakku marah besar nanti,” salah satu temanku berbisik pelan ke telingaku sembari ketakutan melihat senjata api yang dibawa oleh aparat itu.

“Bodoh, itu salah kamu, udah tau resiko kayak gini, kamu ikutan,” bisikku agak keras.

Setelah mendengar pembicaraan ku dengan temanku itu yang mencurigakan, aku pun ditarik keras oleh salah satu bapak TNI, badanku yang kurus tak sebanding dengan bapak TNI yang memiliki badan tinggi dan kekar itu, takut menggerayai tubuh, “mau diapakan aku ini,” jerit dalam hati

“Saya ulangi lagi, siapa yang berkuasa disini? Siapa yang menjadi bos kalian?” teriak bapak TNI itu yang memegangi aku dengan beberapa pangkat di bajunya itu, aku pikir dia komandan disini.

“Kalau tidak ada yang mengaku, akan kami masukan kalian semua ke penjara,” teriaknya sekali lagi.

Setelah setengah jam berlalu, mengintogerasi kami secara massal, bapak bapak Polisi dan TNI dengan kaget mendengar Dantok mengatakan. “Saya pak, saya bos mereka, saya bos anak SMK ini pak,” tegasnya dengan nada sedikit ketakutan.

Akhirnya Dantok menyelamatkan kami semua, namun aku tak tau apa yang akan dilakukan aparat itu kepada Dantok, aku cuek saja, itu keberanian yang membawa kebaikan namun tidak untuknya, aku pikir itu takdirnya, setelah semua selesai, kami dikembalikan kepada orang tua kami, tentunya dengan predikat di SKCK kenakalan remaja.

Aku sangat menyesal atas kelakuan yang liar itu, dengan remehnya masa mudaku kugunakan dengan aktifitas yang tidak bermanfaat, aku menjerit dalam hati, setelah semua teman temanku yang baik baik saja, dengan bangganya mereka lulus dan kuliah di kampus favorit mereka masing – masing.

Aku yang sudah terlanjur masuk ke perangkap setan ini, menangis tersendu sendu di hamparan sajadah shalat fardlu isya’ kala itu, berharap ada keajaiban yang bisa mengubah ini semua menjadi baik baik saja. Aku bisa kuliah di kampus favorit dan bertemu dengan teman teman yang baik baik pula, serta membanggakan orang tua dan keluarga kelak dengan prestasi yang kubuat sendiri.

***
Aku berkomitmen bekerja selama setahun, mengumpulkan uang, sedikit demi sedikit untuk berhijrah dari Kebumen ke kota pahlawan yakni Surabaya, adapun faktor aku kuliah di Surabaya, karena aku percaya kota pahlawan itu akan menciptakan pahlawan pahlawan baru, minimal pahlawan bagi diri sendiri dan keluarga baru masyarakat, disisi lain juga ada saudara kaya yang tinggal di Surabaya saat itu.

Berharap terus dalam hamparan sajadah di setiap waktu shalatku, agar aku selalu berada dalam jalan yang lurus secara istiqamah, aamiin. Tak terasa waktu menunjukkan eksistensinya, sangat cepat sekali berlalu, bulan depan sudah membuka pendaftaran mahasiswa baru di Surabaya.

“Suf, Sufi, mau ngapain kamu daftar kuliah?” tanya penasaran kepadaku, rusti, partner kerjaku -di lembaga amil zakat Kebumen- selama ini yang cukup dekat denganku, apapun aku jalani bersama dengannya, namun aku heran dengan dia, sering aku diajak kajian islami bersamanya, juga kebanyakan malah aku dinasehati mengenai kehidupan, hijabnya yang begitu menutup aurat tanpa memperlihatkan liukan tubuhnya, namun ia sering berkumpul, bersentuhan, bahkan berdekatan seperti orang pacaran zaman Now.

Apa ini yang dimaksud sindrom atau virus “kids zaman now” yang menjakiti masyarakat dengan budaya barunya itu, sudah jelas jelas rasionalitasnya, syariat agamanya, masih saja tetap melanggar dan itu disadari olehnya, “Sekali-kali kan nggak apa-apa,” alasannya. Sekali kamu masuk ke jurang setan, maka akan susah dibawa atau dinasehati yang baik baik nantinya.

