Nur Syam; Jangan Jadi Indonesia Lawak Club - Araaita.com

Breaking News

Friday, 3 November 2017

Nur Syam; Jangan Jadi Indonesia Lawak Club

doc. Ning/Arta
Araita.com - Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia (Sekjen Kemenag RI)  Nur Syam hadir sebagai narasumber dalam kuliah umum di  Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya (3/11). Dan turut juga dihadiri oleh rektor UINSA Abdul A'la serta guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UINSA, Achmad Muzakki.

Acara yang berlangsung di gedung Twin Tower lantai 3 tersebut diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Dengan tema 'Perspektif Sosiologi Tentang Perkembangan Relasi Agama dan Politik di Indonesia'.

Acara tersebut diselenggarakan guna mempersiapkan Indonesia khususnya rektor universitas se-Indonesia dalam menghadapi politik di tahun 2018. Sebab pada tahun tersebut diprediksi akan ada kesenjangan politik.

Menurut Sekjen kemenag RI menyampaikan bahwa kesenjangan sosial di Indonesia berada di peringkat ke-4  dengan ratio 0.39. Sedang 1% orang kaya di Indonesia menguasai 49.3 % kekayaan nasional.

"Masih unggul daripada Rusia, India, dan Thailand. Sedang di tahun 2016 garis kemiskinan per kapita sebanyak Rp 354.386 atau sekitar $ 25," jelasnya.

Kembali menambahkan bahwa hubungan antar negara juga harus dijaga. Sebab, terpecah belahnya negara Indonesia terutama karena disebabkan oleh agama. Adapun kerukunan umat beragama dapat terjalin lantaran oleh tiga hal, yaitu kesetaraan, toleransi, dan kerja sama. "Kita bisa bertoleransi tapi tidak untuk kerja sama,"  jelasnya.

Disamping itu, ia juga menjelaskan banyak masyarakat saat ini yang hanya bisa protes. Namun, tidak memberi solusi.

"Jangan menjadi Indonesia Lawak Club menanggapi masalah tanpa solusi," ucapnya.

Di penghujung acara ia menyampaikan kepada seluruh mahasiswa bahwa menjadi sosok pemimpin yang baik yaitu pemimpin yang berpegang teguh pada pancasila. Bahkan negara tidak dapat dipisahkan dengan agama.

"Pancasila didalamnya terdapat unsur-unsur ketuhanan Oleh karena itu negara juga membutuhkan  agama sebagai basis moralitas. Agama juga membutuhkan negara. Sebab, agama butuh berkembang atau dapat disebut dengan simbiosis mutualisme atau saling membutuhkan," pungkasnya. (Ning)

No comments:

Post a Comment