Kisah Pelik Chandra Kirana, Pejuang Pendidikan dari Tanah Kalimantan Utara - Araaita.com

Breaking News

Monday, 13 November 2017

Kisah Pelik Chandra Kirana, Pejuang Pendidikan dari Tanah Kalimantan Utara

doc. Istimewa

Araaita.com - Chandra Kirana, pria kelahiran 20 Oktober 1992 tersebut harus merasakan kerasnya kehidupan saat ia menempuh pendidikan strata S1 nya di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang.


Chandra bercerita, bahwa pada tahun 2010 silam ia berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan jenjang S1 nya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jurusan Teknik Sipil.


Namun karena ada saran dari keluarganya, ia akhirnya juga mendaftar melalui jalur SNMPTN di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang jurusan Ilmu Pemerintahan. Hingga akhirnya ia diterima dikedua kampus ternama di malang tersebut.


“Karena berasal dari IPS, dan takut ambil resiko gak bisa mngikuti pelajaran berbasis IPA, maka mengambil yang di UB,” ujarnya.


Keputusannya memutuskan kuliah di Unibraw tak sia-sia, walau saat itu ia harus membayar uang gedung sebesar Rp 6.000.000, namun ia cukup bersukur lantaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) hanya dikenai Rp 100.000.


“Karena Ibu dan ayah saya tidak bekerja, sementara kakak dua orang saja yang PNS golongan bawah,” ungkapnya.


Namun malang menimpa Chandra, pada tahun 2012 saat ia menginjak semester tiga ia harus merasakan tulang bahunya patah setelah ia mengalami kecelakaan. Kejadian itu membuatnya harus meninggalkan kuliah dan beberapa ujian saat itu.


“Akhirnya semester saya telat, dan harus mengulang banyak mata kuliah,” katanya.


Cobaan demi cobaan terus menimpa Chandra, pada tahun 2014 lalu, ia berhasil menyelesaikan sidang proposal penelitiannya. Namun penelitian yang ia lakukan di kampung halamannya di Jl. Semangka, gang Tenguyun, Kab. Bulungan Kalimantan Utara tersebut, harus terkendala, lantaran ia tak punya cukup biaya untuk melanjutkan penelitiannya tersebut.


“Penelitian saya di kampung halaman, ya itu Kalimantan Utara. Sementara saya kuliah di Malang lumayan butuh biaya buat pulang dan kembali,” keluhnya.


Namun begitu, ia harus kembali merasakan pahitnya pendidikan, dimana ia harus mengganti teori yang digunakan lantaran salah satu dosen yang tidak hadir saat ujian proposal penelitiannya tersebut menolak teori yang digunakan Chandra.


“Nah otomatis saya harus turun lapangan lagi ketika ganti teori, karena saat penelitian panduan saya adalah teori,” ucapnya.


Bersamaan dengan itu, ibunya di kampung halamannya sedang mengalami sakit Diabetes, dan saat itu saudara-saudaranya mulai mewanti-wanti Chandra agar menghemat pengeluarannya.


“Jadi saya nggak berani minta untuk penelitian ulang skripsi saya,” ungkap Chandra


Ditengah kesulitan ekonomi keluarganya, membuat Chandra harus memutar otak untuk mengatasi masalahnya tersebut. Hingga akhirnya ia bersama dengan beberapa temannya membuka Cafe dengan modal dari hasil tabungannya.


“Dan Cafe itu pun gagal karena ada salah satu partner yang melanggar kesepakatan,” katanya


Tak berhenti disitu, Chandra harus memutar otak kembali agar bisa melanjutkan penelitiannya tersebut. Namun masih sama, Chandra tak dapat menemukan solusi terkait hal itu, hingga satu-satunya cara adalah dengan melakukan konsultasi terhadap sekretaris jurusannya.


Setelah melakukan konsultasi kepada sakretaris jurusannya, akhirnya Chandra menemukan solusi, yaitu dengan mengganti dosen pembimbingnya, agar teori dan judulnya masih sama dengan yang dulu.


“Dan buat ganti dosen harus nunggu satu semester, dan saat ploting dapat dosen pembimbing yang sama sehingga masalahnya pun sama,” ungkapnya.