***
Hari senin, aku ketik memasukkan profile ku kedalam website penerimaan mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi islam di Surabaya, tak terasa waktu begitu cepat lagi, akhirnya doaku diterima oleh Allah SWT. Aku diterima di salah satu perguruan tinggi islam di Surabaya dengan jurusan islami pula. “Alhamdulillah,” ucap syukur ku kepada takdirnya.

Masa Orientasi Mahasiswa kujalani dengan baik, hingga awal perkuliahan ku jalani dengan baik pula, semester 1, semester 2, semester 3, semester 4, begitu sampai di semester 5, aku mulai merasakan ada yang beda dalam doaku sebelum menjadi mahasiswa dulu, aku berdoa agar bersama sama kumpul dengan golongan orang orang yang baik, namun apa, sama saja kulihat disini, budaya mahasiswa disini, pola hidup mereka sudah liar seperti aku dulu, menganggap semua yang dilakukan adalah baik baginya, namun aku tidak melihatnya.

Seperti mahasiswa yang berbondong – bondong menuju ke warkop -warung kopi- untuk ngopi dan ngerokok, berdalih menghilangkan kepenatan selama perkuliahan, iya wajar itu, namun yang tidak wajar adalah ketika ada yang dari siang ke sore, bahkan malam ke shubuh, dia dengan santainya duduk tanpa ada kewajiban yang harus dijalaninya terlebih dahulu, yakni shalat 5 waktu yang telah mereka lupakan.

Ketika shubuh menggemakan adzannya, telinga mereka seakan akan tersumbat dan memilih rayuan setan untuk tidur lagi, dengan asyiknya mereka bangun siang, dan seakan akan tidak terjadi apa apa dalam dirinya, padahal sesuatu yang lebih penting dan menjadi kewajiban nya nomer satu dia tinggalkan begitu saja tanpa ada penyesalan.

Inikah yang disebut mahasiswa, apalagi mahasiswa yang notabene kuliah di kampus islami, bertambahnya mengenai keilmuan agamanya, iya memang, namun apa juga bertambah dengan imannya? tentu ini menjadi evaluasi bagi aku pribadi, dulu aku bertaubat setelah tertangkap oleh aparat, apakah mahasiswa ini butuh musibah atau masalah atau ujian besar terlebih dahulu untuk berhijrah? Atau tunggu ditangkap aparat dulu baru berhijrah?

***
Ada kerusuhan, demo atau aksi mahasiswa di depan gedung DPRD Jatim, berujung bentrok antara puluhan mahasiswa dengan kepolisian, selang beberapa jam, ada yang menakjubkan di tengah tengah kerumunan polisi itu, ada seorang polisi dengan beraninya tanpa senjata sedikitpun hanya dilengkapi dengan tameng maju menghadapi para perusuh itu, sungguh berani.

Eits, aku merasa ada yang mengganggu pikiran ku kala itu, ya, aku ingat betul postur tubuhnya dan kesaktian gerak silatnya melawan mahasiswa disitu, setelah pria berani itu membuka sebagian helm nya, aku ingat betul, pria itu adalah Dantok, yang sekarang menjadi garda terdepan kepolisian untuk mengatasi kerusuhan serta menjadi Bintal -bimbingan mental- di kepolisian bahkan di kalangan TNI juga.  

Sehingga pada akhirnya, saya berkesimpulan, suatu insan yakni manusia pada umumnya harus diberi peringatan terlebih dahulu, baru mau berhijrah seperti aku dan Dantok itu.

“Suf, hey, apa kabar kamu? Kok bisa di Surabaya?,” tanya Dantok kepadaku setelah kerusuhan mereda, aku berpakaian seperti anggota pers mahasiswa sambil membawa kamera DSLR milikku yang sedang meliput kerusuhan itu.

“Alhamdulillah sangat baik Tok, aku kuliah disini,” jawabku dengan nada terhormat, aku bangga dengannya, Dantok yang dulu mantan preman sekolah dan juga yang menyelamatkanku dan telah aku acuhkan kala itu, sekarang telah berubah total.



Oleh: Bimbi Naufal
*Penulis adalah Mahasiswi Semester III Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment