Indonesia di Masa Depan - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 2 November 2017

Indonesia di Masa Depan

 
doc. Repro Internet
Aku berdiri seorang diri di tanah lapang yang luas nan sepi. Hanya mengenakan kaos putih tanpa alas kaki. Tiba-tiba ku dengar suara bom dan granat dari jarak sekitar satu kilometer. Banyak orang berhamburan melarikan diri bak dikejar setan. Aku hanya terpaku pada satu posisi. Bingung terhadap apa yang terjadi. Aku pun ikut sibuk menyelamatkan diri ke sebuah gedung tinggi berbahan kaca. Gedung ini terlihat seperti sebuah perkantoran. Suasananya sepi dan berantakan. Kertas-kertas berhamburan. Sebagian kaca gedung pecah. Kursi dan meja tak tertata rapi sebagaimana mestinya. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah kalender yang tergantung di dinding gedung ini.Kalender menunjukkan bahwa hari ini tanggal 31 Juli2050. Bagaimana bisa? Mengapa waktu bergulir sangat cepat sekali?

Aku berjalan menelusuri lorong-lorong gedung ini mencoba lupakan jika sekarang aku berada di tahun 2050. Aku mendengar percakapan dua orang pria dari balik pintu.Perlahan aku mendekati sumber suara itu. Dugaanku benar. Ada dua orang pria di ruangan itu. Seorang pria mengenakan setelan jas rapi. Seorang pria yang lain mengenakan seragam dinas rapi berwarna coklat tua dengan badan gagah perkasa. 

‘’Kamu urus semuanya,” ujar pria dengan setelan jas tersebut seraya melemparkan amplop coklat tebal di atas meja di hadapannya. Aku yakin isinya adalah uang puluhan, ratusan bahkan milyaran juta. Tak sengaja aku melihat papan jabatan di atas meja pria berjas rapi tersebut. Seorang pejabat negara rupanya.

“Siap,” ujar pria berseragam dinas itu dengan singkat. Kemudian aku berlari ketika mengetahui pria berseragam dinas coklat akan menuju pintu keluar, tempatku bersembunyi saat ini. Aku melanjutkan perjalananku ke sebuah lift yang berada di pojok ruangan lantai dasar. Lantai 20, lantai teratas menjadi tujuanku. Lantai tertinggi yang pernah aku jajaki selama hidupku. Lift ini benar-benar kosong. 5 menit kemudian pintu lift terbuka. View langsung mengarah ke langit biru. Rasanya seperti aku berada di Dubai, salah satu negeri yang memiliki gedung-gedung pencakar langit seperti ini. “Kemana semua orang-orang ini? Setahuku ini masih jam kerja,” batinku menggerutu.

Aku melihat ke arah bawah gedung. Sungguh mengejutkan. Jalanan sekitar gedung bak lautan mayat. Sebagian meninggal terbujur kaku. Sebagian sekarat bersimbah darah. Beberapa orang berseragam putih-putih bergotong royong mengeluarkan tandu dari dalam ambulance. Terlihat juga beberapa pria berseragam dinas hijau rapi ikut membantu menangani korban-korban di jalanan tersebut. “Apa ini hari Kiamat? Tapi, mengapa tidak ada sosok besar yang keningnya bertuliskan kafir itu?” batinku makin penasaran. Lamunanku pecah ketika mendengar suara orang menangis histeris. Suara itu bersumber dari atap gedung. Aku menghampiri sumber suara itu. Banyak orang berpakaian rapi dan mewah disini. Ada yang menangis, ketakutan hingga menjerit kesakitan.

“Anak saya, Pak. Anak saya. Dia masih kecil,” teriak seorang ibu kepada pria yang sudah tak asing lagi di mataku. Pria yang berada di ruangan dengan pria berjas rapi di lantai dasar beberapa menit yang lalu.

“Anak saya juga, Pak. Apa salah kami? Kenapa anak kami dijadikan tawanan? Padahal suami kami seorang abdi negara yang melindungi negara ini,”ujar ibu yang lainseraya menangis tersedu-sedu.

“Iya bu, sabar. Kita akan proses secepatnya,” ujar pria itu.

Tiba-tiba suara senjata terdengar. Suara tank-tank turut menghiasi gaduhnya suasana kota ini. Begitu juga dengan suara bom. Aku menutup telinga dan berusaha mencari tempat persembunyian.

“Adik siapa? Kenapa bisa ada di gedung ini? Ini gedung khusus untuk orang-orang kaya,” tanya wanita di sebelahku.

“Rasis,” batinku. Aku terdiam.

“Dik,” ujar wanita berumur sekitar 25 tahun itu yang berusaha membuyarkan lamunanku.

“Saya bingung, Mbak. Sayatiba-tiba ada disini. Apa boleh saya bertanya?”

Dia mengangguk. “Siapa pria berseragam coklat muda itu? Lalu, kenapa ibu-ibu itu menangis dan memohon ke pria tersebut?”

“Dia adalah oknum dan ibu-ibu tadi adalah istri abdi negara. Anak-anak mereka dijadikan tawanan dan diserahkan untuk orang-orang berduit seperti pejabat negara. Negara kita tidak bisa memenuhi kerja sama yang telah lama ditandatangani dengan negara tetangga. Mereka meminta anak-anak gadis para abdi negara di seluruh Indonesia dijadikan budak nafsu mereka.”

Mbak, kok tahu banyak?”

“Saya sudah lama bekerja disini. Jujur saya muak kerja disini, tapi saya tulang punggung keluarga.”

Beberapa menit kemudian, suara helikopter terdengar mendekati area atap gedung. Itu bala bantuan. Segera kami menghampiri helikopter tersebut. Kami mengantri dengan sabar untuk menaiki helikopter itu dengan sebuah tali. Di tengah perjalanan, aku hanya berpikir dan berpikir. Ada apa dengan Indonesia saat ini. Hukum sangat lemah, uang di atas segala-galanya hingga orang kalangan bawah benar-benar tertindas.

Helikopter yang kami tumpangi mendarat di sebuah lapangan besar. Beberapa pesawat tempur negara Indonesia saling menyerang dengan pesawat tempur negara tetangga. Lengkap dengan pasukan bersenjata lainnya. Aku terkejut dan melarikan diri. Aku seperti menjadi seorang aktor dalam sebuah film dokumenter yang tak kalah dengan perang dunia II. “Awas dibelakangmu,” teriak salah seorang pria mengingatkanku.

Tok, tok, tok.Suara pintu membuatku terbangun.“Kok tidur? Lima menit yang lalu kamu bilang mau ngerjain tugas Hukum Politik. Sudah selesai?” tanya Mama.

“Lima menit yang lalu, Ma?Sekarang jam berapa?”

“Iya, lima menit. Jam 20.55 WIB. Ketiduran, sih. Udah lanjutin tugasnya,” perintah Mama kepadaku.

Aku tersadar semua itu hanyalah mimpi.Sebuah gambaran kondisi Indonesia ditahun 2050 sampai tahun 2055 yang ternyata adalah durasi aku tertidur malam ini.



Oleh: Anastasia Pricilia Juliet Anaway
*Penulis adalah Mahasiswa Semester III Ilmu Komunikasi
UIN Sunan Ampel Surabaya dan wartawan araaita.com

No comments:

Post a Comment