Pelangi Pun Kan Nampak, Hanya Jika Hujan Turun - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 8 November 2017

Pelangi Pun Kan Nampak, Hanya Jika Hujan Turun

 
doc. Repro Internet
Beberapa orang dari berjuta-juta manusia di bumi menganggap bahwa hujan adalah hal yang mungkin menyebalkan. Banyak aktifitas yang harus dihentikan saat hujan itu turun. Namun tidak bagi diriku, hujan adalah fenomena yang Tuhan ciptakan untuk membuat manusia bersyukur disetiap tetesannya. Apakah kamu tau apa yang lebih indah dari hujan? Bagiku adalah pelangi.

Langit tampak mulai membiru dan memunculkan sang fajar diufuk timur, namun selimut masih enggan kubuka. Sayangnya, aku harus mengalah dengan alarm yang selalu mengangguku untuk bersiap mandi dan berangkat ke kampus. Menurutku kuliah adalah rutinitas yang membosankan jika dibandingkan dengan melihat hujan turun di samping jendela dan membayangkan sesuatu yang indah dimasa depan.

"Sukses itu bukan ditunggu dan dibayangkan, tapi dikejar!," itulah salah satu ungkapan dari beberapa teman sekampusku saat berkomentar atas perkataanku. Hal itu tidak membuatku lantas membenci mereka, mungkin mereka belum tau saja bahwa tidak ada jaminan seseorang yang mengejar kesuksesan akan menjadi sukses. Alangkah lebih baik menunggu sukses itu dari pada mengejarnya dengan susah payah. Jika hujan adalah proses sukses dan pelangi diibaratkan sebagai kesuksesan, bukankah sebaiknya kita menunggu hujan itu reda sampai kita dapat melihat pelangi. Namun, jika memang menunggu tidak menjadikan seseorang sukses bukankah sama saja dengan mengejar kesuksesan tapi belum tentu sukses. Beberapa argumen itu pun muncul difikiranku sebagai bentuk ketidaksukaanku kepada perkataan mereka.

Sore ini hujan turun dengan derasnya, beruntung aku sudah berada di cafe depan kampusku. Seperti biasa, aku duduk di samping jendela dengan aerphone yang mengalunkan lagu yang bernada lembut dan secangkir cappucino panas yang sudah tersaji dimejaku. Mataku masih setia memandangi bagaimana tuhan menciptakan hujan hari ini, tanpa kusadari fikiranku kembali terngiang perkataan teman-temanku.

Jarum jam sudah bertengger di angka lima, sayangnya hujan tidak mau menjauh dari tempatku berpijak. Tiba-tiba mataku tertuju pada meja di depanku, dua orang paruh baya sedang berbicara tentang pengalamannya hingga dirinya sukses. Diam-dam aku menyimak perkataan mereka berdua. "Kalau kamu mau sukses, sekolah yang tinggi. Orang yang sekolahnya tinggi banyak yang sukses," lagi-lagi aku tertawa sinis mendengarnya. Aku pun tak memperdulikan lagi perbincangan mereka berdua yang menurutku sudah sangat tidak menarik lagi.

Hujan pun perlahan mereda, aktfitas pejalan kaki mulai terlihat. Banyak mahasiswa yang hilir mudik entah untuk kekampus, kembali ke kos mereka, ataupun pergi ke cafe ini. Aku pun mendekati meja kasir untuk membayar cappucino panas yang sudah ku pesan dan beranjak pergi meninggal cafe.

Di tenggah perjalananku menuju rumah, aku masih memikirkan percakapan dua orang paruh baya tadi. jika kesuksesan dipandang dari pendidikannya, lantas bagaimana Bob Sadino menjadi sukses walaupun dia hanya lulusan sekolah dasar?.

Sesampainya di rumah, aku pun menceritakan semua hal yang terjadi hari ini kepada ibuku. Dengan nada pelan dan penuh kasih sayang, tangan ibuku bergerak membelai rambut hitamku dan berkata dengan tenang. “Anakku, Jika hujan kamu ibaratkan proses dan pelangi adalah kesuksesan lantas apakah kamu harus menunggu? Bukankah lebih baik kamu merasakan bagaimana hujan itu menyentuh tubuhmu bukan menghayalkan bagaimana rasanya hujan? Sama halnya kamu melihat pelangi anakku. Jika pelangi pasti datang setelah hujan, apakah kamu hanya akan melihatnya di balik kaca cendela? Atau keluar rumah agar terlihat lebih indah? Atau mungkin karena kamu di dalam rumah dan tidak berada di samping jendela, lantas dapatkah kamu melihatnya? Ingatlah anakku, cara seseorang meraih kesuksesan itu berbeda-beda, kamu boleh memilih caramu sendiri tapi bukan berarti kamu menganggap cara orang lain itu tidaklah benar ”.

Aku pun tersadar, setiap pemikiran seseorang terhadap suatu hal pastinya berbeda-beda. Setiap manusia memiliki cara tersendiri untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Seperti halnya cara seseorang dalam menikmati hujan itu datang hingga melihat pelangi yang indah muncul.



Oleh: Ismatul Nazza
*Penulis adalah Mahasiswi Semester III Manajemen Dakwah
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment