Puisi Raedu Basha untuk Kiai (Non) Layar Kaca - Araaita.com

Breaking News

Friday, 10 November 2017

Puisi Raedu Basha untuk Kiai (Non) Layar Kaca

doc. Tyas/arta


Araaita.com- Komunitas Baca Rakyat (KOBAR) adakan acara bedah buku dan seminar secara gratis untuk khalayak umum terlebih seluruh mahasiswa UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Buku yang dibedah dalam seminar ini merupakan buku puisi milik Raedu Basha dengan judul Hadra Kiai, buku yang mendapat penghargaan diperingatan Hari Puisi Indonesia tahun 2017.

Acara yang dilaksanakan di gedung twin tower lantai sembilan itu mendatangkan tiga pemateri diantaranya Raedu Basha sebagai pembicara utama, M. Faizi dan rektor UINSA Abd A’la yang hari ini berhalangan hadir karena sedang berada di India.

Buku yang terbit September 2017 ini menceritakan tentang manakib atau cerita seorang ulama (kiai) dalam bentuk puisi. Menurut Raedu Basha buku ini merupakan buku pertama yang mengangkat biografi atau riwayat para ulama berbentuk puisi, kiai yang diangkat dalam buku Hadra Kiai ini merupakan kiai yang tidak pernah tampil di layar kaca (televisi, red).

Raedu menjelaskan alasannya menulis biografi dalam bentuk puisi ini karena beberapa tahun terakhir ia tengah merasa gelisah pikiran. Ia gundah lantaran sering munculnya kiai-kiai yang lucu dan islam-islam lucu di layar kaca. Di tambah ia sedikit tertantang karena belum ada penulis puisi yang menggunakan metode atau mengangkat tema kiai Indonesia dalam konsep puisi.

“Saya merasa kiai diluaran sana itu tidak sama yang saya alami dan temui ketika di pesantren, tidak selucu itu ustadz yang ada di pesantren, gangguan itu lah yang membuat saya beranjak menulis biografi puisi dalam buku Hadra Kiai ini,” ujar Raedu Basha dengan tersenyum.

Raedu Basha pun menekankan agar pembaca bisa mengenali kiai-kiai yang berada dikampung maupun di beranda mushola. Karena menurutya mereka lah yang sebenarnya benar-benar berjuang untuk menjadikan muslim Indonesia yang mumpuni.

“Kiai yang  tidak pernah nongol di tv, merekalah  sebenarnya yang benar-benar berjuang, tidak ada iklan dan merekalah yang harus kita kenali,” tambahnya ketika ditemui crew araiata.com.

Sebagai pembanding, M. Faizi mengungkapkan bahwa puisi-puisi Raedu banyak berbentuk gurindam. Hal itupun diakui oleh Raedu tanda sepakat dengan komentar penulis buku Celoteh Jalanan itu.

 “Saya akui memang tulisan saya ada yang berbentuk gurindam, bahkan sampai ada yang saya enggak  tau bentuknya,” aku Reudu.

Pria yang sedang menyusun buku bertema ulama perempuan Indonesia itu membagikan kiat-kiat menulisnya. Bahwa ketika seseorang berniat menulis, maka terlebih dahulu ia harus menguasai tema yang diangkat. Sebagaimana prinsipnya bahwa ia tidak akan menulis apa yang belum ia pahami.

“Saya mengendapkan karya-karya itu beberapa lama tidak langsung tulis, jadi saya bawa jalan-jalan, ngopi, intinya harus menikmati, karena saya enggak bisa buat deadline, memang buku ini sesuai mood,” ungkapnya. (Yas)

No comments:

Post a Comment