Kejadian tersebut harus dijalani dengan menunggu hingga satu semester lagi untuk yang kedua kalinya, agar dapat mengganti dosen pembimbing. Hingga akhirnya pada 2015 ia mendapat dosen pembimbing yang berbeda.


“Disitu baru mulai bisa nulis skripsi dengan data-data yang telah ada sebelumnya tanpa penelitian ulang,” cetusnya.


Namun malang, Chandra harus menerima kenyataan, saat ia diberi kabar saudaranya bahwa ibundanya telah meninggal dunia. Hingga akhirnya saudaranya membiayainya untuk dapat pulang ke kampung halaman.


Setelah masalah itu selesai, anak terakhir dari tujuh bersaudara tersebut dapat kembali melanjutkan penelitian skripsinya, namun lagi-lagi Chandra harus merasakan kerasnya hidup lantaran saudara-saudaranya berhenti membiayai kuliah dan biaya hidupnya di Malang.


“Sehingga kebingungan mau bayar kos dari mana, buat makan dari mana, biaya skripsi dari mana, akhirnya kembali kerja sehingga tertundalah skripsi selama satu tahun,” tuturnya


Beruntung, ibu kosnya memberi keringanan pada Chandra untuk membayar kosnya setelah ia mendapat sebuah pekerjaan. Tak hanya itu, ia juga diangkat sebagai anak oleh pemilik kos.


“Akhirnya saya lanjut lagi skripsi pada 2016 agustus, butuh delapan bulan buat meyelesaikan skripsi, soalnya harus kerja sambilan buat biaya makan di Malang karena gak ada biaya,” ungkap pria berkacamata itu.


Lagi-lagi Chandra harus menerima kenyataan, lantaran ayahnya meninggal dunia, dan malang, Chandra tak dapat pulang ke kampung halamannya lantaran tak punya biaya, untuk meminta biaya pada saudaranya ia merasa tidak enak dan khawatir akan merepotkan saudaranya.


“Sehingga harus baca yasin saja sendiri di kosan sambil minta maaf sama ayah gak bisa cium kaki jenazahnya,” ujarnya


Hingga akhirnya Chandra dapat menyelesaikan skripsinya tersebut pada tahun 2017 dan siap untuk diujikan sambil lalu menyelesaikan administrasinya. Namun begitu, saat hendak melakukan ujian, ia diharuskan membayar uang sebesar 400.000 rupiah, dan lagi-lagi ia harus menunda sidang skripsinya sembari mencari pijaman uang untuk biaya tersebut.


“Dan alhamdulilah banyak yang mau meminjamkan. Sampai akhirnya juni 2017 saya ujian,” ungkapnya.


Masalah tidak berhenti disitu, walau ia berhasil lulus dengan revisi, namun ia harus menyertakan surat pengantar instansi tempat penelitiannya, sebagai bukti bahwa ia benar-benar melakukan penelitian.


“Sehingga harus menuggu lama buat dapat surat pengantar tersebut, karena penelitian ini sudah lama sekali sehingga instansi harus menyesuaikan tanggal dan kop surat,” katanya.


Tak hanya itu, untuk cetak hasil skripsinya ia harus meminjam uang pada teman-temannya, bahkan saat hendak wisudapun lagi-lagi ia kesulitan untuk membiayainya.


“Alhamdulillah Allah masih sayang dan terus mengalirkan rizkinya walaupun saya sering membangkang dalam ibadah kepada Allah, sampai akhirnya daftar wisuda dan muncul tanggal wisuda 11 November 2017 kemarin,” ungkapnya.


Wisuda yang seharusnya menjadi momen yang membahagiakan bagi kalangan mahasiswa tersebut, tidak dirasakan Chandra, lantaran saudaranya-saudaranya tak dapat hadir di momen wisudanya, sedang kedua orang tuanya telah tiada.


“Sehingga harus sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri yang rela meluangkan waktu untuk mendampingi menjadi wali,” pungkas Chandra. (Faris)

2 comments:

  1. Terimakasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat bagi masyarakat.

    ReplyDelete